alexametrics

Asyiknya Belajar Membaca dan Menulis dengan Pohon Kata

Oleh : Nunik Damayanti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID,Bagi sebagian orang, mengajar di kelas 1 SD sangat sulit. Karena guru dituntut memiliki tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Siswa kelas 1 SD memang masih terpengaruh dengan suasana rumah, masih suka bermain, serta sulit untuk diajak berkonsentrasi. Akibatnya pembelajaran enderung gagal karena tidak terapai tujuan pembelajarannya.

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai anak kelas 1 SD adalah membaca dan menulis. Padahal tidak semua anak yang masuk SD sudah bisa membaca dan menulis. Guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan minat siswa, bervariasi dan dibuat menarik.
Selain itu, mengajarnya juga tidak sekaligus, tetapi bertahap. Abdul Jalil, Zuleha, & Kusnandar (2005:7) mendefinisikan dengan suatu proses membina peserta didik dimulai dari pengenalan huruf sebagai lambang bahasa, kemudian bila peserta didik pahami bisa dilanjutkan dengan pemahaman terhadap isi bacaan.

Untuk itu penulis sebagai guru kelas 1 SD Negeri 04 Beji, menerapkan pembelajaran membaca dan menulis dengan bertahap, serta menggunakan alat pembelajaran. Hal ini sesuai dengan penjelasan Andang Ismail (2006:173) bahwa alat permainan edukatif adalah serangkaian alat yang digunakan anak, orang tua, maupun guru dalam meningkatkan fungsi intelegensi, emosi, dan spiritual anak, sehingga muncul kecerdasan.

Baca juga:  Benarkah Gadget Menggantikan Iman?

Alat pembelajaran yang digunakan adalah pohon kata. Mengapa guru menggunakan pohon kata, sebab mengandung nilai pendidikan, menarik bentuk dan warnanya, serta aman digunakan. Bahan yang digunakannya pun murah dan mudah didapatkan. Yaitu kertas manila, spidol, krayon, dan pensil. cara mempraktikkannya juga mudah. Mula-mula guru menggambar pohon, lengkap dengan ranting dan daunnya. Supaya menarik, gambar pohon tersebut diberi warna dengan krayon. Di setiap ranting, ditulis kata sesuai tema yang akan diajarkan. Jumlah ranting digambar sebanyak kata yang akan ditulis. Di daun ditulis huruf dari kata yang ada di ranting. Jumlah daun digambar sebanyak huruf dari kata yang ada di ranting.

Misalkan guru akan menjelaskan kalimat pujian “kamu memang anak yang pandai”. Berarti di pohon tersebut ada 5 ranting. Ranting pertama ditulis kata “kamu” dan ada 4 daun yang tiap daunnya ditulis huruf k, a, m, u. Ranting kedua ditulis kata “memang” dan daunnya ditulis huruf m, e, m, a, n, g. Ranting ketiga ditulis kata “anak” dan daunnya ditulis huruf a, n, a, k. Ranting keempat ditulis kata “yang” dan daunnya ditulis huruf y, a, n, g. Ranting kelima ditulis kata “pandai” dan daunnya ditulis huruf p, a, n, d, a,i. Guru memberi contoh membaca kata yang ada di ranting, kemudian siswa menirukan. Setelah itu siswa diminta menyebutkan huruf-huruf yang ada di ranting tersebut. Selanjutnya siswa maju satu per satu untuk membaca kata-kata yang ada diranting, dan menyebutkan huruf-hurufnya yang ada di daun. Pembelajaran seperti ini efektif membuat siswa mengingat huruf karena menggunakan cerita dan penjelasan yang menarik dari guru.
Pada kegiatan penutup guru menyimpulkan dan menuliskan kalimat pujian. Kemudian siswa diajak membuat kalimat pujian yang lain. Sebagai penugasan siswa diminta menuliskan kalimat pujian yang sudah dicontohkan tadi, dengan dibimbing guru.

Baca juga:  Guru SD Terima Vaksin Dosis Kedua

Yang dihasilkan dalam tahap ini adalah pembelajaran membuat kalimat pujian untuk kelas 1 SDN 04 Beji dengan menggunakan media pohon kata. Siswa sangat aktif dalam pembelajaran. Guru menanyakan perasaan siswa sesudah pembelajaran. Ada yang menjawab senang karena sudah bisa membaca dan menulis dan ada yang menjawab sedih karena belum bisa membaca. Mereka benar-benar menikmati pelajaran. (agu2/lis)

Guru SD Negeri 04 Beji, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya