alexametrics

Pemanfaatan Lampu Ultraviolet dalam Praktikum IPA untuk Mendeteksi Zat Pewarna Aditif Makanan

Oleh : Retnowati

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Lampu ultraviolet (UV) sudah tidak asing lagi bagi kita. Lampu UV digunakan oleh kasir untuk mendeteksi keaslian dari uang yang diterima dari para konsumen agar tidak merugikan bagi para produsen atau penjual/pengusaha. Sebetulnya lampu UV juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan praktik IPA khususnya di kelas 8 dengan materi mengenai zat aditif makanan.

Pada materi ini disajikan konsep kimia yang tidak terpisah dari kehidupan nyata siswa sehingga siswa menyadari kimia berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka dapat menemukan kimia dalam berbagai bidang kehidupan manusia, barang-barang yang mereka gunakan dan peristiwa yang mereka alami. Materi zat aditif makanan juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memilah makanan dikehidupan sehari-hari.

Menurut pengertian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM), zat aditif makanan atau bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, baik yang mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi. Zat aditif makanan diberikan untuk meningkatkan kualitas, menambah rasa dan memantapkan kesegaran produk makanan. Penggunaan zat aditif makanan telah dilakukan sejak zaman dahulu. Contohnya penggunaan garam sebagai zat aditif pada proses pengawetan ikan yang telah dilakukan sejak 3500 tahun sebelum Masehi di daerah Mediterania.

Baca juga:  Belajar Konsep Reduksi - Oksidasi secara Mandiri dengan Chemondro Redoks

Salah satu bagian dari zat aditif makanan adalah bahan pewarna. Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampilan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan memiliki beberapa tujuan di antaranya memberi kesan menarik, menyeragamkan dan menyetabilkan warna. Serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan. Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi pewarna alami dan pewarna buatan (sintesis). Pewarna tersebut biasanya digunakan untuk mewarnai berbagai jenis makanan dan minuman dengan tujuan supaya lebih menarik.

Pewarna alami dan buatan masih aman untuk digunakan. Akan tetapi terkadang terjadi penyalahgunaan pewarna. Yaitu pewarna tekstil yang digunakan untuk mewarnai makanan. Hal ini tentu sangat membahayakan konsumen karena bersifat karsinogenik dan bisa menyebabkan hiperaktif, gangguan perhatian, gangguan fungsi hati dan kanker. Zat pewarna tekstil Seperti auramine, basic yellow 2, butter yellow, burn umber, rhodamine B, fast red E, metanil yellow, chocolate brown FB dan guinea freen B. Ciri penggunaan pewarna tekstil pada makanan yaitu mempunyai warna yang mencolok. Untuk membuktikan adanya pewarna tekstil pada makanan, para siswa bisa diajak mengadakan pengamatan di warung atau kantin sekolah.

Baca juga:  Menjadi Sumber Inspirasi di Masa Pandemi

Para siswa bisa mengambil beberapa sampel makanan yang mengandung pewarna. Di sini bisa digunakan pengamatan secara sederhana menggunakan lampu sinar ultraviolet (lampu yang digunakan untuk mengecek uang asli atau palsu) untuk membuktikanya. Dengan cara makanan tersebut diletakkan di bawah sinar lampu, jika warna pada makanan tersebut terlihat mencolok maka makanan tersebut menggunakan pewarna tekstil. Dengan percobaan seperti ini siswa bisa secara langsung melihat sendiri dengan jelas tanpa membayangkan. Siswa lebih paham dengan pengamatan secara langsung dan merupakan satu hal yang menarik bagi siswa untuk memberikan motivasi belajarnya.

Dengan penerapan metode pengamatan atau praktikum dalam pembelajaran, maka didapatkan hasil belajar yang baik pada siswa. Di antaranya siswa menjadi lebih aktif, termotivasi dan lebih bersemangat. Siswa terjun langsung melakukan pengamatan, membuktikan, memahami menyerap dan mengamati. Di samping itu siswa sendiri bisa menemukan masalah, melakukan sendiri dengan mengalami sendiri siswa akan lebih yakin akan suatu hal dapat memperkaya pengalaman serta mengembangkan sikap ilmiah. (ss1/lis)

Baca juga:  Pembelajaran Daring dan Karakter Peserta Didik

Guru SMP Negeri 1 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya