alexametrics

Dengan Kartu Soal Belajar Matematika Menjadi Lebih Menarik

Oleh : Ati Widiastuti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) menitikberatkan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kemampuan ini merupakan modal yang sangat mendasar untuk proses belajar selanjutnya. Matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antarbilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990 : 566).

Melalui pembelajaran matematika diharapkan siswa memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengalaman dan pengamatan permasalahan umum yang dijumpai ternyata siswa banyak yang mengalami kesulitan. Di antaranya dalam pengerjaan hitung campuran, menyelesaikan masalah suku yang belum diketahui, pengerjaan pecahan, serta pengerjaan soal cerita.

Soal cerita dalam matematika yang berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari disajikan dalam bentuk uraian. Agar guru dapat menyajikan suatu proses pembelajaran dalam soal cerita, pertama guru dituntut untuk dapat menyelesaikan soal cerita itu lewat pemodelan matematika untuk dirinya sendiri.

Baca juga:  Mengasah Bakat Siswa Membuat Patung dengan Bahan Alam

Ini berarti guru telah menguasai dan memahami soal cerita tersebut. Masalahnya sekarang adalah bagaimana membangun suatu proses pembelajaran soal cerita untuk siswa sekolah dasar. Perlu diingat bahwa guru hanya sebagai fasilitator. Ini berarti guru harus dapat memberikan fasilitas kepada siswa berupa seperangkat pertanyaan yang mewakili rantai kognitif.
Berkaitan dengan usia peserta didik SD yang berkisar 6 atau 7 tahun sampai dengan 12 tahun, apabila kita lihat dengan pendapat Piaget mereka berada pada tahap operasi konkret atau pada fase simbolik menurut Bruner. Perilaku kognitif pada tahap ini adalah tampak pada kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika walau masih terikat dengan objek yang bersifat konkret.
Padahal matematika merupakan ilmu deduktif dan abstrak sehingga terdapat kesenjangan. Untuk mengatasi hal itu diperlukan strategi pembelajaran, metode dan media yang cocok untuk pembelajaran matematika agar peserta didik dapat memahami konsep yang disampaikan. Guru SD harus berusaha mengurangi sifat abstrak dari objek matematika agar peserta didik lebih mudah dalam menangkap pelajaran matematika.

Baca juga:  Kepala Sekolah Memotivasi Guru untuk Menulis

Menurut Ngalim Purwanto (1997), dalam bermain juga terjadi proses belajar. Persamaannya ialah bahwa dalam belajar dan bermain keduanya terjadi perubahan, yang dapat mengubah tingkah laku, sikap dan pengalaman. Salah satu upaya guru merangsang pengembangan potensi siswa agar aktif dan memperoleh hasil belajar yang optimal, dalam penelitian ini ditawarkan metode diskusi dengan bermain kartu soal. Yakni metode pembelajaran dengan permainan kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang disusun oleh siswa sendiri/grup/guru secara bersama.
Hasil belajar siswa yang dibimbing oleh temannya dengan pengarahan dari guru tidak kalah baik. Bahkan menurut pengamatan hasil belajar siswa yang membimbing sendiri pun juga naik akibat mereka melaksanakan tugas sebagai pembimbing.

Baca juga:  Pembelajaran Kreatif dan Inovatif di Tengah Pandemi

Kegiatan dalam pembelajaran dengan metode ini antara lain siswa dibagi beberapa kelompok. Tiap siswa diberi kartu soal untuk menuliskan soal cerita sesuai materi. Kartu yang telah ditulis soal dikumpulkan pada guru. Kartu dikocok dan dibagikan secara acak pada masing-masing kelompok. Setiap kelompok memecahkan soal yang diterima secara bersama-sama. Kemudian pembahasan atas tugas kelompok.
Hasil belajar siswa yang dibimbing oleh temannya dengan pengarahan dari guru tidak kalah baik. Bahkan menurut pengamatan hasil belajar siswa yang membimbing sendiri pun naik akibat mereka melaksanakan tugas sebagai pembimbing.

Dengan menerapkan metode bermain kartu tersebut, hasil belajar siswa meningkat, suasana KBM menarik. Siswa lebih percaya diri mengemukakan pendapat dan terjalin komunikasi yang positif sehingga mempermudah mengatasi kesulitan dalam belajar. (ss1/lis)

Guru SDN Bakalan, Kec. Kandeman, Kabupaten Batang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya