alexametrics

Tantangan dan Hikmah Pembelajaran Daring

Oleh: Widodo, M.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sebagian berpendapat pandemi Covid-19 mengganggu proses pembelajaran secara offline atau tatap muka. Solusinya diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ tidak selalu berjalan mulus dan beresiko serius. Itupun diakui oleh Mas Menteri, PJJ tidak cukup efektif untuk jangka panjang. Nadiem mengkhawatirkan adanya generasi dengan learning loss karena penurunan capaian belajar. Hal itu disampaikan Nadiem dalam konferensi pers yang ditayangkan akun YouTube Kemendikbud, Jumat (7/8/2020).

PJJ menghadapi sejumlah persoalan karena wabah datang mendadak. Menurut catatan penulis, 16 Maret 2020, semua dihentikan. Lalu, jaringan internet, belum adanya pelatihan, hingga kesadaran sebagian guru dan siswa yang rendah menjadi tantangan terbesar. Ada guru yang enggan mengubah paradigma pembelajarannya, alias menolak daring. Juga siswa tampak meragukan manfaat pembelajaran daring, kurangnya interaksi, pengumpulan tugas yang tidak maksimal, juga perasaan yang tidak nyaman.

PJJ membutuhkan telepon seluler dengan spesifikasi tertentu, disebut smartphone atau gawai. Ponsel jadul kadang terkendala kapasitas memori dan aplikasi. Penyediaan kuota internet sempat menjadi kendala. Tidak semua mampu membeli kuota internet. Padahal kuota yang dibutuhkan tidak sedikit. Belum lagi perekonomian sedang susah karena orang tua yang bekerja di pabrik atau sektor tertentu harus di PHK atau dirumahkan. Solusinya, akhir September 2020, Kemendikbud meluncurkan bantuan bantuan kuota data internet. Selain dukungan tersebut berupa penyediaan kuota gratis, relaksasi BOS dan BOP yang bisa digunakan untuk kuota siswa. Juga merespons berbagai kritik mengenai berbagai macam daerah yang tidak punya akses internet, dan meluncurkan belajar dari rumah di TVRI dan RRI, dan tentunya mengoptimalkan rumah belajar, platform pembelajaran daring seperti ruangguru.com atau kalau Jawa Tengah ada Kelas Jateng dan Jateng Pintar beserta berbagai macam mitra lainnya.

Baca juga:  Efektivitas Kombinasi Pembelajaran Daring-Luring di Masa Pandemi

Tantang sarana prasarana sekolah juga terjadi. Ada daerah yang kuat sinyal internet, lemah sinyal dan tidak ada sama sekali sinyal internetnya. Baik guru maupun siswa harus terlebih dahulu mencari sinyal internet. Orang tua tak mau tinggal diam, mereka memesan layanan internet berbayar seperti Indihome. Ya boleh dibilang, pasang wifi, lalu dengan iuran dan adapula sukarela disalurkan sinyalnya ke tetangga sekitar.

Sejauh pengamatan kami, Telkom terus memonitor dan melakukan perbaikan jaringan guna menghindari adanya gangguan layanan. Telkom juga melakukan penambahan bandwidth di beberapa jalur dengan trafik telekomunikasi yang cukup padat guna menghindari ketidaknyamanan pada akses internet pelanggan. Dulu daerah yang sulit sinyal, kini sudah makin terjangkau.

Baca juga:  Optimalisasi Pembelajaran Daring Masa Pandemi melalui Aplikasi EDMODO

Pembelajaran tatap muka yang menghadirkan guru dan siswa secara langsung saja belum bisa memastikan keberhasilan belajar secara kuantitas maupun kualitas. Apalagi dengan daring, dimana siswa dan guru tak bisa mengamati perubahan perilaku. Dan yang paling serius, bagi siswa, banyak sekali yang mengalami kesulitan konsentrasi, dan rasa berat sekali beban karena banyak sekali penugasan dari guru guna untuk menuntaskan kurikulumnya. Kurangnya pengawasan membuat siswa kadang kehilangan fokus. Dengan adanya kemudahan akses, beberapa siswa cenderung menunda-nunda waktu belajar, menunda mengerjakan dan mengirim tugas. Perlu kesadaran diri sendiri agar proses pembelajaran daring menjadi terarah dan mencapai tujuan.

Metode belajar yang variatif ketimbang anak hanya berada di dalam kelas, kini mereka lebih fleksibel belajar dari rumah. Anak-anak yang pada dasarnya sudah punya semangat belajar yang tinggi, mereka menggunakan ragam sumber belajar, bahkan membuat beragam konten belajar yang kemudian di share ke teman-temannya.

Baca juga:  Tingkatkan Mutu Pendidikan di Madrasah dengan Kemandirian

Mau atau tidak, peserta didik pasti harus mengeksplorasi teknologi. Menumbuhkan kesadaran bahwa gawai bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif dan mencerdaskan, tidak hanya untuk bermain sosial media dan game. Yang biasanya smartphone hanya untuk chatting atau wahana game online, kini harus mengakses dan mengirim tugas secara daring, video vonference, dan menggunakan beragam aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom dan Microsoft 365. Mereka yang tak mau aktif dengan aplikasi yang ditentukan guru, akan tertinggal, tak bisa mengakses tugas, tak bisa mengirim tugas, dan walhasil tak memperoleh nilai.

Sebagian anak merasa nyaman belajar dari rumah karena tak ada yang merisak. Tak semua anak nyaman belajar secara kelas besar atau berkelompok. Ada anak yang senang belajar mandiri, mengerjakan tugas secara sendiri. Lebih-lebih pada anak yang idealis alias tak suka meniru jawaban orang lain.

Wabah ini memang harus dihadapi, selalu ada hikmah terhadap semua peristiwa. Semoga pandemi segera berakhir dan pembelajaran tatap muka segera dilakukan lagi. (agu1/aro)

Guru Informatika SMA Negeri 1 Toroh, Kab. Grobogan.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya