alexametrics

Membangun Toleransi di Kalangan Pelajar dalam Heterogenitas Indonesia

Oleh : Anik Idhayati, S. Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Radikalisme tidak hanya mempengaruhi orang dewasa, namun akhir-akhir ini pelajar mudah terhasut oleh idelogi radikalisme. Radikalisme telah masuk dan mempengaruhi beberapa sekolah. Ajaran radikalisme tersebut bisa berasal dari gurunya sendiri, keluarga maupun pergaulan pelajar.

Radikalisme ini identik ini dengan terorisme. Namun, secara luas radikalisme ini menganggap sesuatu yang berbeda dari dirinya adalah hal yang negatif sehingga perlu diperangi. Selain itu, radikalisme bisa identik dengan intoleransi. Padahal, kita hidup di Indonesia dengan beraneka ragam agama, suku, ras dan lain-lain.

Salah satu cara menangkal bahaya radikalisme adalah toleransi. Menurut Dimont, pengertian toleransi adalah sikap untuk mengakui perdamaian dan tidak menyimpan dari norma-norma yang diakui dan berlaku. Toleransi juga diartikan sebagai sikap menghormati dan menghargai setiap tindakan orang lain. Selain menghargai perbedaan, makna toleransi bisa diartikan menerima perbedaan. Membangun toleransi dimulai sejak anak-anak hingga dewasa. Pentingnya toleransi ini dalam rangka terwujudnya integritas sosial. Adanya kesadaran masing-masing pihak dalam membangun toleransi sangat diperlukan.

Baca juga:  Kenalkan Budaya Indonesia melalui Video Dokumenter

Pada tahun 2021, kota Salatiga meraih peringkat pertama kota tertoleran se-Indonesia. Kota Salatiga ini merupakan Indonesia mini. Beraneka ragam suku hidup dengan rukun di kota Salatiga. Oleh karena itu, sebagai guru PKn perlu mendukung dan mempertahankan predikat kota Salatiga sebagai kota tertoleran. Dalam pembelajaran PKn, toleransi termasuk dalam kompetensi inti sikap sosial. Penilaian sikap ini salah satunya adalah sikap toleransi yang dilakukan melalui observasi. Penilaian tidak hanya dilakukan di dalam kelas, namun bisa dilihat dari pergaulan peserta didik di luar kelas.

Langkah dalam membangun toleransi pada generasi muda antara lain, mengenalkan konsep toleransi, berteman dengan semua orang, menghilangkan etnosentrisme dan primodialisme, menghargai perbedaan dan lain-lain. Langkah tersebut tidak sekedar teoritis, namun perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Pembelajaran Sistem dan Dinamika Demokrasi melalui Model Pembelajaran CIRC

Mengenalkan konsep toleransi ini disampaikan melalui pembelajaran PKn. Kemudian sebagai guru menjadi role model bagi peserta didik. Guru pun perlu memberikan contoh sikap toleransi dalam berinteraksi kepada semua orang. Kemudian, mengajarkan peserta didik untuk berteman dengan semua orang. Dalam pertemanan tersebut, juga diperlukan kewaspadaan agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif. Setelah mengenalkan konsep toleransi, guru juga mengenalkan konsep etnosentrisme dan primodialisme. Etnosentrisme dan primodialisme harus kita hilangkan dalam bergaul kepada siapapun dengan tidak membanding-bandingkan karena pada dasarnya semua manusia itu sama.

Langkah selanjutnya adalah menghargai perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Dalam hal ini, peserta didik memahami perbedaan terlebih dahulu, kemudian baru menghargai atau menyikapi perbedaan. Peserta didik belajar melihat, merasa dan memahami perbedaan. Dengan perbedaan, kita mampu merasakan makna kebersamaan. Justru adanya perbedaan menambah kekayaan bangsa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari menghargai temannya yang sedang beribadah, menghargai pendapat yang berbeda, saling membantu dan lain-lain. Sikap pengendalian diri terhadap perbedaan ini termasuk hal yang pokok agar meminimalisasi terjadinya konflik.

Baca juga:  Mendalami Peluang Kejadian Majemuk melalui Media Microsoft TEAMS

Berbagai langkah dalam membangun toleransi di kalangan pelajar tidak hanya dilakukan oleh guru PKn, namun semua guru mata pelajaran maupun warga sekolah hingga stakeholder perlu menerapkan sikap toleransi. Membangun toleransi di kalangan pelajar dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang lama. Sebagai guru, tidak sekadar ceramah dalam anjuran untuk toleransi, tetapi perlu adanya gerakan dalam membangun sikap toleransi, seperti sekolah ramah anak. Dengan membangun toleransi di kalangan pelajar, maka kehidupan yang damai akan terwujud dalam heterogenitas Indonesia. (bs1/lis)

Guru PKn SMA Negeri 3 Salatiga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya