alexametrics

Mendalami Perpindahan Kalor melalui Make a Match

Oleh: Heri Harsoyo, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN merupakan kebutuhan pokok setiap manusia yang harus di penuhi sejak usia balita, bahkan dari kandungan sampai meninggal dunia. Pendidikan kepada anak diberikan melalui berbagai pembelajaran baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Unsur terkecil dalam dunia pendidikan terutama dilingkungan sekolah adalah proses pembelajaran didalam kelas dan sekitarnya. Proses pembelajaran akan memunculkan banyak interaksi dan hubungan sosial. Setiap siswa mengharapkan interaksi kelas disajikan dalam bentuk yang menarik, menyenangkan dan menggembirakan. Penyajian interaksi sosial dalam bentuk proses pembelajaran akan menhilangkan perasaan bosan, lelah dan penat pada diri anak saat mengikuti proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang ideal tersebut dapat diciptakan jika keinginan dan kemauan kuat dari guru punya upaya meningkatkan kualitas proses pembelajarannya. Minat siswa akan mengikuti proses pembelajaran meningkat, ketika guru mampu menampilkan proses pembelajaran yang proporsional dan ideal.

Baca juga:  Mengurutkan Pecahan Asyik dengan Media Buah Apel

Guru harus mampu menentukan model pembelajaran yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari permasalahan ini. Guru diharapkan memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran, yang didalamnya termaktub model pembelajaran sudah matang. Siswa dilibatkan sepenuhnya pada proses pembelajaran merupakan satu keharusan dalam model pembelajaran pada era revolusi industri 4.0. Guru sebagai manajer dalam sebuah komunitas siswa yang mendiskusikan materi pembelajaran akan dapat melatih siswa memegang tanggung jawabnya. Pembelajaran yang kooperatif dimana siswa berdiskusi, berkreasi, berinovasi dan berimajinasi membuat siswa akan berkembang dengan pesat.

Model pembelajaran kooperatif yang tepat telah dimanfaatkan oleh penulis selaku guru di SDN 02 Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dikelas lima pada kompetensi dasar menerapkan konsep perpindahan kalor dalam kehidupan sehari-hari adalah model Make a Match. Make a Match adalah satu model pembelajaran yang bernuansa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Keesaan Allah dengan Metode Guided Inquiry

Model pembelajaran make a match atau biasa disebut mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Suyatno (2009: 72) mengungkapkan bahwa model Make a Match adalah model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartunya. Wahab (2007: 59) menjelaskan bahwa model pembelajaran make and match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan bekerja sama, kemampuan berinteraksi disamping kemampuan berpikir cepat melalui permainan mencari pasangan dengan dibantu kartu. Sintak pelaksanaan model pembelajaran make a match adalah awalnya guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan, permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya.

Baca juga:  Metode Peer Teaching Motivasi Siswa Memahami Perbandingan BilBul

Setiap murid mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap murid mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya murid yang benar mendapat nilai atau reward, kartu dikumpulkan lagi dan dikocok, Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Demikian berjalan seterusnya secara otomatis. Kemudian siswa diajak untuk membuat kesimpulan dari materi yang telah dibahas, evaluasi, dan refleksi. Pada akhir pembelajaran guru memberikan penguatan terhadap materi yang disampaikan dan ditutup dengan doa bersama. (gb1/zal)

Guru SDN 02 Tlogohendro, Kabupaten Pekalongan.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya