alexametrics

Mengolah Limbah Kayu dengan Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM)

Oleh : Nur Prapti Widyaningrum S.Pd.T

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, APA yang bisa dilakukan dengan limbah kayu yang biasanya digunakan untuk bahan bakar? Kenapa tidak diolah menjadi sebuah karya artistik yang mempunyai nilai guna lebih dan bernilai jual?

Limbah kayu adalah kayu sisa potongan dalam berbagai bentuk dan ukuran yang terpaksa harus dikorbankan dalam proses produksinya karena tidak dapat menghasilkan produk (output) yang bernilai tinggi dari segi ekonomi dengan tingkat teknologi pengolahan tertentu yang digunakan (Departmen Pertanian, 1970).

Limbah kayu banyak ditemukan di daerah tempat tinggal penulis. Karena banyak warga yang memiliki usaha pembuatan furniture dari kayu. Bahkan, selama ini warga hanya memanfaatkan limbah kayu untuk dijadikan kayu bakar. Namun dengan adanya pelajaran prakarya kelas IX dengan kompetensi dasar merancang, membuat, dan menyajikan produk kerajinan dari bahan kayu, bambu, dan atau rotan yang kreatif dan inovatif sesuai dengan potensi daerah setempat, penulis terinspirasi untuk mengajarkan kepada siswa. Yakni, memanfaat bahan yang ada dan mudah dicari tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. Bahan yang dimaksud disini adalah limbah kayu.

Baca juga:  Penerapan Pembiasaan 5S dalam Pembelajaran di Era New Normal

Dalam kegiatan mengolah limbah kayu menjadi kerajinan bukanlah hal yang mudah bagi siswa. Terkadang siswa tidak mempunyai gambaran/ide akan dibuat kerajinan apa dari bahan limbah kayu tersebut. Olah karena itu, penulis menggunakan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) dalam pembelajaran Prakarya di SMP Negeri 2 Kaliwungu, Kabupaten Semarang.

Tahap utama dalam mengolah kerajinan dari bahan limbah kayu adalah A (Amati). Pada tahap ini, langkah yang dilakukan adalah dengan mempersiapkan pengamatan berupa penayangan video tentang pembuatan kerajinan dari limbah kayu. Tentu saja, tidak hanya satu video saja. Siswa diberikan gambaran beberapa macam video kerajinan yang bisa dihasilkan dari limbah kayu. Tahap kedua, adalah tahap T (Tiru). Pada tahapan ini, siswa meniru kerajinan yang mereka amati pada video yang pernah ditayangkan. Tahap ketiga adalah M (Modifikasi). Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam pembuatan kerajinan dari bahan limbah kayu. Proses modifikasi dapat berupa penambahan garniture maupun perubahan bentuk warna maupun ukuran serta menambahkan inovasi baru di produknya.

Baca juga:  Manfaat Belajar Pengembangan Ornamentasi Vokal dalam Menyanyikan Harmoni Paduan Suara

Metode ATM memiliki beberapa keunggulan. Pertama, metode ini dapat melatih kecermatan siswa. Proses amati pada metode ATM dapat melatih tingkat kecermatan siswa dalam mengidentifikasi berbagai hal yang terjadi di sekitarnya. Kedua, metode ini menumbuhkan pemikiran kritis siswa. Dengan metode ini, pemikiran-pemikiran kritis siswa dapat tergali melalui proses pengamatan dan penulisan isu-isu lingkungan di sekitar siswa. Ketiga, metode ini juga dapat menumbuhkan kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Integrasi prinsip ATM pada pembelajaran akan mampu menciptakan proses belajar mengajar yang menyenangkan, dinamis, aktif dan kreatif bagi mereka yang terlibat, baik di dalam maupun di luar sekolah sehingga proses transfer ilmu akan berjalan dengan waktu yang relatif singkat. (pg2/ida)

Baca juga:  Pembelajaran Tatap Muka Lebih Menyenangkan dengan PAIKEM

Guru Prakarya SMPN 2 Kaliwungu, Kabupaten Semarang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya