alexametrics

Unik, Belajar Keragaman Budaya dengan Metode Montessori

Oleh : Wiwik Dwi Kurniawati, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada kenyataannya, pembelajaran IPS masih dilakukan dengan metode yang kurang beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Maulidatun (2012: 1-2) menunjukkan bahwa dalam pembelajaran, guru menggunakan metode ceramah yang cenderung membuat siswa kurang antusias dan kurang bersemangat. Hal tersebut menyebabkan hasil belajar IPS siswa kurangmaksimal. Penelitian lain dilakukan oleh Kalsum, Imran, dan Kapile (2014: 82). Budaya Indonesia begitu banyak sehingga perlu suatu upaya tersendiri untuk mengajarkan budaya tersebut (Gendhis, 2008: iii). Pembelajaran hendaknya dilakukan dengan multistrategi dan multimedia sehingga memberikan pengalaman belajar yang beragam bagi siswa (Susanto, 2013:158).

Penulis adalah guru kelas 6 SDN 01 Tenogo Paninggaran yang selama ini lebih sering menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dalam pembelajaran. Sedangkan guru menggunakan sumber belajar berupa buku cetak dan guru menulis di papan tulis. Guru tidak menggunakan alat atau media peraga apapun dalam pembelajaran Tematik. Hal tersebut dapat diketahui ketika guru bertanya kepada siswa mengenai pembelajaran yang telah disampaikan. Sebagian besar siswa hanya diam dan tidak menjawab. Saat guru menunjuk salah satu siswa untuk menjawab, siswa tersebut tidak dapat menjawab dengan tepat.

Baca juga:  Ubah Barang Bekas menjadi Karya Seni Artistik

Berdasarkan permasalahan di atas akhirnya penulis mengubah suatu pembelajaran yang menarik. Yaitu langkah awalnya adalah mempelajari/ mengingat tahapan perkembangan kognitif Piaget, siswa Sekolah Dasar (SD) berada pada tahap operasional konkret (Wiyani, 2013: 38). Siswa SD sudah mampu berpikir mengenai urutan sebab akibat dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang bervariasi. Proses pemikiran pada tahap operasional konkret diarahkan pada kejadian riil yang diamati oleh anak. Anak dapat memecahkan permasalahan yang kompleks selama permasalahan tersebut konkret dan tidak abstrak (Hergenhahn & Olson, 2010: 320).

Alat peraga dalam pembelajaran sangatlah dibutuhkan. Hal tersebut disadari benar dalam pendidikan Montessori. Pendidikan Montessori memiliki kekhasan pembelajaran yaitu penggunaan alat peraga. Alat peraga ini terdiri dari papan peta timbul Indonesia,yang mana papan peta berbentuk balok kayu (ukurannya bisa disesuaikan) dan pada bagian dalam balok terdapat peta timbul yang terbuat dari serbuk kayu. Sedangkan pewarna peta disesuaikan dengan warna peta pada umumnya yaitu warna biru untuk perairan, warna hijau dan kuning untuk daratan. Kemudian pada setiap provinsi terdapat beberapa lubang untuk menancapkan kartu budaya setiap provinsi. Bendera budaya setiap provinsi terdiri dari rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, tarian tradisional dan alat musik tradisional (bisa membuatnya dengan cara print gambar kemudian dilaminataing agar tidak mudah rusak). Maka alat peraga pun siap digunakan untuk menambah minat belajar siswa untuk mengenal keragaman budaya Indonesia.

Baca juga:  Praktik Pola Lantai dalam Gerak Tari Daerah dengan Aplikasi Tiktok atau Likee

Dengan penggunaan alat peraga ini siswa mendapatkan pengalaman belajar dengan menggunakan alat peraga kergaman budaya Indonesia dan juga siswa juga terbantu dalam mengatasi kesulitanya dalam mempelajari keragaman Indonesia yang begitu banyak. Meliputi pakaian adat, rumah adat, senjata tradisional, tarian tradisional, dan alat musik tradisional. Dan di sisi lain guru menyadari pentingnya penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dan dengan demikian pembaca juga mendapat pengalaman pengembangan alat praga berbasis metode Montessori. (ce5/ton)

Guru Kelas 6 SDN 01 Tenogo, Kec. Paninggaran, Kab. Pekalongan.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya