alexametrics

Membangun Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial melalui Pengenalan Tokoh Wayang

Oleh: Drs. Sudarto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia mengacu pada kurikulum yang dibakukan oleh pemerintah. Di dalam Kurikulum 2013 (Kurikulum Nasional) kompetensi utama dikelompokkan dalam aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Aspek sikap terdiri dari sikap spiritual dan sikap sosial yang merupakan kondisi yang bermula dari perasaan dan cenderung merespon kemudian mengekspresi dari sesuatu objek dalam bentuk perilaku. Untuk mewujudkan itu salah satunya melalui cara penggunaan media yang mempermudah terjadinya proses pemahaman sehingga melekat di dalam kepribadian peserta didik.

Wayang merupakan wujud budaya warisan yang terpelihara secara turun temurun sampai sekarang, di dalamnya terkandung kearifan lokal. Tokoh-tokoh wayang bisa dikolaborasikan dalam pembelajaran pada dunia pendidikan sebagai media untuk membangun psikologis generasi muda. Nilai-nilai filosofis yang terkandung akan membangun dan membentuk karakter siswa untuk bersikap arif bijaksana dan bermentalited pembangunan. Hal itu juga penulis praktikkan di SD Negeri Jatibarang 03, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Baca juga:  Mengoptimalkan Pembelajaran Tata Surya dengan Jigsaw

Wayang sebagai cerita, tidak terlepas dengan tokoh-tokoh dalam wujud fisik wayang beserta nama-namanya. Dalam pergelaran lakon cerita yang bersifat tematis akan ditampilkan tokoh dengan berbagai karakter,secara implisit dan reflektif akan mengidentifikasi tokoh yang bersifat protagonis maupun antagonis. Pengalaman ini akan menjadi pengetahuan yang akan memberikan inspirasi sebagai proyeksi kepribadian dalam diri siswa. Sehingga akan memunculkan serta menumbuhkan pola-pola sikap seperti: berani karena benar dan takut karena salah, berbuat baik dan berbudi pekerti luhur serta menghindari perilaku jahat, sikap keprihatinan dalam meraih cita-cita dengan tidak bersikap glamor dan sikap hurahura, serta sikap-sikap positif lain.

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh akan tersebut membangun pemahaman yang secara otomatis akan meresap di dalam sanubari siswa, membentuk mental serta menuntun penjelmaan pribadi yang arif dalam pola perilaku memilih serta memilah dalam setiap sikap kepribadian. Apabila keadaan seperti demikian bisa dimiliki, dipahami, terimplentasi dari generasi muda dan berkembang secara meluas dan kontinyu pada setiap generasi akan menjadi cermin sikap keteladanan dalam kehidupan diri pribadi generasi bangsa yang memiliki sikap tanggung jawab.Nilainilai sikap yang diterima akan menjadi konsep sikap spiritual dan sikap sosial kemudian terimplementasi dalam kenyataan kehidupan diri pribadi.

Baca juga:  Home Visit Tingkatkan Belajar Siswa di Masa Pandemi

Manusia sebagai homo ludens artinya makhluk bermain. Dalam pergelaran serta peran tokoh-tokoh dalam dunia wayang, akan menyampaikan secara intropeksi berbagai nilai yang sangat ideal, normatif, tolerantif, komprehensif yang sangat perlu dalam kehidupan. Secara abstrak akan membantu generasi muda menemukan identitas diri, melalui proses mengidentifikasi peran dan tokoh yang disaksikan / dimengerti.

Pemahaman tokoh wayang, juga merupakan modal kognitif karena akan memproses dan mengolah serta merelevansi dalam kepribadian hidup, sebagai identitas diri yang merupakan bentuk realisasi dari potensi diri yang sangat baik kemudian akan terjadi proses diferensiasi untuk mengontruksi kepribadian individu anak dari faktor eksternal yaitu melalui pengenalan tokoh cerita wayang.Secara psikososial sangat erat antara sintetis batin dalam diri individu dengan integrasi dalam kelompok (sosial) akan menumbuhkan berbagai prototipe ideal.

Baca juga:  Model Home Visit Lebih Efektif pada Pembelajaran di Masa Pandemi

Pengenalan tokoh wayang merupakan dimensi budaya yang menjadi sumber inspirasi kehidupan yang sangat berguna dalam membangun mentalitas manusia (generasi muda/ peserta didik) untuk membentuk karakter generasi bangsa dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang bersifat konstruktif dan membangun. (*/ton)

Guru SD Negeri Jatibarang 03, Kec. Mijen, Kota Semarang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya