alexametrics

Serunya Belajar Berhitung Sambil Bermain Congklak

Oleh : Nunik Damayanti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hampir di setiap aspek kehidupan, ilmu matematika digunakan. Mulai dari jual beli, membuat rumah, membuat pakaian, bahkan memasak pun menggunakan matematika. Ruseefendi (1998:74) mengatakan berhitung itu penting. Untuk kehidupan praktis sehari-hari ataupun untuk keperluan melanjutkan sekolah, dan hal tersebut didasarkan pada dua aspek yaitu aspek sosial dan matematis.

Di sekolah, pembelajaran matematika tidak berorientasi pada penguasaan materi matematika semata. Tetapi materi matematika diposisikan sebagai alat dan sarana untuk mencapai kompetensi. Menurut Cobb (Erman Suherman, 2003:71) pembelajaran matematika sebagai proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Di sini peran pendidik sangat penting. Sebagai fasilitator, pendidik harus mampu mengembangkan pembelajaran agar tidak membosankan bagi siswa.

Penulis sebagai guru kelas 1 SD Negeri 04 Beji, menerapkan media congklak dalam pembelajaran berhitung baik penjumlahan maupun pengurangan. Tujuannya agar siswa lebih aktif dalam mengikuti pelajaran sehingga lebih mudah memahami materi yang guru sampaikan. Mengapa menggunakan congklak? Karena ketika bermain congklak, anak-anak akan dilatih berhitung, jujur, serta sabar. Selain itu juga melatih anak untuk mengasah kemampuan motorik halus.

Baca juga:  Manejerial Kepala Sekolah Tingkatkan Mutu Pendidikan

Terdapat 16 lubang yang terdiri dari 14 lubang kecil berhadapan dan 2 lubang besar di sebelah kanan dan kiri untuk menampung biji yang didapat selama permainan berlangsung. Ketika bermain congklak harus mengetahui dan menaati aturan-aturan. Misalnya, tidak boleh memasukkan biji congklak ke dalam lubang besar punya lawan. Biji congklak yang dimasukkan ke tiap lubang harus satu persatu.
Cara memainkannya mudah. Dibutuhkan 2 orang pemain. Karena di sini pemainnya adalah anak kelas 1 SD, maka biji congklak yang dibutuhkan hanya 70 biji. Biji congklaknya pun dengan kerikil. Sebelum bermain, pemain melakukan pingsut lebih dulu untuk menentukan siapa yang bermain lebih dulu. Setelah itu kerikil yang berjumlah 70 disebar dalam setiap lubang kecil di papan. Jadi, setiap lubang kecil terisi 5 kerikil. Dan setiap pemain memiliki 35 kerikil yang tersebar di 7 lubang kecil yang ada di depannya. Permainan dimulai dengan mengambil seluruh kerikil di satu lubang kecil dan menyebarkannya satu per satu di lubang yang lain secara urut. Termasuk lubang kecil punya lawan. Ketika melewati lubang besar milik sendiri, maka kerikil yang digenggam dimasukkan. Tetapi ketika melewati lubang besar punya lawan, kerikil tidak boleh dimasukkan. Pemain lawan akan mendapat giliran ketika pemain sebelumnya sudah kehabisan kerikil untuk dibagikan. Permainan akan selesai apabila semua lubang kecil sudah habis kerikilnya. Pemain yang menang adalah yang jumlah kerikilnya terbanyak pada lubang besar.

Baca juga:  Pembelajaran Indahnya Negeriku Mudah dengan Pendekatan Inquiry

Pada kegiatan penutup guru menyimpulkan beberapa contoh penjumlahan dan pengurangan. Siswa diajak untuk mengerjakan latihan penjumlahan dan pengurangan dibimbing guru. Sebagai penugasan, siswa diminta mengerjakan soal dengan alat bantu kerikil, sehingga siswa lebih mudah mengerjakan soal yang diberikan guru.

Hasil dari tahap ini adalah menjelaskan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan 0 sampai 99 untuk SD kelas 1 di SD Negeri 04 Beji dengan media congklak. Siswa sangat senang dan aktif dalam bermain congklak. Guru menanyakan bagaimana perasaan mereka setelah bermain. Ada yang menjawab senang karena menang, dan ada yang menjawab sedih karena kalah. Mereka benar-benar menikmati permainan. (agu1/lis)

Guru SDN 04 Beji Kec. Taman, Kabupaten Pemalang.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar Dengan Model Tutor Sebaya

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya