alexametrics

Memahami Makna Sila-Sila Pancasila Menggunakan Problem Based Learning

Oleh : Nurkesi, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PPKn merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Mata pelajaran kewarganegaraan merupakan salah satu sarana yang dipakai pemerintah untuk dapat menanamkan nilai-nilai budaya bangsa serta juga mengenai kebijakan yang bisa menjadi sumber pengetahuan peserta didik sejak dini, sehingga memiliki kesadaran untuk dapat membangun bangsa dan negara Indonesia.

Menurut Aji (2013:31) mata pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran yang mempunyai misi membina nilai, moral, dan norma secara utuh bulat dan berkesinambungan. Sedangkan PPKn adalah untuk membentuk watak warga negara yang baik, yaitu yang tahu, mau dan sadar akan hak dan kewajibannya.

Karena sangat berhubungan dengan nilai, sikap, moral yang ada dikehidupan peserta didik, maka pembelajarannya harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memberikan makna nyata yang dapat dimplementasikan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Baca juga:  Belajar lebih Efektif dengan Media Flash Card

Untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan, penulis dalam mengajarkan PPKn materi simbol dan makna sila-sila Pancasila di kelas IV SDN 16 Mulyoharjo menggunakan pembelajaran berbasis masalah atau sering disebut problem based learning (PBL).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Dalam proses pembelajaran menggunakan metode PBL guru bersama dengan siswa memfokuskan pada pemecahan masalah yang nyata. Proses dimana peserta didik melaksanakan kerja kelompok, umpan balik, diskusi yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan dan laporan akhir.

Dengan demikian peserta didik didorong untuk lebih aktif terlibat dalam materi pembelajaran dan mengembangkan ketrampilan berfikir kritis. Langkah -langkah pembelajaran PBL yang penulis laksanakan adalah sebagai berikut pertama merumuskan masalah. Yaitu guru menyajikan sebuah permasalahan yang terjadi dimasyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Kemudian siswa dengan bimbingan guru menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam kelompoknya. Kedua, menganalisis masalah, yaitu siswa dalam kelompoknya berdiskusi tentang masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang. Ketiga, merumuskan hipotesis. Yaitu siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan dalam diskusi kemompoknyta sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Keempat, mengumpulkan data, yaitu siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. Kelima, pengujian hipotesis. Yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan. Keenam, merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Baca juga:  Memahami Budaya Asing dalam Belajar Bahasa Inggris

Dengan pembelajaran berbasis masalah (PBL) meningkatkan keaktifan siswa melatih siswa untuk bertukar pendapat dengan argumentasi yang bisa diterima olek kelompoknya. PBL juga meningkatkan kreatifitas siswa serta daya pikir kritis yang mampu mengaitkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Baik berupa literatur yang pernah dibacanya maupun pengalaman yang pernah dialami dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang dipecahkan.

Dengan pembelajaran yang aktif dan motivasi yang tinggi dari siswa maka dapat meningkatkan pemahaman siswa khususnya materi makna sila-sila Pancasila, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun selain kekuatan pembelajaran PBL di atas, terdapat juga beberapa kelemahannya. Seperti perlunya bimbingan guru pada masing-masing kelompok dalam diskusi untuk menjaga diskusi mereka tidak melenceng dari tujuan pembelajaran. Perlu bimbingan dan arahan agar diskusi kelompok tidak didominasi oleh siswa tertentu. Serta perlunya alternatif-alternatif permasalahan yang mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar dan yang sesuai karakter kehidupan masyarakat sekitar rumah tinggal siswa. (agu1/lis)

Baca juga:  Model Answer Playing Bikin Asyik Belajar Tematik

Guru SDN 16 Mulyoharjo, Pemalang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya