alexametrics

CTL Tingkatkan Keterampilan Menulis Puisi

Oleh : Yuyun Astuti Suprapti, S.Pd., M.M

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada Kurikulum 2013 tujuan pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada pengembangan kompetensi berbahasa. Yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pengembangan kompetensi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta didik untuk berkomunikasi dalam bermasyarakat secara cerdas dan santun.

Adapun Priyatni (2014:43) mengatakan pada KD ranah keterampilan, peserta didik dituntut untuk memproduksi teks, menelaah dan menyunting, merevisi, dan membuat rekonstuksi teks. Pada KD ini jelas menuntut peserta didik memproduksi teks utuh yang bermakna baik lisan maupun tulis, bukan menulis penggalan teks yang tidak bermakna, pembelajaran bahasa berbasis teks memang mengutamakan kebermaknaan. Salah satu materi pembelajaran dalam bahasa Indonesia yang berhubungan dengan memproduksi teks yakni puisi.

Auden (1978: 3) mengemukakan puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur. Puisi merupakan suatu karya yang terbentuk atas susunan kata penuh makna. Menurut Herman J. Waluyo (1987) puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif yang disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif.

Baca juga:  Tingkatan Hasil Belajar Bernyanyi Siswa dengan Model PBL

Kenyataan yang terjadi di SMA Negeri 1 Temanggung kemampuan siswa menulis puisi masih rendah. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Yaitu guru masih mengajar dengan model ceramah, sarana dan prasarana masih kurang, sumber pembelajaran masih kurang, siswa belum menguasai materi pembelajaran puisi. Siswa masih kesulitan menemukan gagasan, menentukan tema, dan siswa kesulitan menyusun kata-kata.

Untuk mengatasi masalah tersebut penulis menerapkan model pembelajaran konstekstual (CTL). Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Nurhadi (2003) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Sedangkan menurut Johnson (2002) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek- keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Untuk mencapai tujuan ini, sistem tersebut meliputi tujuh komponen berikut : membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri melakukan kerja sama. Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, berfikir kritis dan kreatif untuk mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian otentik.

Baca juga:  Pentingnya Sosmed bagi Layanan Bimbingan Konseling di Era Pandemi Covid-19

Langkah-langkah pembelajaran menggunakan model pembelajaran CTL dalam kelas secara garis besar adalah pertama, mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengontruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Dalam teori konstruktivisme dijelaskan struktur pengetahuan dikembangkan oleh otak manusia melalui dua cara, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibangun atas dasar pengetahuan yang sudah ada. Sementara itu, akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan hadirnya pengalaman baru.

Kedua, melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. Komponen inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh 32 peserta didik bukan hasil mengingat seperangkat fakta, melainkan dari hasil menemukan sendiri pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Setelah menerapkan model pembelajaran CTL pada pembelajaran terjadi peningkatan keterampilan menulis puisi pada siswa. Hal ini terlihat, peserta didik lebih mudah menemukan gagasan, menentukan tema, dan menyusun kata-kata. Hasil puisi peserta didik juga lebih baik dari puisi sebelumnya. (pm1/lis)

Baca juga:  Mengantisipasi “Speaking Loss” selama PJJ dengan “Habit Formation”

Guru SMA Negeri 1 Temanggung.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya