alexametrics

Catch and Count Tingkatkan Kemampuan Siswa Menyampaikan Pendapat

Oleh : Drs Susilo Agus Widodo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) adalah pendidikan moral yang bertujuan membentuk warga negara yang cerdas, demokratis yang berakhlak mulia, yang konsisten untuk melestarikan dan mengembangkan cita-cita demokrasi dan membangun karakter bangsa.

Kehidupan demokratis menuntut sikap warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya, serta tidak segan untuk menyatakan pendapat sebagai bagian sikap kontrol terhadap pemerintah.
Sikap berani menyatakan pendapat juga dibelajarkan di sekolah. Siswa dalam pembelajarn diberi kesempatan untuk bertanya, menjawab pertanyaan atau menanggapi apa yang disampaikan guru atau teman. Namun tidak semua siswa berani atau mau untuk belajar tentang itu. Banyak siswa yang langsung menjawab tidak tahu atau tidak bisa jika dimintai pendapat atau diberi pertanyaan. Kalau tidak ada perhatian hal ini akan membentuk sikap apatis dan tidak peduli.

Baca juga:  “Dasi” dalam IPA Meningkatkan Kesiapsiagaan Masa Pandemi Covid-19

Fenomena ini juga terjadi pada siswa SMPN 2 Patean. Inilah yang mendorong penulis menerapkan Catch and Count yang secara harfiah diartikan tangkap dan hitunglah. Penulis akan menunjuk siswa dan dalam hitungan tertentu mengharuskannya menjawab, atau berpendapat. Jika hitungan sudah lewat, dan tidak ada respon, ada konsekuensi yang harus dilakukan sebagai semacam “hukuman”.
Yang pertama, penulis harus mengenal dan hafal nama-nama siswa. Ini butuh waktu dua hingga tiga bulan untuk bisa menghafal dan mengenal satu per satu siswa baru, karena setiap minggu penulis bertemu mereka dua kali di kelas. Memori ini akan tersimpan baik karena terus mengajar mereka hingga lulus. Karena hafal, penulis kadang membuat, joke misalnya penulis menunjuk Yulia tetapi menyebut nama Amanda, yang menjadi kaget karena mengira yang akan ditunjuk Yulia. Penulis akan memberi maksimal 10 hitungan untuk merespon. Jika sebelum hitungan 10 sudah merespon, penulis memberikan pujian dan nilai. Kadang hampir semua siswa mendapat kesempatan untuk satu konteks hingga ada jawaban yang benar. Jika ada siswa yang tidak merespon dalam 10 hitungan, dia akan “dihukum” mengucap Pancasila, atau Pembukaan UUD 1945 atau menyanyikan sebuah lagu wajib. Macam “hukuman” ini bisa siswa sendiri yang menentukan. Siswa yang mau berpikir, pasti akan berusaha menjawab atau memberikan pendapat sebelum hitungan 10, daripada harus maju di depan kelas untuk melaksanakan “hukuman” seperti yang telah penulis sebutkan.

Baca juga:  Penguatan Kaidah Kebahasaan Teknik Resitasi dalam Menulis Teks Pidato

Sejauh ini semua berjalan seperti yang penulis harapkan. Yaitu siswa mau merespon pertanyaan atau memberikan pendapatnya. Namun karena kondisi siswa yang berbeda, di setiap kelas, masih muncul beberapa siswa yang memilih “pasrah” menerima “hukuman” dengan membiarkan sepuluh hitungan berlalu.

Yang kedua, harus konsisten untuk melaksanakannya dalam setiap kesempatan. Perlu membuat catatan khusus tentang kemajuan siswa dalam merespon pertanyaan, menyampaikan pendapat atau bertanya. Dari catatan tersebut diharapkan dari waktu ke waktu terjadi perkembangan dari yang semula sekedar kemauan merespon menjadi kemampuan merespon. Artinya, siswa tidak hanya sekadar menjawab atau berpendapat, tetapi sudah menjawab dengan benar atau mendekati benar, atau menyampaikan pendapat secara logis dan sesuai konteks. Dengan konsisten menerapkan hal ini, maka siswa akan terbiasa dan selalu berusaha menyiapkan diri sebelum penulis masuk kelas untuk melaksanakan pembelajaran. (pg2/ida)

Baca juga:  Membuat Poster 3M Mudahkan Siswa Pahami Pencegahan Covid-19

Guru SMPN 2 Patean, Kabupaten Kendal.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya