alexametrics

Problem Posing Tingkatkan Keaktifan Belajar Logaritma

Oleh : Sri Handayani, S. Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pokok bahasan logaritma tingkat SMA menuntut siswa untuk dapat menggunakan sifat-sifat logaritma, persamaan logaritma, dan penerapan logaritma dalam pemecahan masalah. Logaritma membutuhkan langkah demi langkah sehingga membutuhkan kecermatan dan ketelitian dalam menghitung. Trigonometri sering menjadi hal yang membuat malas belajar siswa karena terlalu banyak rumus dan langkah yang termuat didalamnya. Demikian juga yang dialami siswa SMAN 1 Geyer kabupaten Grobogan yang mengatakan kesulitan untuk memahami penyelesaian logaritma karena terlalu banyak langkah-langkah dan rumus yang harus dihafalnya.

Salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan pada logaritma ini adalah model pembelajaran Problem Posing. Menurut Shoimin (2014:133), Problem Posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan – pertanyaan yang lebih sederhana. Selain peserta didik menyusun pertanyaan, peserta didik juga harus mampu menyelesaikan pertanyaan yang telah dibuat dengan jawaban yang divergen.

Baca juga:  Silap Makna Kata dalam Komunikasi pada Gawai

Thobroni dan Mustofa (2012:351) menyatakan bahwa langkah-langkah penerapan model pembelajaran problem posing sebagai berikut Pertama, guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa menggunakan media untuk memfasilitasi siswa dalam mengajukan pertanyaan. Kedua, siswa diminta untuk mengajukan pertanyaan secara berkelompok. Ketiga, siswa saling menukarkan soal yang telah diajukan. Keempat, siswa kemudian menjawab soal-soal tersebut dengan berkelompok.

Langkah-langkah pembelajaran problem posing secara berkelompok dalam pelajaran materi logaritma adalah Pertama, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar materi logaritma. Kedua, Guru menyajikan informasi baik secara ceramah atau tanya jawab selanjutnya memberi contoh cara pembuatan soal dari informasi yang diberikan. Ketiga, guru membentuk kelompok belajar antara 5-6 siswa yang bersifat heterogen, guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan dalam membuat soal dan menyelesaikannya, Keempat, guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi logaritma yang telah dipelajari dengan cara masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya, Kelima, guru memberi penghargaan kepada siswa atau kelompok yang telah menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.

Baca juga:  Belajar Asyik Aksara Jawa dengan Book Creator

Kelebihan Problem Posing antara lain: Pertama, siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Kedua, minat siswa dalam pembelajaran logaritma lebih besar karena siswa lebih mudah memahami soal yang dibuat sendiri sehingga bisa memahami konsepnya dan mudah memahami langkah-langkahnya dalam menyelesaikan soal logaritma. Ketiga, semua siswa terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal, dengan membuat soal dapat menimbulkan dampak terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah. Keempat, merangsang siswa untuk memunculkan ide yang kreatif. Kelima, mendidik siswa lebih percaya diri. Keenam, siswa dapat memahami soal sebagai latihan untuk memecahkan masalah.

Kekurangan Problem Posing antara lain persiapan guru lebih karena menyiapkan informasi apa yang dapat disampaikan, waktu yang digunakan lebih banyak untuk membuat soal dan penyelesaiannya sehingga materi yang disampaikan lebih sedikit, membutuhkan media penunjang yang berkualitas untuk referensi dalam pembuatan soal dan tidak semua murid terampil bertanya.

Baca juga:  Ganti PR Biasa dengan PR Berbuat baik

Model Problem Posing memiliki banyak kelebihan sehingga bisa diterapkan dalam pembelajaran logaritma. Meskipun model problem posing ada kekurangan tapi masih bisa diatasi dengan memilih sub pokok bahasan yang cocok dan dilakukan secara berkelompok sehingga siswa yang kurang terampil bisa berdiskusi dengan temannya dalam menyusun pertanyaan dan mencari referensi untuk membuat soal. Dengan demikian diharapkan model problem posing bisa meningkatkan prestasi siswa. (lbs2/ton)

Guru Matematika SMA Negeri 1 Geyer Kabupaten Grobogan.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya