alexametrics

Penghargaan Verbal Cara Membangkitkan Kegiatan Menulis di Tingkat SMP

Oleh : Dwi Putri Mulat Setyaningsih, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kegiatan menulis bagi siswa setingkat SMP sering menemui kendala terutama dalam menulis teks sastra. Siswa sering sekali kebingungan bagaimana ketika memulai menulis.

Guru yang notabene sebagai ”penerang dalam gulita” harusnya mampu menemukan cara jitu agar permasalahan yang dihadapi siswanya terurai secara tuntas. Kegiatan ini memang tidaklah mudah. Butuh pengamatan yang jeli. Sebab latar belakang siswa itu beraneka, tidak bisa menampilkan satu solusi secara klasikal. Dibutuhkan sikap arif dalam penyelesaian masalah.

Kreativitas guru bisa dalam bentuk metode/pendekatan, pengelolaaan kelas, media yang digunakan, atau proses penciptaan situasi yang menyenangkan sehingga siswa merasa tertantang untuk mengikuti pembelajaran yang sebenarnya. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya yaitu menciptakan “motivasi” dari dalam siswa itu sendiri. Semua ini akan terjadi apabila guru benar-benar menyiapkan “perangkat pembelajaran” dengan sebaik mungkin.

Sebagai guru tingkat SMP tepatnya guru Bahasa Indonesia di SMP N 3 Weleri Kabupaten Kendal,yang tergolong inputnya dari berbagai segi termasuk menengah ke bawah, perlu kerja ekstra untuk membangun karakter agar siswa tetap semangat dalam menuntut ilmu. Situasi harus dibangun dari berbagai lini, saling membahu antarguru dan juga seluruh penghuni sekolah agar pembelajaran tercipta lebih kondusif.

Baca juga:  Pendekatan Model Open-Ended Mantapkan Pembelajaran Matematika

Menulis menurut Mc Crimmon dalam St. Y. Slamer (2008:141) merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas. Proses menggali pikiran inilah yang kadang sulit dilaksanakan oleh siswa. Perlu pendekatan atau trik-trik jitu untuk memperoleh galian yang hebat. Perlakuan pribadi siswa sebagai manusia seutuhnya yang memiliki kemampuan dasar adalah yang nomor satu harus dilaksanakan.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia (sastra) disajikan dalam bentuk jenis teks. Ada Sembilan jenis teks sastra yang diajarkan ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu teks deskripsi, teks cerita fantasi, teks puisi rakyat, teks fabel, teks puisi, teks ulasan, teks drama, teks cerita pendek, dan teks cerita inspiratif. Masing-masing teks pasti memiliki karakteristik masing-masing. Dalam pembelajarannya dibagi tiga tingkatan yaitu kelas VII, VIII, dan IX. Sebagai guru kelas IX merasa lebih diuntungkan dua tingkat dari sebelumnya yaitu kelas VII dan kelas VIII. Otomatis siswa sudah terbekali pengalaman menulis yang cukup. Ternyata ini juga tidak jaminan, buktinya diminta membuat tulisan berdasarkan idea atau gagasan hasil kreasi sendiri masih juga kebinggungan.

Baca juga:  Lawatan Sejarah sebagai Model Pembelajaran

Di kelas IX teks yang dipelajari yaitu teks cerpen dan teks cerita inspiratif. Sesuai tahapan pembelajaran yang saya sampaikan ke siswa lebih dulu yaitu pembelajaran cerpen. Cerpen (cerita pendek) sangat asyik bila disimak. Bukan hanya isi ceritanya tapi juga karakter tokoh yang ditampilkan. Pesanlah pada akhirnya yang bisa mengubah karakter pembaca cerpen. Keberhasilan penulis cerpen terletak pada kepiawaiannya dalam merangkai kata-kata, penyampaian dalam simbol-simbol atau lambang sehingga menimbulkan untaian kalimat yang bisa menghipnotis pembaca bahkan ketagihan untuk membaca cerita berikutnya. Siswa bisa-bisa sangat khusuk mendengarkan cerita, kala sang guru menyampaikan tema yang disukai terutama tema “cinta”. Siswa seakan menikmati cerita didalamnya seolah-olah apa yang dialami tokoh utama itu mewakili permasalahan yang dihadapi.

Baca juga:  Tingkatkan Keaktifan Belajar Luas Selimut Kerucut Melalui Presentasi Online

Penilaian siswa merupakan pangkal/awal bila pelajaran itu menyenangkan, mungkin juga bisa dikatakan berhasil. Tapi itu baru permulaan. Pembelajaran adalah sebuah rangkaian, ada pembukaan, inti, dan penutup. Semuanya saling berkaitan. Giliran menelaah unsur pendukung, mereka tetap asyik dan bersemangat, bersama kelompok begitu kompak menyelesaikan tugas. Waktu presentasi dari hasil kerjanya pun begitu antusias saling menanggapi. Memang menyimak cerpen dan unsur pendukungnya sangat disukai oleh siswa. (agu1/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMP N 3 Weleri, Kabupaten Kendal.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya