alexametrics

Pembelajaran Karakter Sistem Reproduksi untuk Mengatasi Seks Bebas di Kalangan Pelajar

Oleh: Yuliati Khasanah, S.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dewasa ini, kasus seks bebas semakin menjamur di kalangan pelajar. Persentase atas perilaku tersebut bukannya menurun, malah semakin meningkat. Faktanya, banyak pelajar di masa kini yang seharusnya mendapatkan ijazah, tetapi malah harus melakukan “ijab sah”.

Remaja usia sekolah, 12-19 tahun rentan dengan berbagai perilaku yang menyimpang. Salah satunya adalah perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas muncul karena pengaruh media dan dunia informatika yang semakin terbuka sehingga mengubah cara pandang remaja terhadap seks.

Perilaku seks bebas anak di bawah umur umumnya terjadi karena tidak memiliki pengetahuan yang baik terhadap dampak dan risiko yang dapat ia alami, baik secara sosial, budaya, norma dan agama.
Salah satu akibat yang muncul dari perilaku seks bebas adalah munculnya kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD). KTD pada pelajar akan memberikan dampak negatif di berbagai sisi. Dampak dari segi fisik akan membahayakan ibu maupun janin yang dikandungnya atau ibu akan mencoba melakukan aborsi yang bisa berujung pada kematian. Dari sisi psikologis, ibu akan berusaha melarikan diri dari tanggung jawab, atau tetap melanjutkan kehamilannya dengan keterpaksaan. Sedangkan dilihat dari dampak sosial, masyarakat akan mencemooh dan juga mengucilkan (Husaeni, 2009).

Baca juga:  Belajar Akuntansi Lebih Mudah dan Menyenangkan dengan Jembatan Keledai

Begitu banyak problem yang muncul akibat kasus “KTD”, sehingga menjadi keharusan bagi guru dan orangtua untuk memberikan bekal yang praktis agar pelajar terhindar dari penyimpangan seksual. Menurut riset, sumber pengetahuan seksual yang paling dekat adalah sahabat.

Melalui obrolan yang mengasyikkan, akan mengalir cerita seks dari teman-teman, jika tidak diberi pemahaman sejak awal, obrolan itu bisa memberi semangat kepada remaja untuk nekat melakukan percobaan. Dari data yang penulis dapatkan selama mengajar, sebagian peserta didik memiliki peserpsi yang salah terhadap proses kehamilan “ masak sekali melakukan berhubungan bisa hamil sih bu”.
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja, pendidikan seksual adalah informasi mengenai persoalan seksual yang jelas dan benar. Meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, aspek-aspek kesehatan, kejiawaan dan kemasyarakatan (Sarlito W Sarwono, 2012).

Baca juga:  Mudah Pahami Materi Mutasi dengan Kartu bergambar

Sesuai muatan silabus mapel biologi bab Sistem Reproduksi kompetensi dasar 4.12 disebutkan bahwa salah satu indikator yang harus dicapai dalam proses pembelajaran adalah kemampuan menyajikan hasil analisis tentang dampak pergaulan bebas, penyakit dan kelainan pada struktur dan fungsi organ yang menyebabkan gangguan sistem reproduksi manusia serta teknologi sistem reproduksi. Maka berdasarkan muatan silabus tersebut guru berperan memberikan pemahaman dampak pergaulan bebas terhadap pelajar dan kiat-kiat agar terhindar dari pergaulan bebas terutama perilaku seksual bebas sehingga kasus KTD dapat dicegah.

Saat pembelajaran materi sistem reproduksi, guru dapat menyampaikan pengetahuan dengan menyisipkan pesan-pesan moral agar peserta didik terhindar dari pergaulan bebas. Guru dapat menyajikan studi kasus KTD di kalangan pelajar dan dijadikan bahan diskusi saat kegiatan pembelajaran, sehingga peserta didik dapat menganalisis dan mengambil pelajaran dari hasil diskusi mereka.

Baca juga:  Meningkatkan Motivasi Literasi Fisika melalui STEM

Guru dapat memberikan informasi yang ilmiah dan berguna bagi peserta didik terkait sistem reproduksi. Dialog yang sehat dalam suasana keakraban dan kehangatan sangat positif bagi perkembangan mental dan karakter peserta didik. Guru juga dapat menggunakan media bercerita lewat kisah-kisah nyata kasus KTD yang terjadi di kalangan pelajar.

Kita dapat menekankan kepada peserta didik bahwa seks bebas adalah dosa dan penyimpangan yang akan merusak masa depan. Dan konsekuensi yang harus ditanggung yaitu siksaan di akhirat. Peserta didik dimotivasi agar memiliki banyak aktivitas yang positif seperti olahraga, aktif di kegiatan ekstra dan intra sehingga energy mereka bisa tersalurkan dengan aktivitas postitif tersebut dan tidak terjebak pada aktivitas negatif yang akan merugikan masa depan mereka. (lbs2/lis)

Guru Biologi MAN 2 Semarang, Kabupaten Semarang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya