alexametrics

Pembelajaran Berbasis Masalah Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Mendiagnosa Sistem Rem

Oleh : Sismoyo, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kemampuan mendiagnosa kerusakan sistem rem seringkali membuat siswa susah dipahami dan malas terutama pada troubleshooting pada sistem rem tersebut. Hal ini juga di alami di SMK Negeri Karangpucung pada jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif. Menurut Herdian (2010:1), pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding yang diartikan sebagai penyerapan materi yang dipelajari. Pemahaman merupakan tipe kemampuan yang harus dipunyai oleh siswa agar siswa mampu memiliki kemampuan yang lainnya.

Problem Based Learing merupakan model pembelajaran yang sangat populer dalam dunia kedokteran pada tahun 1970-an. Banyak buku yang membahas tentang pembelajaran berbasis masalah sebagai salah satu strategi di dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Sebelum memberikan alternatif contoh penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk mata pelajaran produktif mendiagnosa sistem rem SMK kelas XI Jurusan TKRO, dalam artikel ini terlebih dahulu akan diuraikan adalah beberapa pengertian tentang pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning (PBL) yang terdapat dalam buku Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Mata pelajaran produktif SMK.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Pecahan dengan E-Modul

Belajar berbasis masalah salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktif, yang beroreantasi pada proses belajar siswa. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang sangat populer, yang berfokus pada penyajian suatu permasalahan kepada siswa. Setiap siswa diminta mencari pemecahan melalui serangkaian penelitian berdasarkan teori, konsep, dan prinsip yang dipelajarinya. Hal ini berarti sebelum belajar, mereka diberikan umpan balik berupa masalah. Masalah diajukan agar pelajar mengetahui bahwa mereka harus mempelajari beberapa pengetahuan baru sebelum mereka memecahkan masalah tersebut.

Dalam prosesnya, pendekatan belajar berbasis masalah ini meniru pendekatan sistem yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah atau menemukan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam hidup dan karir (Barrows dan Kelson). Arends (Haryanto dan Warsono, 2012: 401) mengemukakan sintaks pembelajaran berbasis masalah yaitu: a) Orientasi siswa pada masalah, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic (bahan dan alat) apa yang diperlukan bagi penyelesaian masalah serta memberikan motivasi kepada siswa agar menaruh perhatian terhadap aktivitas penyelesaian masalah. b) Mengorganisasi siswa, guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisikan pembelajaran agar relevan dengan penyelesaian masalah. c) Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, guru mendorong siswa untuk mencari informasi yang sesuai, melakukan eksperimen, dan mencari penjelasan dan pemecahan masala. d) Mengembangkan dan menyajikan hasil, guru membantu siswa dalam perencanaan dan perwujudan hasil yang sesuai dengan tugas yang diberikan; e) Menganalisa dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil penyelidikannya serta proses-proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Berdasarkan pendapat tersebut bahwa model pembelajaran berbasis masalah bahwa dengan masalah yang diberikan kepada siswa maka akan timbul pengetahuan baru dengan ditemukan pemecahan masalah tersebut.

Baca juga:  Cerita Bergambar Tingkatkan Kemampuan Imajinasi Anak Usia Dini

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan oleh Darmaji seorang guru dari sebuah sekolah menengah kejuruan menyatakan bahwa, penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Basid Learning) berupa pemberian pertanyaan, tugas diskusi belajar kelompok, dan tugas mandiri diterapkan pada mata diklat mendiagnosa sistem rem di kelas XII SMK dengan beberapa siklus. Penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) ini dapat meningkat kemampuan pemahaman siswa pada saat proses pembelajaran mendiagnosa sistem rem. Dengan demikian ketercapaian kompetensi yang dihasilkan dengan persentase 85% siswa berkategori lulus, melebihi indikator keberhasilan dengan pencapaian kompetensi kelas mencapai 70%. (agu1/ton)

Guru Mata Pelajaran Chasis dan SPT SMK Negeri Karangpucung, Kab. Cilacap.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Perencanaan Bisnis dengan Model Demonstrasi dan Presentasi

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya