alexametrics

Mengembangkan Bahasa Reseptif Anak Usia Dini melalui Metode Bercerita

Oleh : Triani Setianingsih, S.Pd.AUD.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Anak usia dini adalah peserta didik yang berada pada proses pertumbuhan dan perkembangan yang unik. Yaitu memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan antara koordinasi motorik halus dan kasar. Daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunikasi yang tercakup dalam kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Masa peka pada masing-masing peserta didik usia dini berbeda-beda seiring laju pertumbuhan dan perkembangannya secara individual. Masa ini juga merupakan masa penting peletak dasar pertama untuk mengembangkan kemampuan kognitif, gerak motorik, sosio emosional maupun dalam mengembangkan kemampuan bahasa.

Upaya mengembangkan kemampuan bahasa inipun menjadi perhatian guru PAUD sebagaimana yang penulis lakukan dalam proses pembelajaran di TK Negeri Pembina Taman Kabupaten Pemalang pada proses pembelajaran KD. 4.10. Menunjukan kemampuan berbahasa reseptif anak usia dini melalui metode bercerita.
Kemampuan bahasa memiliki peranan penting bagi kehidupan individu, khususnya pada anak usia dini. Pada masa kanak-kanak kemampuan bahasa memiliki tingkat kemudahan dalam menerima dan memahami pengetahuan yang baru dibandingkan dengan perkembangan logika.

Baca juga:  Perspektif Corona dari Sisi Agama Islam

Hal ini dikarenakan salah satu karakteristik anak adalah meniru sehingga ketika orang dewasa berbicara anak akan mengamati bagaimana pelafalan dari kata-kata tersebut. Pemerolehan bahasa pada anak usia dini dimulai melalui pendengaran yang di dengar disekitarnya yang disebut dengan bahasa reseptif. Menurut Myklebust dalam (Hernawati, 2007 ) menyatakan pemerolehan bahasa anak diperoleh dari pengalaman anak yang mendengar terhadap lingkungan terdekatnya. Proses penerimaan bahasa yang melalui indera pendengaran adalah bahasa reseptif.

Untuk itu pengembangannya penulis lakukan melalui pembelajaran dengan metode bercerita. Menurut Madyawati (2016) bercerita adalah salah satu keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain dengan cara menyampaikan berbagai macam ungkapan, perasaan yang sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat dan didengar.

Baca juga:  Metode Card Sort Tingkatkan Suasana Belajar Menyenangkan TaDik

Sedangkan metode bercerita adalah cara bertutur kata dalam penyampaian cerita atau memberikan penjelasan secara lisan dalam upaya memperkenalkan ataupun memberikan keterangan hal baru pada peserta didik atau orang lain. Tujuan utama penggunaan metode bercerita adalah untuk mengembangkan kemampuan bahasa reseptif pada peserta didik.

Yaitu melatih peserta didik untuk mendengarkan cerita, memahami isi cerita dan menceritakan kembali isi cerita yang didengarnya. Tahap-tahap pembelajaran dengan metode bercerita ; pertama memilih topik. Topik atau materi yang akan disampaikan memilih salah satu judul cerita. Kedua menyusun kerangka cerita dengan mengumpulkan bahan-bahan untuk memudahkan dalam merangkai suatu cerita sesuai dengan judul cerita yang akan disampaikan. Ketiga mengembangkan kerangka cerita, yaitu dengan dikembangkan agar cerita lebih menarik dan mengandung muatan muatan karakter bagi peserta didik. Dan tahapan yang keempat menyusun teks cerita. Dilakukan dengan menggabungkan kerangka cerita yang telah dikembangkan. Kelima penugasan. Tahap ini guru memberi tugas peserta didik untuk menceritakan kembali apa yang tadi didengarnya.
Metode bercerita ini sangat efektif digunakan untuk mengembangkan kemampuan bahasa reseptif peserta didik karena dengan peserta didik akan senang dan antusias apabila mendengarkan guru bercerita. Dengan demikian tanpa disadari kemampuan untuk mendengarkan dan menyimak akan semakin terampil. (pg2/lis)

Baca juga:  Efektifitas Pembelajaran Dengan Musik IT

Guru TK Negeri Pembina Taman Kabupaten Pemalang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya