alexametrics

Kreativitas Tersembunyi di Balik Batik Tie Die saat Pandemi

Oleh : Dilli Hapsari Ningrum, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi merupakan sebuah epidemi yang telah menyebar ke berbagai benua dan negara, umumnya menyerang banyak orang. Sementara epidemi adalah sebuah istilah yang telah digunakan untuk mengetahui peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi area tertentu.

Pada saat pandemi ini semua kegiatan di berbagai sektor dihentikan. Dalam artian kegiatan yang dilakukan dibatasi. Bahkan dalam suatu negara diberlakukan lockdown. Sedangkan di wilayah Indonesia sendiri beberapa daerah di berlakukan pembatasan wilayah skala besar.

Tidak terkecuali sistem pendidikan yang ada di Indonesia juga dihentikan. Dihentikan dalam hal ini adalah dengan melakukan sistem mengajar melalui kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pembelajaran tetap dilakukan dengan mengunakan sistem PJJ. Guru biasanya memberikan materi secara daring baik melalui whatshap group, ataupun aplikasi-aplikasi lain yang menunjang kegiatan belajar mengajar.

Baca juga:  Hadapi Pembelajaran saat Pandemi dengan Optimalisasi Office 365

Pembelajaran seni budaya yang dilakukan di SMP Negeri 1 Tirto pada materi membatik, guru mengupayakan pemberian materi yang akan menimbulkan atau memacu kreativitas siswa-siswi dalam mengembangkan kesenian dalam seni batik.

Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Baik yang benar-benar merupakan hal baru atau sesuatu ide baru yang diperoleh dengan cara menghubungkan beberapa hal yang sudah ada dan menjadikannya suatu hal baru.

Selain itu, kreativitas adalah hal-hal yang membuat kita takjub, karena kreativitas bisa mewujudkan ide-ide cemerlang kita. Berikut ini adalah contoh-contoh kreativitas. Kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk keterpaduan antara hubungan diri sendiri, alam, dan orang lain (Clarkl Monstakis dalam Munandar, 1995).

Kemampuan untuk berkreasi dan menciptakan suatu kreativitas adalah kelebihan yang sebaiknya dimiliki oleh kamu karena akan memberikan banyak dampak positif dalam kehidupan.

Baca juga:  Dengan Program BTM2DR, Kurangi Sampah di Sekolah

Kreativitas yang dikembangkan dalam hal ini adalah kreativitas siswa dalam pembuatan batik tie die. Tie-dye adalah istilah modern yang ditemukan pada pertengahan 1960-an di Amerika Serikat.

Tetapi direkam secara tertulis dalam bentuk sebelumnya pada tahun 1941 sebagai “diikat-dan-dicelup”. Dan 1909 sebagai “diikat dan dicelup” oleh Luis C. Changsut. Untuk serangkaian teknik pencelupan tahan kuno, dan untuk produk dari proses ini. Tie dye atau ikat celup pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama yaitu menghias kain dengan cara diikat atau dalam bahasa Jawa dijumput sedikit, dengan tali atau karet, dijelujur, dilipat, sampai kedap air, lalu dicelup dengan pewarna batik.

Setiap daerah mempunyai nama teknik dan corak yang berbeda. Di Palembang dikenal sebagai pelangi dan cinde, di Jawa sebagai tritik atau jumputan, di Banjarmasin sebagai sasarengan. Di Jawa dan Bali teknik celup ikat ini sering dipadukan dengan teknik batik. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk sekreatif mungkin dalam pembuatan batik tie die ini. Setelah guru memberikan materi macam-macam cara dalam membuat batik tie die yaitu yang paling gampang adalah teknik ikat celup. Guru menerangkan apa saja bahan-bahan dan cara yang harus dilakukan dalam pembuatan batik ikat tie die dengan cara ikat celup.

Baca juga:  Tingkatkan Pembelajaran IPA dengan Metode Demonstrasi

Diharapkan di masa pandemi ini, kegiatan membatik tie die yang bisa dilakukan di rumah siswa masing-masing, dengan teknik ikat celup, bisa menjadi salah satu kreativitas siswa bertambah dan menjadi penghasilan apabila hasil kreativitas siswa benar-benar layak dan memiliki nilai jual. (ipa1/lis)

Guru SMP Negeri 1 Tirto, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya