alexametrics

Seperti Jaelangkung, Ide Perlu Diingat, Diikat dan Diendapkan

Oleh : Rahma Huda Putranto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, “Ide datang tidak diundang, pulang tidak diantar.” Ungkapan unik di atas ditulis oleh Bambang Trim dalam bukunya Menulispedia (2016). Bambang Trim menyebut kehadiran ide dalam menulis itu mirip dengan Jelangkung. Perumpamaan ini tepat. Ide memang sesuatu yang abstrak. Ide tidak dapat dipegang atau diraba. Namun, kehadiran ide sangat terasa.

Bambang Trim yang juga seorang penulis dan editor senior ini membuat akronim unik untuk kata ide. IDE merupakan singkatan dari Ingat, Diikat, Diendapkan. Sebenarnya, apa yang perlu diingat, diikat dan diendapkan agar menjadi sebuah ide?

Penjelasan jawaban di atas sama dengan menjelaskan bagaimana ide dalam menulis muncul di benak manusia. Bila dirunut dari satuan bahasa yang paling kecil, ide tulisan berasal dari kata. Kata-kata yang terlintas di pikiran dapat dirangkai menjadi sebuah frasa.

Frasa tersebut bila disandingkan dengan frasa lain berubah menjadi klausa. Bahkan berkembang menjadi kalimat. Deretan kalimat yang berjajar kini menjadi alinea. Alinea yang berbaris rapi dikelompokkan menjadi paragraf. Sedangkan paragraf dihimpun menjadi bab. Bab-bab inilah yang kita sebut sebagai karangan atau wacana. Maka di sini terlihat jelas bahwa ide dapat muncul dari sebuah kata.

Baca juga:  Metode Drill Inquiry Tingkatkan Motivasi Belajar Kecepatan

Penulis sering kali mendengar keluhan dari guru ketika diminta untuk menulis. Guru saat dituntut untuk menulis sering beralasan kalau tidak bisa menulis. Padahal secara tidak sadar, manusia yang hidup di masa kini tidak dapat terlepas dari teks. Teks mengepung manusia dalam bentuk kiriman pesan singkat atau sekedar notifikasi yang muncul di gadget.

Teks yang terdiri dari kumpulan kata tersebut sebenarnya sudah menjadi hal yang sangat cukup untuk menulis. Menulis dapat dikembangkan dari ide yang terkandung dalam teks-teks tersebut. Selain itu, ide dapat diperoleh dari kesadaran dalam memanfaatkan panca indra.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat sebuah “pekerjaan rumah” setelah ide diperoleh. Pekerjaan itu berkaitan dengan bagaimana ide ditangkap dan diendapkan. Proses penangkapan dan pengendapan ide sangat dibutuhkan untuk menulis.

Baca juga:  Pembelajaran Video Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Penangkapan atau upaya mengikat ide dapat dilakukan dengan menyusun ide-ide tersebut dalam bentuk daftar. Penyusunan daftar ide dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan. Buku catatan ini memuat poin-poin penting dari setiap ide yang terbesit.

Penulisan poin-poin ide ini kini tidak terbatas hanya menggunakan buku cacatan. Buku dapat digantikan dengan aplikasi catatan yang ada di setiap gadget. Aplikasi pencatat tersedia banyak pilihan. Pemilihan aplikasi catatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Aplikasi catatan yang baik adalah aplikasi catatan yang menyimpan catatan dengan sinkronisasi data di penyimpanan awan. Sehingga catatan yang ditulis dapat dibuka dan diedit dimana saja. Pengeditan dapat dilakukan menggunakan semua perangkat yang terhubung internet.

Pencatatan ide-ide ini penting. Apalagi ketika mengobrol dengan orang lain. Mengobrol dengan orang lain bila disadari lebih mendalam adalah sebuah aktivitas bertukar pikiran (brainstorming). Ketika mengobrol biasanya seseorang mendapatkan ide-ide baru. Ide-ide baru inilah yang perlu diikat dalam bentuk daftar catatan ide.

Baca juga:  PGRI Launching Buku Biografi HM Natsir

Selain cara di atas, ada cara lain untuk menangkap dan memperkaya ide yang dimiliki. Caranya adalah dengan membagikan ide kepada orang lain. Pembagian ide kini sangatlah mudah sejak media sosial digemari oleh masyarakat.

Media sosial dapat dijadikan sarana untuk berbagi ide. Ide-ide yang kita bagikan di media sosial dapat ditanggapi oleh para pembaca. Pembaca dapat memberikan reaksi dari “like” sampai dengan komentar. Dari reaksi dan komentar-komentar inilah biasanya ide baru muncul. Ide-ide baru inilah yang akan memperkaya ide kita.

Pada akhirnya, setiap kesan, pemikiran atau apapun yang terbesit dalam pikiran perlu untuk dingat, diikat, dan diendapkan menjadi sebuah ide tulisan. Kini sudah tidak zamannya lagi menunggu ide datang. Layaknya Jaelangkung, ide bukan ditunggu tapi dijemput. (pm2/lis)

Guru, Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Pengurus Kabupaten PGRI Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya