alexametrics

Pendidikan Karakter Siswa di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Setyo Samiyarti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada 30 Januari 2020, WHO (World Health Organization) menetapkan pandemi Covid-19 sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat secara internasional (Guner, Hasanoglu dan Aktas, 2020). Pandemi Covid-19 berdampak pada semua bidang, tak terkecuali pendidikan. Terjadi perubahan kurikulum pembelajaran pada siswa yang mewajibkan pembelajaran jarak jauh atau online.
Guru sebagai seorang pendidik dituntut menjadi leader dari siswa didiknya. Di era pandemi Covid seperti ini, pembelajaran online menjadi tantangan baru bagi guru untuk memberikan materi, dorongan moral serta akhlak kepada siswa didiknya. Sebagian besar guru hanya terfokus pada materi dan tugas, sehingga aspek afektif terlewatkan. Terlebih sebagai guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), tentu saja pekerjaan berat bukan hanya memastikan karakter siswa. Tetapi juga memberikan sharing guru mata pelajaran lain untuk menyelipkan aspek afektif dalam pembelajaran online.
Setidaknya, terdapat beberapa strategi yang diterapkan di SMKN 1 Ngablak Kabupaten Magelang dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu: pertama, edukasi kepada siswa tentang cara mendapatkan informasi Covid-19 dan persebarannya.

Baca juga:  Belajar Bioteknologi Melatih Siswa Berwirausaha

Stigma dan labelling kepada pasien Covid-19 dan keluarga, menjadi tantangan bagi guru untuk memberikan edukasi kepada siswa tentang cara mendapatkan informasi valid Covid-19 dan memberikan pengarahan agar tidak menyebarkan isu-isu yang diakui kebenarannya.

Kedua, dorongan untuk memunculkan ide kreatif dalam pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Siswa sebagai harapan bangsa, didorong guru untuk memunculkan ide kreatif dalam pencegahan dan penanggulangan Covid-19 sebagai bentuk kepedulian dan sifat patriot kepada bangsa dan negara.

Ketiga, dorongan untuk membantu sesama serta menumbuhkan kebiasaan gotong royong. Penguatan karakter untuk peduli terhadap lingkungan sekitar, melihat bahwasanya pandemi Covid-19 seringkali membuat seseorang menjadi apatis terhadap lingkungannya. Sehingga pendidikan karakter dimaksudkan untuk menumbuhkan kepedulian dalam keluaga maupun lingkungan sekitar. Contohnya memberi bantuan orang lain yang terkena dampak ekonomi.

Baca juga:  Supervisi Kepsek Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Keempat, menumbuhkan rasa simpati, empati dan nasionalisme. Adanya stigma dan labelling pasien yang terpapar Covid-19 maupun keluarganya membuat masyarakat menjauhi. Hal ini menjadi pendorong bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan untuk memberikan edukasi dan penguatan sehingga siswa dapat membangun kepedulian tanpa melihat latar belakang ataupun kondisi seseorang. Salah satu contohnya dengan memberikan semangat melalui pesan atau telepon di whatsapp.

Kelima, peningkatan religiusitas. Pembelajaran online yang diterapkan oleh pemerintah secara tidak langsung memberikan keleluasaan waktu bagi siswa. Dalam hal ini guru memberikan dorongan untuk meningkatkan ibadah maupun doa sebagai penguatan kehohanian.

Keenam, dorongan untuk semangat dan tidak putus asa. Pembelajaran online yang berjalan hampir satu tahun penuh berdampak pada kejenuhan siswa dalam belajar, maka penguatan guru dimaksudkan untuk memberikan dorongan bagi siswa untuk tetap semangat belajar dan menggapai cita-cita yang diharapkan.

Baca juga:  Membangun Toleransi di Kalangan Pelajar dalam Heterogenitas Indonesia

Dalam memastikan strategi yang diterapkan dapat berjalan dengan baik, guru menjalin komunikasi intensif dengan orang tua. Karena dorongan keluarga menjadi faktor penting terciptanya pembelajaran yang memenuhi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Harapannya, dengan terpenuhinya seluruh aspek dalam pembelajaran maka, pembentukan dan pengembangan potensi siswa sesuai falsafah pancasila dapat tercapai. Selanjutnya, melalui pendidikan karakter di era pandemi Covid-19 dapat memperkuat dan memperbaiki peran keluarga, lingkungan, agama, dan pembangunan bangsa. Terakhir, dengan pendidikan karakter dapat memberikan penguatan dalam budaya bangsa sendiri dan mampu memfilter budaya asing yang tidak sesuai dengan falsafah pancasila. (pm1/lis)

Guru PKn SMKN 1 Ngablak Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya