alexametrics

Pendidikan Inklusif Cermin Pendidikan yang Manusiawi

Oleh: Ujang Kamaludin, M.S.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan adalah upaya sinergi yang terencana untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi peserta didik sehingga memiliki sistem, cara berpikir, nilai, moral dan keyakinan untuk bekal hidup di masa kini dan mendatang. Sedangkan inklusif merupakan sikap terbuka, mengakui, menerima, memahami dan menghormati keberadaan kelompok-kelompok yang berbeda.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang menghadirkan berbagai keragaman peserta didik dalam satu komunitas sehingga mereka dapat bersinergi tanpa sekat-sekat yang menghambat beraktivitas.
Di Indonesia, pendidikan inklusif baru sebatas mimpi. Ini dibuktikan dengan berbagai contoh. Misalnya, masuk sekolah dengan syarat sehat jasmani dan rohani. Dengan syarat tersebut lembaga pendidikan telah berlaku diskriminatif kepada orang yang dianggap sakit. Dengan syarat sehat rohani, lembaga pendidikan telah mengingkari fungsinya sebagai lembaga perbaikan mental.

Pendidikan yang baik itu yang menghadirkan berbagai keragaman manusia. Itulah pendidikan yang manusiawi. Sebab alam ini diciptakan dalam keberagaman. Termasuk manusia di dalamnya. Hal yang paling merugikan adalah sikap diskriminatif terhadap difabel. Difabel merupakan bahasa serapan. Istilah ini sangat humanis. Difabel merupakan gabungan dari kata different ability atau perbedaan kemampuan. Inilah makna lain yang terkandung dalam keragaman. Sayangnya difabel ini kemudian diganti dengan istilah penyandang disabilitas, yang artinya orang yang tidak mampu.

Baca juga:  Mudah Pahami Hardware Komputer dengan AZ Screen Recorder di G-Class

Dalam UU No. 8 Tahun 2016 dijelaskan penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, mental, intelektual dan atau sensorik dalam jangka waktu yang lama. Dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berinteraksi atau berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya. Berdasarkan kesamaan hak dalam menjamin terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, informasi, prasarana, aksesibilitas dan hak-hak lainnya.

Makna keterbatasan pada UU tersebut sesungguhnya tidak hanya melekat kepada difabel, tetapi kepada semua manusia. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia, dalam hal-hal tertentu pasti menjadi disabilitas. Misalnya ketika tunanetra yang membaca dengan huruf braille, sedang temannya membaca dengan huruf latin. Apakah keduanya itu difabel atau disabilitas? Dari sisi kemampuan mereka bukan disabilitas, karena mampu membaca dan menulis. Tetapi dari bagaimana cara membaca dan menulis, itulah difabel. Bahkan ketika gelap tanpa lampu, tunanetra bisa membaca dan menulis dengan huruf braille tidak ada hambatan. Pada waktu bersamaan orang membaca dan menulis dengan huruf latin menjadi disabilitas.

Baca juga:  Asyik Belajar Konsep Ekonomi Kreatif dengan Menyusun Business Plan Sederhana

Penyandang disabilitas umumnya korban dari prasangka yang keliru, sehingga berakibat perlakuan diskriminasi, treatment yang salah serta perampasan terhadap hak untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan dan layanan yang setara (Azra 2017).

Untuk menjamin terwujudnya pemenuhan hak, perlu upaya yang dilakukan agar kesadaran kolektif terhadap keragaman manusia dapat tumbuh dengan baik. Salah satunya dengan menerapkan pendidikan inklusif.

Melalui pendidikan inklusif perubahan mindset itu akan terjadi. Sebagai negara berkeadilan sosial, Indonesia berkewajiban melindungi hak asasi warganya, termasuk difabel. Terpenuhinya hak dasar difabel mestinya diterima secara adil dan merata. Contohnya di bidang kesehatan, difabel rungu wicara tidak bisa leluasa menyampaikan keluhan terkait hal yang dianggap pribadi saat memeriksakan kesehatannya, karena belum ada petugas yang memahami cara berkomunikasinya.

Baca juga:  Meningkatkan Keterampilan Berbicara dengan Permainan Snow Ball Grenade

Difabel daksa juga mengalami kesulitan mengakses langsung pelayanan di gedung unit pelayanan. Sebab tidak ada pintu masuk/lobi yang aksesibel dengan pengguna kursi roda.

Tidak adanya layanan dan sarana yang aksesibel, membuat difabel termasuk ibu hamil, anak-anak dan lansia menjadi penyandang disabilitas. Ini akibat masyarakat sebagai perancang dan pengguna lingkungan sosialnya belum memahami keragaman manusia. Padahal masyarakat ini produk pendidikan masa lalu. Sedangkan masyarakat mendatang adalah produk pendidikan saat ini.

Agar pendidikan menjadi inklusif, harus dimulai dari sistem yang inklusif, tenaga yang inklusif, peserta didik yang inklusif dan layanan serta sarana yang aksesibel. Ingatlah, difabel ada di sekitar kita, atau bahkan bersama kita, atau bahkan termasuk diri kita. (pm1/lis)

Guru Pendidikan Agama Islam SMKN 1 Salam, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya