alexametrics

Dengan Pendekatan Kontrastif Pembelajaran Pronunciation Lebih Efektif

Oleh : Rustita Miarti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Menurut Pusat Kurikulum (2006:2), kemampuan bahasa Inggris adalah kemampuan seseorang yang mencakup empat aspek yaitu performatif, functional, informational, dan epistemi. Pada tingkat performatif, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan.

Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa. Sedangkan pada tingkat epistemi orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran.

Wells 1987 dalam Puskur (2006:4) menyatakan pembelajaran bahasa Inggris di SMP ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari (life skills).

Tahir (2015) menyatakan seseorang dianggap sukses mempelajari sebuah bahasa asing ketika mampu menggunakan bahasa tersebut dalam berbicara. Dalam praktiknya, kendala yang sering terjadi dalam kemampuan berbicara atau speaking terletak pada kelancaran, ungkapan-ungkapan yang sesuai konteks dan pengucapan atau pronunciation.

Baca juga:  Independent Awareness Training Tingkatkan Kemampuan Menulis Naskah Pidato

Siswa masih lemah dalam hal pelafalan. Penulis menemukan banyak sekali kesalahan siswa dalam melafalkan suatu kosakata dengan benar. Misalnya, saat melafalkan cook (kuk) menjadi (cok), You (yu) menjadi (you) dan masih banyak lagi. Pronunciation siswa sangat kental dipengaruhi oleh pelafalan bahasa ibu.

Pengucapan (pronunciation), bagaimana kata diucapkan adalah salah satu aspek yang memiliki pengaruh besar penguasaan berbahasa. “Pengucapan adalah cara di mana orang tertentu mengucapkan kosakata dalam berbahasa” (Wehmeler 2003: 157). Ada pengucapan yang berbeda antara kosakata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, seperti yang dinyatakan oleh Sailun (2001: 24) : “Setiap bahasa memiliki fonem khusus. Bahasa Inggris memiliki pengucapan yang berbeda dengan Indonesia. Maka, siswa memiliki masalah dalam pengucapan. Para siswa mengalami kesulitan untuk beberapa alasan. Alasan pertama adalah ada beberapa pengucapan bahasa Inggris tidak ada di Indonesia. Fonem / θ / (thin) dan /δ/ (this) ditemukan dalam bahasa Inggris, tentu saja itu tidak muncul dalam bahasa indonesia. Alasan kedua adalah meskipun suara yang diberikan mungkin ada dalam bahasa Inggris dan Indonesia bentuk dan penggunaan yang tepat sulit untuk di aplikasikan”.

Baca juga:  Video Roti Ulang Tahun Mudahkan siswa Memahami Pecahan Sederhana

Kenworthy (Brown, 2001: 284-285) menyatakan ada enam faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran pronunciation; pertama bahasa ibu, kedua umur, ketiga exposure, keempat kemampuan fonetis bawaan, kelima identitas dan ego bahasa, dan keenam motivasi dan komitmen untuk mencapai pronunciation yang baik.

Kemudian studi tentang pemerolehan bahasa kedua yang ditinjau oleh Richards (1971) dan hasil penelitian Jain (1969) mengimplikasikan interferensi dari bahasa ibu ke bahasa sasaran mempunyai kecenderungan kemunculan yang paling tinggi pada tataran fonologi, tetapi paling rendah pada tataran sintaksis. Hasil temuan lainnya (Jaszczolt, 1995 & Taylor, 1975, yang disitir Brown, 2000) adalah bahwa tahap awal pembelajar bahasa kedua (B2) sangat rentan terhadap transfer antarbahasa (interlingual tranfer), atau interferensi bahasa pertama (B1).

Baca juga:  Tingkatkan Minat, Motivasi, dan Hasil Belajar IPS Siswa dengan Metode Jigsaw

Penulis mencoba meningkatkan efektivitas pembelajaran pronunciation agar anak lebih mudah menguasai dengan melakukan seleksi materi dengan pendekatan kontrastif. Linguistik kontsatif dengan analisis kontrastifnya dilandasi oleh suatu asumsi dasar, yaitu bahwa setiap orang memiliki kecenderungan memindahkan unsur-unsur bahasa dan kebudayaan pertama ke dalam unsur-unsur bahasa dan kebudayaan kedua (Lado dalam Dulay & Burt, 1974: 97).

Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran pronunciation dengan pendekatan analisis kontrastif adalah materi disusun berdasarkan perbedaan-perbedaan kontrastif antara sistem bunyi bahasa sasaran (bahasa Inggris) dan sistem bunyi bahasa siswa (bahasa Indonesia dan/atau bahasa Jawa), baik pada tingkat segmental maupun nonsegmental.

Dengan menggunakan materi kontrastif, tindakan pembelajaran pronunciation bahasa Inggris dapat terarah kepada butir-butir yang merupakan masalah besar bagi siswa sebagai pelajar bahasa kedua. (ti2/lis)

Guru Bahasa Inggris SMPN 4 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya