alexametrics

Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif pada Pembelajaran PAI

Oleh : Slamet Indriyati S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, JALAN yang dituju manusia agar bisa mencari jati dirinya dan memahami fitrahnya yakni mahkluk ciptaan Allah SWT adalah dengan cara menuntut ilmu melalui pendidikan. Dalam konteks Islam, term yang paling popular digunakan untuk mengistilahkan pendidikan adalah tarbiyah. Term ini telah mencakup keseluruhan kegiatan di dalam dunua pendidikan.

Pendidikan Islam merupakan kegiatan mempersiapkan siswa untuk dapat memahami nilai-nilai Islam dan menyelaraskannya dalam kehidupan bersosialisasi dengan masyarakat. Karena sesungguhnya fungsi manusia adalah mempersiapkan diri dan mengumpulkan amal kebaikan untuk bekal di akhirat kelak. Pendidikan Islam juga bisa disimpulkan sebagai kegiatan belajar mengajar yang dapat memberikan panduan atau pondasi dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat.

Baca juga:  Belajar Membaca Ayat-Ayat Pendek Alquran melalui Index Card Match

Tugas dan peranan guru antara lain menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan, mempersiapkan, serta mengevaluasi kegiatan siswa. Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar secara benar. Permasalahan yang dialami peserta didik kelas VI SDN 02 Harjosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, adalah motivasi belajar menurun. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar yaitu pada materi Senangnya Meneladani Para Nabi dan Ashabul Kahfi.

Maka penulis menerapkan model Berpikir Kreatif (Creative Thinking Model) ini dirancang untuk meningkatkan kefasihan, fleksibilitas, dan orisinilitas yang digunakan peserta didik untuk mendekati benda-benda, peristiwa-peristiwa, konsep-konsep, dan perasaan-perasaan. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa peserta didik harus mempelajari teknik-teknik yang menstimulasi kreativitas mereka.

Baca juga:  Menerapkan Discovery Learning dalam belajar Interaksi Sosial

Suasana kelas harus kondusif. Karena itu, adanya respon yang berbeda-beda antarpeserta didik, tetap harus dihargai dan diberi imbalan (reward). Peserta didik yang mempelajari teknik-teknik kreatif diharapkan dapat memanfaatkannya secara efektif untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam mata pelajaran tertentu. Agar guru-guru berhasil dalam menggunakan model ini, maka mereka harus mampu, pertama, membangun suasana yang memungkinkan bagi diterimanya semua ide atau pendapat, yang tidak hanya karena bermanfaat untuk saat itu saja, tetapi juga karena keaslian ide-ide dari peserta didik serta potensi mereka untuk menuju ke ide-ide baru. Kedua, membantu peserta didik agar menyadari kekurangannya sekaligus memberikan penjelasan dan meyakinkan bahwa semua peserta didik memiliki ide baru. Ketiga, membantu peserta didik agar menjadi lebih terbuka dan lebih peka terhadap lingkungan mereka. Keempat, menjamin tiadanya suasana yang formal atau seperti sedang dites. Sebab suasana formal, biasanya dapat mengganggu kreativitas dan berpikir orisinil peserta didik. Kelima, memberikan stimulan (rangsangan) yang mengajak peserta didik berpikir jernih.

Baca juga:  Pemanfaatan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar di Sekolah

Model pembelajaran berpikir kreatif menekankan siswa untuk berdiskusi dengan teman dan gurunya. Model pembelajaran ini menghasilkan perubahan konseptual. Bahkan tanpa disadari, dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. (pg2/ida)

Guru PAIBP SDN 02 Harjosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya