alexametrics

Belajar Tata Surya dengan Pendekatan Kontruktivisme Lebih Imajinatif

Oleh : Rima Melyana, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendekatan dapat dipandang sebagai suatu rangkaian tindakan yang terpola atau terorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu (misalnya dasar filosofis, prinsip psikologis, prinsip didaktis, atau prinsip ekologis), yang terarah secara sistematis pada tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

Dengan demikian pola tindakan tersebut dibangun di atas prinsip-prinsip yang telah terbukti kebenarannya sehingga tindakan-tindakan yang diorganisasi dapat berjalan secara konsisten ke arah pencapaian tujuan. Berdasarkan pengertian di atas, pendekatan mengandung sejumlah komponen atau unsur. Yaitu tujuan, pola tindakan, metode atau teknik, sumber-sumber yang digunakan, dan prinsip-prinsip.

Tidak dapat dipungkiri pendidikan ini tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan manusia. Sebab kehidupan dalam sebuah masyarakat ditentukan oleh aktivitas pendidikan di dalamnya.

Pemerintah, masyarakat, orang tua, siswa dan guru mempunyai peran tersendiri dalam pelaksaan proses pendidikan. Guru bertugas sebagai center yakni menciptakan suasana pembelajaran semenarik mungkin yang membuat siswa secara jelas menangkap isi pelajaran yang dijelaskan jadi tujuan dari pembelajaran tersebut bisa dicapai seluruhnya. Penulis ingin merubah pembelajaran pembiasaan lama menjadi bermakna, dikarenakan peserta didik kelas VI SDN 02 Wringinagung mengalami penurunan hasil belajar ulangan harian pada materi Tata Surya.

Baca juga:  Dengan Whatsapp Tingkatkan Kreativitas Siswa Belajar PJOK dari Rumah

Penerapan model yang tidak beragam selalu membuat guru menjadi pusatnya juga menjadi salah satu penyebabnya kegagalan dalam proses KBM. Penulis mencoba memperbaiki model ataupun pendekatan pembelajaran, yaitu meneggunakan pendekatan konstruktivisme merupakan landasan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme berusaha untuk melihat dan memperhatikan konsepsi dan persepsi siswa dari kacamata siswa sendiri. Guru memberi tekanan pada penjelasan tentang pengetahuan tersebut dari kacamata siswa sendiri. Guru dalam pembelajaran ini berperan sebagai moderator dan fasilitaitor, Suparno (1997 : 66) menjabarkan beberapa tugas guru tersebut sebagai berikut: Pertama, menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan (sistem tata surya), proses penelitian. Kedua, menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingin tahuan siswa membantu mereka untuk mengeskpresikan gagasan-gagasannya dan mengomunikasikan ide ilmiah mereka. Ketiga, menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir produktif. Guru harus menyemangati siswa. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan dengan tata surya.

Baca juga:  Project Base Learning dan Pembelajaran Kolaborasi, Solusi Tepat di Era PTM Terbatas

Dengan pendekatan konstruktivisme siswa mampu meningkatkan pengetahuan mereka untuk membangun sekaligus menemukan hal-hal baru, dan membuat pembelajaran yang lebih terpusat kepada siswa dalam proses pembelajaran agar lebih mengesankan dan mudah untuk diingat dalam mencapai tujuan pembelajaran. (pg2/lis)

Guru Kelas VI SDN 02 Wringinagung, Kec. Doro, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya