alexametrics

SPJ di Indonesia Menyenangkan dengan Mading dan Kartu Berkarakter

Oleh: Titik Qurniati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Seorang filsuf China, Konfusius mengemukakan, “Saya dengar, saya lupa, saya lihat, saya ingat, saya lakukan, saya paham.” Pernyataan itu sebagai wujud belajar akan lebih bermakna dan menghasilkan jika tidak sekadar didengar, dilihat, tetapi harus dilakukan.

Sejalan dengan itu, Prof Arief Rahman menyatakan dalam buku yang berjudul Guru bahwasanya Allah Swt, membekali manusia dengan tiga hal, yaitu heart, head dan hand. Ketiga hal ini sepadan dengan behavior, brain dan body (Ukim Komarudin, 2015:34). Ketiga kompetensi itu akan menghasilkan hasil belajar maksimal jika digunakan secara seimbang melalui prinsip belajar aktif.
Belajar aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar aktif. Siswa yang mendominasi aktivitas pembelajaran dengan melibatkan otak dan fisik, sehingga suasana menyenangkan dalam belajar dapat dihadirkan (Hisyam Zaini, 2002: xii).

Belajar aktif sangat diperlukan siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika siswa pasif atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan guru. Maka diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang diterima dari guru.
Berdasarkan hasil pengamatan dalam interaksi pembelajaran mata pelajaran sejarah di kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dukun, terutama materi sejarah pendudukan Jepang (SPJ) di Indonesia, penulis menjumpai siswa malas membaca materi pelajaran sejarah yang identik dengan menghafal dan mendengarkan cerita dari guru. Siswa hanya bisa berkonsentrasi kurang lebih 15 menit awal. Setelahnya sudah jenuh dan tidak memperhatikan lagi.

Baca juga:  Pembelajaran Daring dan Permasalahannya

Inilah sumber masalah dalam pembelajaran materi SPJ di Indonesia. Oleh karena itu, penulis harus menggunakan media pembelajaran agar siswa termotivasi dan aktif belajar dalam mengikuti pembelajaran materi SPJ di Indonesia di kelas. Media pembelajaran yang penulis terapkan adalah model penugasan mading dengan kartu berkarakter.

Media pembelajaran ini akan memotivasi siswa aktif dalam mengikuti KBM. Melalui media pembelajaran mading ini siswa dapat menyampaikan materi lewat media gambar, tulisan dan mengomunikasikannya secara lisan. Untuk karakter bertanggung jawab dan penilaian objektif, siswa dilibatkan dengan penilaian antarteman dengan bantuan kartu berkarakter (Nining Mariyaningsih, 2018: 170).
Aplikasi praktis media mading dan kartu berkarakter dalam pembelajaran dilakukan dengan memberi penugasan. Penugasan dikerjakan secara berkelompok yang terdiri dari 4 siswa dengan kebebasan dalam proses pembuatan karya mading tersebut.

Baca juga:  Mengatasi Masalah Pembelajaran Daring dengan Aplikasi Google Classroom

Disamping membuat mading masing-masing siswa membuat kartu berkarakter emoji bahagia dan emoji sedih di kertas asturo dengan warna yang berbeda. Kartu berkarakter ini akan ditunjukkan siswa saat guru menyuruh mereka menilai temannya.

Media pembelajaran mading dan kartu berkarakter ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Media ini akan berhasil baik dan melibatkan siswa aktif dalam KBM jika siswa mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas. Diiringi yel-yel kelompok yang bernuansa sejarah dan nasionalisme. Namun, kelemahannya, keaktifan siswa secara totalitas tidak terpantau karena pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia praktis membuat banyak aktivitas tidak bisa berjalan normal atau bahkan terhenti. Termasuk ketika penulis mempraktikkan media pembelajaran ini, mulai pembentukan kelompok, pembuatan karya, kepengawasan siswa, presentasi serta penilaiannya pun dilakukan secara online (Google Meeting).

Baca juga:  Membangun Karakter Bangsa melalui Profil Pelajar Pancasila

Dengan menggunakan media pembelajaran mading dan dibantu alat peraga kartu berkarakter pembelajaran materi SPJ di Indonesia di kelas XI IPS SMA Negeri 1 Dukun menjadi menarik, belajar lebih menyenangkan dan siswa lebih memahami materi yang dipelajarinya walau dilakukan secara online.

Meskipun demikian, kegiatan pembelajaran dengan bantuan kartu berkarakter ini hanya bisa diterapkan pada materi-materi tertentu. Terlepas dari kekurangannya, dengan bantuan alat peraga dan metode yang tepat maka kegiatan belajar mengajar di kelas pada mata pelajaran sejarah akan semakin menarik dan menyenangkan. Tidak akan ada lagi pertanyaan dari siswa : Apa gunanya belajar sejarah? (pm1/lis)

Guru Sejarah SMAN 1 Dukun, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya