alexametrics

Mengatasi Masalah dengan “Masalah”

Oleh : Supardi, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MUATAN Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mupel wajib disemua jenjang pendidikan termasuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ada hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru yaitu sikap yang meliputi rasa ingin tahu anak-anak tentang hal yang akan dipelajari, proses yang meliputi prosedur selama pembelajaran, produk yang meliputi tingkat keberhasilan pembelajaran, aplikasi yang meliputi penerapan konsep Ilmu Pengetahuan Alam dalam kehidupan sehari- hari. Namun pembelajaran Imu Pengetahuan Alam di SD Negeri 01 Dororejo terdapat masalah yang berkaitan dengan materi suhu dan kalor.

Hal ini terjadi karena sikap, proses, aplikasi belum ada perhatian khusus dari guru. Selama proses pembelajaran suhu dan kalor anak-anak mengalami kesulitan terutama dalam menentukan jenis perpindahan kalor apakah konduksi, radiasi ataukah konveksi terutama pada fenomena yang tidak terdapat dibuku pelajaran. Hal ini disebabkan cara anak memahami materi yang kurang efektif. Kebanyakan anak memahami materi dengan metode hafalan. Konsep dasar materi tidak dikuasai sepenuhnya. Sehingga ketika diberikan masalah lain diluar buku teks mereka mengalami kesulitan. Metode mengatasi masalah dengan “masalah” dapat digunakan untuk menanamkan konsep perpindahan kalor secara konduksi, radiasi dan konveksi.

Baca juga:  Pendidikan Cinta Lingkungan melalui Pembiasaan Jumat Bersih

Mengatasi masalah dengan “masalah” yang populer dengan sebutan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Solving). menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa. Dalam belajar, siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit. Kerja kelompok dapat digunakan untuk membantu penerapan metode pembelajaran ini. Anak-anak dihadapkan dengan fenomena sehari-hari yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Kemudian mengeksplor pengetahuan dan keingintahuannya terhadap fenomena tersebut dengan eksperimen. Hal ini bertujuan menumbuhkan sikap ilmiah untuk memecahkan suatu masalah pada anak-anak.

Untuk menerapkan metode mengatasi masalah dengan “masalah” guru harus merencanakanya dengan baik. Menentukan masalah yang akan dijadikan bahan diskusi anak serta menyiapkan instrumen eksperemen supaya pembelajaran terarah pada materi. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang akan dilakukan agar Anak-anak tahu apa tujuan utama pembelajaran, apa permasalahan yang akan dibahas, bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini untuk memberi konsep dasar kepada peserta didik. Anak-anak diberikan motivasi untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Baca juga:  Belajar PAI Lebih Mengena dengan Pengalaman Sendiri

Anak-anak dibantu untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah atau fenomena sehari-hari yang berhubungan dengan perpindahan kalor. Misalnya membantu Anak-anak membentuk kelompok kecil, membantu Anak-anak membaca contoh fenomena perpindahan kalor yang diberikan guru. kemudian mencoba untuk membuat hipotesis atas masalah yang diberikan. Anak-anak didorong untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, melakukan eksperimen sesuai arahan guru, menciptakan dan membagikan ide mereka sendiri untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Anak-anak dibantu dalam menganalisis data yang telah terkumpul. Anak-anak memberi argumen terhadap jawaban pemecahan masalah. Argumen anak-anak dapat dituliskan dalam bentuk laporan.
Anak-anak diminta untuk membacakan laporan yang telah ditulis didepan kelas. Guru dan Anak-anak menganalisis dan mengevaluasi terhadap pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok. Setelah selesai pembelajaran, guru memberikan penguatan dan kesimpulan.

Baca juga:  Pembelajar Pentingnya Kehidupan yang Demokratis dengan Zoom Meeting

Dengan model pembelajaran mengatasi masalah dengan “masasalah” ini anak-anak akan memiliki konsep yang bulat tentang kompetensi dasar yang dipelajari yaitu perpindahan kalor. Sehingga mereka dapat menentukan fenomena perpindahan kalor selain yang terdapat pada buku pelajaran. (pg3/zal)

Guru SDN 01 Dororejo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya