alexametrics

Kenali Lingkunganku dengan Role Playing, Belajar Semakin Bermakna

Oleh : Anjar Sri Lestari S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari pemahaman dan penemuannya sendiri. Namun kenyataan di lapangan belum menunjukkan ke arah pembelajaran yang bermakna. Peserta didik masih melakukan pembelajaran duduk tenang, mendengarkan informasi dari guru sepertinya sudah membudaya sejak dulu, sehingga untuk mengadakan perubahan ke arah pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan agak sulit.

Saat ini kendala yang dihadapi siswa-siswi kelas 1 SDN 02 Wonorejo pada tema Lingkungan pada mata pelajaran tematik nilai 50 persen di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) madrasah. Dengan demikian, guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya, guru harus mengubahnya dari pembelajaran konvensional menjadi modern, dan cara yang tepat supaya materi dapat diingat siswa adalah guru menggunakan pembelajaran metode bermain peran.

Baca juga:  Asyik Belajar Komunikasi Matematis dengan CIRC

Penulis merombak model pembelajaran lama menjadi modern yaitu Role Playing. Metode Bermain Peran adalah suatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan orang lain. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, tetapi pada faktor penentunya, yakni perasaan, persepsi, dan sikap. Bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai yang mendasarinya.

Baca juga:  Catch and Count Tingkatkan Kemampuan Siswa Menyampaikan Pendapat

Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi. Untuk kepentingan tersebut, sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih. Bermain peran mikro, anak-anak belajar menjadi sutradara, memainkan boneka, dan mainan berukuran kecil seperti rumah-rumahan, kursi sofa mini, tempat tidur mini (seperti bermain boneka barbie). Biasanya mereka akan menciptakan percakapan sendiri. Dalam bermain peran makro, anak berperan menjadi seseorang yang mereka inginkan. Bisa mama, papa, tante, polisi, sopir, pilot, dsb.

Menurut Shaftel (1967) mengemukakan tahapan bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran yaitu, pertama, memilih partisipan atau peran, guru harus memberikan bimbingan kepada anak bagaimana ia memerankan tokoh yang ia pilih. Kedua, menyusun tahap-tahap peran. Ketiga, menyiapkan pengamat. Keempat, pemeranan. Kelima, diskusi dan evaluasi. Keenam, pemeran ulang. Ketujuh, diskusi dan evalasi tahap dua. Dan kedelapan, membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan.

Baca juga:  Penguatan Pembelajaran Daring melalui Strategi Mandiri Peserta Didik di WhatsApp Group

Dari pembelajaran di atas, bermain peran dapat digunakan sebagai sebuah cara atau metode untuk mengenalkan anak bersosialisasi. Dengan terbuktinya hasil belajar peserta didik meningkat di atas KKM. Dengan metode pembelajaran yang efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif, membantu merancang dan menyampaikan pengajaran, dan memudahkan proses belajar yang maksimal. (ti2/ida)

Guru SDN 02 Wonorejo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya