alexametrics

Experiential Learning dalam Manajemen Belajar Efektif dengan Permainan Gelas Waktu

Oleh : Trias Margi Hastuti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang tak terpisahkan dari usaha pendidikan di Indonesia. Secara fungsional, bimbingan dan konseling berperan dalam membantu individu untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahap-tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan.

Dengan kata lain bimbingan dan konseling adalah layanan yang diberikan oleh seorang guru BK kepada siswa dengan tujuan membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial, dan pribadi.

Peserta didik dituntut menjadi insan yang aktif. Baik aktif dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam memenuhi tugas-tugas dari guru. Peserta didik mempunyai banyak waktu memenuhi tugas-tugas yang harus mereka penuhi, tetapi dalam kenyataannya masih banyak siswa SMP Negeri 6 Batang yang belum bisa memenuhi tugas-tugas yang diberikan guru.

Banyak tugas yang tidak dikumpulkan tepat waktu. Bahkan tidak mengumpulkan tugas sehingga nilai akademis siswa kurang memuaskan. Hal tersebut membuat sebagian dari siswa merasa terbebani. Akhirnya berakibat buruk pada salah satu bagian dari kehidupan mereka atau bisa dibilang hidupnya menjadi tidak seimbang.

Baca juga:  Pemanfaatan Kemasan Bekas Obat dalam Pembelajaran Membaca Teks Label

Dengan kondisi tersebut guru BK terpanggil untuk mengadakan layanan informasi dalam menerapkan manajemen waktu belajar efektif. Pengaturan waktu terbilang sangat penting terutama bagi pelajar.
Tanpa pengaturan waktu yang baik dan kebiasaan belajar yang efektif, waktu akan terbuang sia-sia karena dipakai untuk mendahulukan kegiatan-kegiatan yang terbilang kurang penting. Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih penting malah tidak terselesaikan dengan baik.

Untuk menyiapkan siswa menyosong Indonesia emas 2045, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu layanan BK yang berorientasi pada HOTS adalah experiential learning. Experiential learning merupakan metode belajar yang menekankan pengalaman, diharapkan peserta didik bisa belajar dengan pengalaman selama proses bimbingan berlangsung baik pengalaman dirinya maupun pengalaman orang lain. Metode experiential learning mampu memberi dampak positif bagi peserta didik, berperan aktif selama dalam mengikuti layanan bimbingan.

Baca juga:  Teknik Podomoro, Belajar Keseimbangan Ekosistem saat Pandemi Jadi Asyik

Maka, guru BK melakukan layanan klasikal experiential learning dalam menajemen belajar efektif dengan permainan gelas waktu. Layanan klasikal dengan topik experiential learning dalam manajemen belajar efektif dengan permainan gelas waktu, guru BK membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Guru menjelaskan peraturan permainan “gelas waktu” dan dinamika kelompok. Yaitu dalam waktu 5 menit siswa diminta memasukan air, pasir dan kerikil dalam gelas kaca dengan pas. Guru membimbing siswa untuk merefleksikan pengalaman dalam melaksanakan permainan “gelas waktu”.

Memandu siswa mensharingkan nilai-nilai yang didapat dalam permaian tersebut. Menegaskan makna permainan dan menautkannya dengan kuadran waktu untuk membangun karakter siswa menghargai waktu. Layanan dengan menerapkan model experiential learning meningkatkan kemampuan siswa SMP Negeri 6 Batang dalam melakukan transfer knowledge karena langsung mengalami kegiatan.

Baca juga:  Metode Demonstrasi dapat Meningkatkan Motivasi Belajar Materi Procedure Text

Guru menjelaskan manajemen belajar efektif dan mengkaitkan dengan permainan gelas waktu sehingga siswa tidak hanya memahami konsep (pengetahuan konseptual) tetapi juga membuktikan dengan permainan yang sudah disiapkan. Pemahaman ini menjadi dasar siswa dalam belajar dan mengubah manajemen belajar efektif yang membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajar. Layanan dengan model experiential learning meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari partisipasi siswa untuk menanggapi topik yang dibahas. Dalam layanan dengan model experiential learning siswa melalui pengamatan dan praktik dapat berdiskusi yang menuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis. (ti2/lis)

Guru BK SMP Negeri 6 Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya