alexametrics

STAD Tingkatkan Hasil Belajar IPA tentang Sumber Energi Bunyi

Oleh : M. Mustafrihah, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis, tersusun secara teratur, berlaku secara umum, berupa kumpulan hasil observasi dan eksperimen. Dengan demikian sains tidak hanya sebagai kumpulan tentang benda atau makhluk hidup tetapi tentang cara kerja, cara berpikir dan cara memecahkan masalah.

IPA sebagai materi ajar di sekolah memiliki dua dimensi, yaitu sebagai produk dan proses ilmiah, yang penekanannya lebih pada dimensi proses ilmiah.

Pembelajaran IPA khususnya pada kelas IV SDN Ngawonggo 1 Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang kurang diminati siswa dikarenakan metode pembelajaran yang kurang menarik, efektif dan efisien.
Selain itu model yang sering digunakan oleh guru yaitu menggunakan ceramah. Dimana siswa tidak pernah diberi kesempatan untuk berpikir secara kritis, aktif dan kreatif. Sistem pembelajaran yang telah diberikan kepada siswa tersebut kurang mendorong meningkatnya hasil belajar siswa.

Baca juga:  Atasi Menulis Cerpen Saat Pandemi dengan Pentigraf

Untuk itu guru, khususnya guru mata pelajaran IPA harus mengubah metode pembelajaran menjadi metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan mengasyikkan.

Hasil observasi yang dicapai siswa kelas IV SDN Ngawonggo, 1 Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang pada muatan mata pelajaran IPA dengan kompetensi dasar “Menjelaskan sumber energi bunyi” menunjukkan kurang berhasilnya guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

Hal tersebut diperkuat dengan hasil ulangan tes formatif pada muatan mata pelajaran IPA dengan kompetensi dasar “menjelaskan sumber energi bunyi” kelas IV SDN Ngawonggo 1 tahun pelajaran 2020/2021 masih rendah. Di bawah KKM yaitu 65 sedangkan KKM yang ditargetkan 75.

Dari gambaran hasil observasi di atas maka perlu mengubah model pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat tercapai dan hasilnya meningkat. Menurut Salvin (2008:116), STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu: presentasi kelas (class presentation), kerja kelompok (teams works), kuis (quizzes), dan peningkatan nilai individu (individual improvement score).

Baca juga:  Tingkatkan Prestasi Belajar Matematika dengan Kuantum pada Pembelajaran Luring

Adapun langkah-langkah penerapan model pembelajaran STAD yang penulis terapkan yaitu pertama guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Kedua guru memberikan tes atau kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal. Ketiga guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan gender. Keempat bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Model pembelajaran STAD, biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi. Kelima, guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. Keenam guru memberikan tes atau kuis kepada setiap siswa secara individual. Ketujuh guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.

Baca juga:  Indahnya MeNaBung Tumbuhkan Peduli dan Berbagi Terhadap Sesama

Dengan model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada muatan IPA dengan kompetensi dasar “menjelaskan sumber energi bunyi” di kelas IV SD. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata nilai KKM siswa menjadi 86. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas kelompoknya yang menjadikan kerja kelompok optimal.

Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok. Siswa juga menjadi aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama. (pm1/lis)

Guru SDN Ngawonggo 1, Kec. Kaliangkrik, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya