alexametrics

Role Playing Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Siswa pada Materi Drama

Oleh: Sumardiasih, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Guru sebagai pendidik dituntut untuk selalu meningkatkan mutu proses pembelajaran, terutama yang dapat menjadikan siswa aktif, kreatif, senang, mandiri, terampil, religius, inovatif. Guru di samping itu juga dituntut untuk meningkatkan hasil prestasi belajar siswa agar bisa melampaui KKM setiap Kompetensi Dasar (KD) maupun KD mata pelajaran yang telah ditetapkan. Salah satu alat ukur yang dipakai untuk mengetahui kualitas atau mutu pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di madrasah dapat dilihat dari hasil belajar atau pencapaian prestasi siswa.

Memerankan tokoh dalam drama merupakan salah satu materi yang esensial di kelas XI. Kegiatan bermain peran tidak mudah dilakukan oleh setiap orang terutama oleh siswa. Siswa masih sangat jauh dikatakan sempurna dalam memainkan peran seorang tokoh dalam drama. Hal tersebut dapat lihat pada saat para siswa berakting mereka masih malu-malu, berdialog belum memperhatikan lafal, intonasi, dan nada. Ekspresi wajah dan gerak-gerik anggota tubuh juga belum muncul. Menurut observasi di lapangan menunjukkan siswa yang kemampuannya dalam bermain drama tinggi 20%, sedang 30%, dan rendah 50% . Berdasarkan rata-rata nilai ulangan harian diperoleh data: Nilai di bawah KKM: 70%, Nilai sesuai KKM: 20%, Nilai melampaui KKM : 10%.

Baca juga:  Memahami Konflik Sosial dengan Mencari Pasangan

Sebagai upaya untuk memperbaiki mutu proses pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya siswa kelas XI pada materi Drama dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Role Playing atau bermain peran. Model pembelajaran Role Playing atau bermain peran adalah suatu kegiatan menyenangkan yang di dalamnya melakukan perbuatan-perbuatan yaitu gerakan-gerakan wajah (ekspresi) sesuai apa yang diceritakan. Kemampuan berperan di sini meliputi kemampuan menghayati emosi, kesukaan,kesedihan dan kebiasaan lain dari tokoh yang diperankan serta penghayatan terhadap mimik, gerak tubuh, intonasi suara yang dimiliki tokoh.

Seperti halnya model pembelajaran yang lain, model pembelajaran Role Playing ini juga memiliki keunggulan dan kelemahan. Ada beberapa keunggulan model pembelajaran Role Playing. Pertama, dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengalaman yang menyenangkan yang sulit untuk dilupakan. Kedua, sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias. Ketiga, membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Keempat, siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan di bahas dalam proses belajar.

Baca juga:  Belajar Konsep Matematika Tingkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

Disamping memiliki keunggulan, metode role playing juga mempunyai kelemahan. Pertama, bermain peran memakan waktu yang banyak. Kedua, Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankannya. Ketiga, Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung. Keempat, Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh.

Penggunaan model pembelajaran Role Playing memang tidak dapat diterapkan untuk semua materi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi sangat tepat diterapkan dalam materi drama, meskipun dalam kenyataannya tidak semua naskah drama itu dapat dipentaskan.. Diharapkan setelah guru menerapkan model pembelajaran Role Playing dalam materi drama ini, keaktifan dan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan. (pg2/ton)

Baca juga:  Pentingnya Sinergitas Pendidik, Siswa dan Orang Tua dalam Proses Pembelajaran Era Pandemi

Guru MAN 2 Bantul Yogyakarta

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya