alexametrics

Guru Menulis: Antara Tuntutan dan Kesadaran Pemerolehan Ide

Oleh : Rahma Huda Putranto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Tuntutan guru saat ini tidak seperti dulu lagi. Guru di masa lalu menganggap kalau tugasnya hanya mengajar. Akan tetapi, guru saat ini tidak bisa hanya melakukan kegiatan rutinitas mengajar. Guru dituntut mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan.

Pengembangan keprofesian merupakan sebuah keniscayaan bagi guru. Guru tidak boleh hanya mengandalkan apa yang diperoleh di masa lalu. Tugas guru bukan mempersiapkan peserta didik untuk hidup di masa lalu. Guru harus mempersiapkan peserta didik untuk masa depan.

Pemikiran tersebut sejalan dengan diterbitkannya buku panduan pengembangan keprofesian berkelanjutan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI). Kemdikbud menuangkan program keprofesian guru dalam 5 seri buku. Kelima seri buku ini kemudian disebut dengan istilah Buku 1, Buku 2, Buku 3, Buku 4, dan Buku 5.

Seri buku pengembangan keprofesian guru ini pertama kali terbit pada tahun 2016. Seiring berjalannya waktu, Kemdikbud melakukan upaya penyempurnaan. Upaya penyempurnaan ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman. Sehingga buku seri pengembangan keprofesian guru direvisi pada tahun 2019.

Baca juga:  Pengabdian Guru di Masa Pandemi Covid-19

Salah satu poin penting dalam buku tersebut adalah adanya keharusan guru untuk menulis. Keharusan guru menulis tertuang dalam Buku 4 edisi 2016 dan 2019. Buku 4 edisi 2019 menjelaskan, guru dapat mempublikasikan karya tulisnya dimana saja. Publikasi karya tulis tidak lagi terbatas di media cetak. Namun bisa juga dipublikasikan secara daring.

Keharusan menulis dan kemudahan publikasi ini belum disambut dengan baik oleh guru. Banyak guru belum bisa memanfaatkan kemudahan publikasi. Alasannya sangatlah klise. Sebagian guru beralasan tidak bisa menulis. Penulis ketika menjadi narasumber kegiatan pelatihan penulisan sering kali menemukan fakta unik. Fakta unik tersebut berupa keluhan tidak bisa menulis karena sulit mendapatkan ide.

Kesulitan menemukan ide merupakan fakta unik untuk guru. Bukankah guru merupakan profesi yang bergumul dengan ide? Ide-ide tersebut tertuang dalam bahan pembelajaran yang disampaikan ke peserta didik. Bahkan aktivitas siswa atau kejadian yang terjadi di sekolah dapat diangkat dalam berbagai bentuk karya tulis. Karya tulis tersebut dapat berbentuk artikel, laporan praktik terbaik dalam mengajar, bahkan sampai ke produk penelitian. Penelitian berbentuk penelitian tindakan kelas atau sekolah.

Baca juga:  Guru Karyawan Siap Bartarung dalam Keunggulan

Keberadaan ide di sekitar guru belum disadari dengan baik. Padahal ide di sekitar guru dapat ditangkap dengan modalitas yang diperoleh dari Tuhan. Modalitas itu berupa panca indra. Sehingga ide dapat berasal dari apa yang dilihat, didengar, dirasa, bahkan apa yang dicecap. Maka Bambang Trim dalam bukunya Menulispedia (2016) menjelaskan terdapat lima modalitas untuk menangkap ide. Bambang Trim menyebutnya dengan VAKOG.

VAKOG merupakan akronim dari visual (penglihatan), auditory (pendengaran), kinaesthetic (gerak), olfactory (penciuman) dan gustatory (perasa/ pencecap). VAKOG sebenarnya digunakan guru setiap hari. Bahkan VAKOG digunakan setiap saat. Hanya saja, guru belum menyadari keberadaan modalitas VAKOG ini untuk memperoleh ide. Ada saja saja alasan tidak dapat menulis karena kehabisan ide.
Kesadaran akan VAKOG ini membawa kita pada penemuan ide. Ide mengalir setelah berbagai hal ditangkap oleh kelima panca indra manusia. Berbagai macam tangkapan dari panca indra kemudian disintetis dalam proses yang terjadi di otak. Otak kemudian memproduksi berbagai macam ide. Ide yang terbesit selanjutnya diwujudkan dalam bentuk tulisan.

Baca juga:  Masa Transisi, Guru yang Diterima PPPK Boleh Rangkap Tugas

Jadi, para guru bisa mulai untuk membiasakan menulis. Guru tak perlu terbebani dengan tuntutan bahwa tulisan harus benar, baik, dan atau indah. Tulis pengalaman yang ditemui. Tuliskan apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dilakukan, apa yang diabui, dan apa yang dicecap. Sampai di sini, mari merenung dan mulai menulis! (pm1/lis)

Guru, Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Pengurus Kabupaten PGRI Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya