alexametrics

Pembelajaran Blended Learning sebagai Solusi Daring

Oleh : Jaenatun S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 menyebabkan lumpuhnya kegiatan dan aktivitas manusia termasuk dalam bidang pendidikan. Pembelajaran yang semula dilakukan di kelas diubah menjadi kegiatan pembelajaran secara daring karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka. Namum sistem pembelajaran daring masih memiliki kelemahan terutama ketidaksiapan pihak guru maupun peserta didik. Salah satu solusi yang dapat dipilih yaitu pembelajaran yang memadukan antara pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka yang dikenal dengan istilah Blended Learning.

Blended Learning merupakan pembelajaran yang mengombinasikan atau menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan (Driscol, 2002). Menurut Graham (2005) menyatakan bahwa Blended Learning sebagai pembelajaran yang mengombinasikan antara pembelajaran online dengan face to face (pembelajaran tatap muka). Dalam pembelajaran Blended Learning pendidik atau orang tua memiliki peranan yang sama pentingnya, dimana pendidik sebagai fasilitator dan orang tua sebagai pendukung (Prayitno, 2015).

Baca juga:  Pembelajaran Kontekstual Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Pembelajaran Blended Learning diterapkan oleh penulis pada kelas VI SDN Balok, Kabupaten Kendal pada muatan pelajaran IPA Kompetensi Dasar (KD) menghubungkan ciri pubertas pada laki-laki dan perempuan dengan kesehatan reproduksi. Dalam pembelajaran tersebut, guru dituntut dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik tidak hanya sebatas teori, tetapi juga mengenai sikap dan perilaku positif yang harus dimiliki pada masa pubertas.

Pelaksanaan pembelajaran Blended Learning sebagai berikut, pertama, pendampingan secara tatap muka (face to face), dilakukan dengan mendatangi rumah peserta didik. Cara pendampingan secara door to door ini dipilih untuk mengurangi kerumunan massa yang dapat menyebabkan penyebaran Covid-19. Cara ini mempermudah dalam penyampaian materi, karena lebih intensif antara peserta didik dan guru. Kegiatan pendampingan secara tatap muka dilakukan sebanyak dua kali sehari dalam kurun waktu dua kali per pekan yaitu hari Senin dan Jumat. Peserta didik yang ikut dalam pendampingan secara tatap muka maksimal lima kali setiap pertemuan dan tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan.

Baca juga:  Happy and Fun Belajar Hijaiyah dengan Kartu Puzzle

Pendampingan secara online, untuk memfasilitasi peserta didik atau orang tua yang memiliki kendala terhadap materi yang telah disampaikan atau kendala dalam mengerjakan tugas. Kegiatan ini memanfaatkan media whatsapp (WA). Dengan berbagai fitur dan waktu yang lebih fleksibel, dapat membantu peserta didik atau orang tua dalam mengatasi kesulitan selama sekolah daring.
Pendampingan secara online memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Bagi peserta didik, pendampingan secara online merupakan salah satu alternatif belajar yang tidak mengharuskan mereka hadir di kelas. Pendampingan secara online membantu peserta didik membentuk kemampuan kognitif dan mengembangkan keterampilan dalam belajar materi tertentu. Sedangkan bagi guru, pendampingan secara online mengubah gaya mengajar konvensional yang secara tidak langsung akan berdampak pada profesionalitas kerja. Pendampingan secara online juga memberi kesempatan bagi guru untuk menilai dan mengevaluasi belajar peserta didik secara lebih efisien.

Baca juga:  Belajar Lingkaran dengan Berpikir Kritis dan Bernalar

Penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran Blended Learning berhasil dengan indikator peserta didik dan orang tua terbantu dan memberikan respon positif terhadap pendampingan belajar. Bentuk pembelajaran ini memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar secara efektif dan efisien, dan mampu meningkatkan kemandirian. Peserta didik mudah memahami materi karena proses belajar mengajar merupakan gabungan dari pendampingan secara tatap muka dan online. (pg1/ida)

Guru SDN Balok, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya