alexametrics

Pembelajaran Menyajikan Berita Asyik dengan Video

Oleh : Hifdhiyah S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN merupakan hubungan interaksi dan transfer ilmu antara siswa dan guru. Tujuan utamanya agar ilmu tersebut dapat diserap dan dipahami oleh siswa. Pembelajaran daring berbasis e-learning dan blended learning menjadi pilihan di masa pandemi Covid-19. Akan tetapi, ada kendala utama, dalam penerapan pembelajaran daring ini.

Hal itu terletak pada bagaimana mengoptimalkan proses belajar mengajar yang tidak dilakukan secara tatap muka di ruang kelas. Juga hal lainnya, yakni aspek kesiapan dari siswa untuk melakukan sistem pembelajaran daring. Di tengah pandemi Covid-19, guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi informasi. Dengan pemanfaatan teknologi tersebut, guru bisa menciptakan metode pembelajaran yang lebih menarik dan tidak membosankan, juga dapat diterima oleh siswa. Bahkan hasilnya bisa sesuai harapan.

Pembelajaran bahasa Indonesia kelas VIII, khususnya pada kompetensi dasar (KD) menyajikan berita telah coba diterapkan untuk menjadi pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Setelah guru memberikan pembelajaran daring, siswa diajak membuat tugas secara daring. Siswa menyajikan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya dalam berita yang disampaikan secara lisan dan divideokan. Ternyata hal ini sangat menarik. Pembelajaran tidak hanya tentang mengikuti pembelajaran dari guru, tetapi siswa diajak berkreasi, dan berinovasi.

Baca juga:  Penggunaan Metode Eksperimen dalam Pembelajaran IPA

Pertama, menemukan ide berita yang dapat diperoleh dari peristiwa di sekitar siswa. Yakni berita yang sudah dimuat di media massa dan disampaikan kembali dengan kemasan yang berbeda dari sumber utama. Kedua, menentukan kerangka berita yang mencakup dalam 5W+1H (what, who, when, where, why, how). Ketiga, mengembangkan kerangka menjadi paragraf demi paragraf, kemudian menjadi berita utuh. Siswa dilatih mengembangkan kerangka secara mandiri. Dalam proses penyusunan berita, guru memberikan layanan konsultasi lewat whatsapp dan komentar classroom. Keempat, melatih pengucapan. Siswa diminta melatih pengucapan secara mandiri sebelum melakukan perekaman. Pengucapan dapat melihat dari contoh video yang ditampilkan dalam classroom atau video pembacaan berita lain dalam youtube. Selain itu, dapat melihat pembacaan berita di televisi. Kelima, melatih intonasi yang sesuai. Dalam melatih intonasi, siswa dapat melihat tayangan berita yang ada dalam video pembelajaran maupun dari sumber lain, seperti televisi, youtube, maupun radio.

Baca juga:  Mengembangkan Nilai-Nilai Nasionalisme melalui Role Play

Keenam, melatih ekspresi dan gestur yang sesuai. Dalam melatih intonasi, siswa dapat melihat tayangan berita yang ada dalam video pembelajaran maupun dari sumber lain, seperti televisi dan youtube. Ketujuh, mereka juga mempelajari cara pembuatan video. Pembuatan video ini tidak ada ketentuan menggunakan aplikasi tertentu. Namun, beberapa siswa yang memiliki kecakapan dalam informasi dan teknologi (IT) dapat membuat video dengan sangat bagus. Kedelapan, mengedit video. Video yang dibuat siswa diusahakan sudah melalui proses pengeditan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan video yang bagus. Namun, jika siswa tidak mampu mengedit video yang bagus, tidak mengurangi nilai.

Selama proses pembuatan video, siswa mendapatkan pendampingan secara online. Setelah melalui proses tersebut, ternyata para siswa dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Memang ada beberapa siswa yang tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik dan hal itu dapat dipahami, dapat dimaklumi. Yang penting adalah siswa sudah memperoleh pengalaman belajar yang menarik dan menuntut kreativitas siswa. (ti1/ida)

Baca juga:  Balestro Solusi Meningkatkan Hasil Belajar Bernyanyi Lagu Daerah

Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya