alexametrics

Asyiknya Belajar Teks Eksplanasi dengan Metode Jigsaw

Oleh : Sumakno, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Belajar adalah syarat mutlak untuk menjadi pandai dalam segala hal baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun keterampilan. Untuk menciptakan belajar yang asyik diperlukan situasi yang menyenangkan. Banyak faktor yang menyebabkan situasi menjadi asyik. Di antaranya metode dan media yang menarik.

Di kelas V SD Donowangun, Kecamatan Talun pada mata pelajaran bahasa Indonesia masih banyak siswa yang tidak fokus dan bermain sendiri ketika diajar. Maka penulis menerapkan metode jigsaw. Metode ini diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam materi teks eksplanasi kelas V.

Menurut Sugianto (2010:45) jigsaw adalah salah satu dari metode kooperatif yang paling fleksibel (Slavin, 2005:246). Model pembelajaran jigsaw merupakan salah satu variasi model collaborative learning yaitu proses belajar kelompok yang setiap anggotanya menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan untuk bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.

Baca juga:  Blog sebagai Media Pembelajaran Jarak Jauh

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Sudrajat, 2008:1).

Model pembelajaran jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain (Zaini, 2008:56).

Pada materi teks eksplanasi memuat kompetensi dasar ranah pengetahuan meringkas teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik. Pada ranah ketrampilan menyajikan ringkasan teks penjelasan (eksplanasi) dari media cetak atau elektronik dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif secara lisan, tulis, dan visual.

Indikator capaian belajarnya bahwa siswa mampu menjelaskan ciri-ciri teks penjelasan (explanation), siswa mampu mengetahui langkah-langkah meringkas teks bacaan. Siswa mampu membuat ringkasan teks penjelasan (explanation) dengan tepat dan siswa mampu menuliskan ringkasan teks penjelasan dengan kosakata yang tepat.

Baca juga:  Sukses Belajar Luas Lingkaran melalui Audio Visual

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran tipe jigsaw dalam pembelajaran teks eksplanasi mata pelajaran bahasa Indonesia kelas V sebagai berikut: pertama, guru melakukan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Kemudian membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang. Tiap orang dalam kelompok diberi subtopik yang berbeda berkaitan materi pembelajaran teks eksplanasi yang memuat pengertian, tujuan sosial, ciri bahasa dan struktur teks. Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan subtopik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli.

Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua subtopik yang telah dibagikan sesuai banyaknya kelompok. Lalu, kelompok ahli berdiskusi membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya.

Baca juga:  Tingkatkan Kemampuan Membaca melalui Permainan Kartu Huruf

Tiap kelompok memperesentasikan hasil diskusi. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan. Siswa mengerjakan tes individual atau kelompok yang mencakup semua topik.

Penerapan metode jigsaw akan berhasil jika setiap anggota kelompok memiliki ketergantungan satu sama lain yang dapat menguntungkan dan merugikan anggota kelompok lainnya. Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab atas kemajuan proses belajar seluruh anggota termasuk dirinya sendiri. Setiap anggota kelompok harus memiliki kemampuan bersosialisasi dengan anggota lainnya.

Proses belajar dengan model jigsaw tidak lancar jika pengajar masih terbawa kebiasaan model konvensional. Yakni pemberian materi terjadi secara satu arah serta terbatasnya waktu. (ce2.2/lis)

Guru Kelas V SD Negeri 01 Donowangun Talun

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya