alexametrics

Menulis Teks Cerita Inspiratif dengan Batiks

Oleh: Sri Budi Hartini, S.Pd

Artikel Lain

RDAARSEMARANG.ID, Ada empat aspek keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu mendengar (menyimak), berbicara, membaca, menulis. Mendengarkan dan berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam lisan. Sedangkan membaca dan menulis merupakan keterampilan ragam tulis.

Dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia kelas sembilan terdapat materi teks cerita inspiratif. Tepatnya pada kompetensi dasar yaitu mengungkapkan rasa simpati, kepedulian, empati, dan perasaan dalam bentuk cerita inspiratif dengan memerhatikan struktur cerita dan aspek kebahasaan. Dengan demikian, menulis cerita inspiratif merupakan materi pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik kelas sembilan.

Tarigan (2008:22) mengemukakan menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.

Menurut Tim Kemdikbud (2017:148) cerita inspiratif merupakan bentuk narasi yang lebih bertujuan memberi inspirasi berbuat lebih baik, lebih peduli, lebih berempati kepada banyak orang.
Teks cerita inspiratif mampu menggugah pembacanya menjadi lebih baik melalui pengalaman inspiratif dari cerita yang dibawakan. Baik yang berarti pembaca mendapatkan pembelajaran moral atau sosial dan mampu menanamkan suatu kebijaksanaan baru dalam menjalani kehidupan.

Baca juga:  PHB Daring Berbasis ABT Efektif untuk Evaluasi Pembelajaran di Masa Pandemi

Teks cerita inspiratif menjadi media dalam dunia pendidikan untuk lebih dekat terhadap lingkungan peserta didik di sekolah, untuk mengenali lingkungan mereka dan diri mereka sendiri melalui membuat teks cerita inspiratif dari lingkungannya.

Pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 7 Semarang pada materi keterampilan menulis teks inspiratif masih belum sesuai yang diharapkan. Terkadang peserta didik mengalami kendala menulis teks cerita inspiratif. Salah satunya kesulitan mendapatkan ide. Ide merupakan rancangan yang disusun di dalam pikiran, gagasan, dan cita-cita.

Kendala lain adalah peserta didik belum terbiasa menulis. Kemampuan menulis cerita memang tidak secara otomatis dapat dikuasai peserta didik, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur sehingga peserta didik akan lebih mudah berekspresi dalam kegiatan menulis. Apabila kemampuan menulis tidak ditingkatkan, maka kemampuan peserta didik menulis tidak akan berkembang.

Baca juga:  Tumbuhkan Kesadaran Lingkungan dengan Diskusi Kelas tentang Pencemaran

Dalam proses belajar mengajar, untuk memudahkan peserta didik menulis teks cerita inspiratif, penulis membuat akronim langkah-langkah menulis teks cerita inspiratif, yaitu batiks. Apa itu batiks?
Baca dan pahami teori tentang teks cerita inspiratif. Sebelum menulis cerita inspiratif, peserta didik sudah memahami tentang arti, tujuan, ciri, struktur dan kebahasaan teks cerita inspiratif agar tidak keliru menulis teks yang lain.

Amati objek. Objek itu bisa berupa foto atau gambar, peristiwa atau kejadian yang ada di sekitar kita. Untuk mendapatkan inspirasi, kita bisa menggunakan lingkungan yang terdekat dengan kita.
Temukan hal yang menarik dari objek tadi. Kalau kita mau mengamati secara jeli, kita akan mendapatkan banyak hal yang menarik di setiap objek baik berupa foto atau gambar, kejadian atau peristiwa.
Identifikasi hal-hal yang menarik menjadi ide atau gagasan yang tersusun rapi. Akan ada banyak hal yang menarik, yang bisa dijadikan ide pokok cerita.

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar IPA dengan Group Investigation

Kembangkan ide atau gagasan tadi menjadi cerita inspiratif. Untuk mengembangkan ceritanya, perlu kita perhatikan struktur teks cerita inspiratif mulai orientasi, perumitan peristiwa, komplikasi, resolusi, dan koda. Di samping itu, perhatikan unsur kebahasaan.

Sunting cerita yang sudah disusun. Perhatikan struktur dan kebahasaan teks cerita inspiratif. Setelah menggunakan langkah batiks, peserta didik lebih mudah menulis teks cerita inspiratif. Mereka cepat menemukan ide cemerlang, menginspirasi dan mampu menuangkan ide yang mereka dapatkan dengan baik. Bahkan beberapa peserta didik lebih simpati, peduli, dan empati pada lingkungan sekitar. Mereka yakin di sekitar mereka ada banyak hal yang menarik dan bisa dijadikan inspirasi untuk hidup lebih baik lagi. (lbs1/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 7 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya