alexametrics

Akibat Perceraian Orang Tua Berdampak bagi Hidup Keagamaan Anak

Oleh : Lilik Mulyati

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama dan juga sebagai sekolah iman karena merupakan tempat pertama dan utama bagi anak belajar tentang iman dan menjadi dasar bagi hidup iman mereka. Peranan orangtua dalam kehidupan keluarga khususnya bagi anak-anak tidak hanya sebatas melahirkan, memberikan makan, membelikan pakaian, menyediakan tempat tinggal/rumah bagi mereka, tetapi menjadikan keluarga sebagai sekolah yang tepat untuk hidup dan kehidupan. Kehadiran dan peranan guru di sekolah atau katekis dalam lembaga Gereja, hanya sebagai bantuan bagi orangtua dalam menjalankan peranannya sebagai pendidik pertama dan utama. Salah satu janji yang diucapkan calon pasangan suami isteri yang menikah di Gereja Katolik adalah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendidik anak-anak secara Katolik.

Anak mengenal kasih Allah karena di dalam kehidupan keluarga sehari-hari ia merasakan kasih dari ayah dan ibunya. Sebaliknya jika di dalam kehidupan keseharian anak terus menerus dimarahi, diomeli bahkan dipukul oleh ayah ibunya, maka Allah yang ia kenal adalah Allah yang jahat. Seorang anak yang dibesarkan dalam keadaan di mana ia tidak pernah mengecap kasih sayang orang tua, akan sulit menciptakan kasih sayang, proses ini tidak mudah karena sudah harus dimulai pada usia yang muda (Gunarsa, 2007: 38).

Baca juga:  Mengapa Harus Cemas dengan Masa Depan?

Kurangnya komunikasi dalam keluarga adalah awal kehancuran keluarga itu sendiri.
Keluarga broken home sangat berpengaruh besar pada mental anak, akibat dari broken home dapat merusak jiwa anak.

Seperti yang dialami oleh sebagian siswa yang ada disekolah kami, di SMP N 1 Ambarawa, diantara mereka juga ada yang mengalami broken home dalam keluarganya, salah satunya adalah siswa yang saya ajar, anak yang beragama Katolik. Perpisahan orang tuanya mengakibatkan dia merasa sedih, kehilangan seorang panutan dalam bertindak dan berperilaku, juga dalam keagamaannya. Perhatian orang tua setelah perceraian kepada anak berkurang, karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Anak yang tadinya periang, pintar, supel, rajin dengan kegiatan di gereja, namun setelah perceraian orang tuanya, menjadi anak yang pemurung, prestasi belajarnyan merosot, tidak bersemangat lagi, juga tidak aktif lagi dalam mengikuti kegiatan di gereja, bahkan dia sudah jarang untuk melakukan kehidupan keagamaannya. Dia merasa kecewa dengan Tuhan, karena Tuhan sudah tidak adil terhadap dirinya dan keluarganya, sehingga dia merasa percuma saja berdoa dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Dia beranggapan Tuhan itu tidak ada. Tuhan hanya ada dalam cerita saja. Melihat yang demikian, ini menjadi satu keprihatinan bagi kami, terlebih guru agamanya.

Baca juga:  Teka-Teki Silang sebagai Sarana Penugasan di Masa Pandemi

Sebagai seorang guru Pendidikan Agama Katolik tidak hanya mengajar dengan kata yang muluk-muluk, melainkan dengan sungguh-sungguh memberikan kesaksian pengalaman hidupnya secara kongkrit kepada siswa, sehingga para siswapun bisa meneladani sikap yang baik dari guru PAK (Setyakarjana,1997:69). Melalui pendekatan dan bimbingan serta perhatian yang khusus terhadapnya, anak merasa mendapat perhatian dan termotivasi.

Seiring berjalannya waktu, dengan pendampingan dan perhatian yg sudah kita berikan, lambat laun ada kebangkitan dalam diri siswa. Tumbuh rasa percaya diri, dan semangat lagi. Muncul wajah ceria dan sermangat belajarnya sudah ada, demikian juga hidup keagamaannya sudah mulai dilaksanakan. Sudah tumbuh lagi akan kebesaran Tuhan, pentingnya orang beragama dan melaksanakan ajaran agamanya. Melihat yang demikian, guru pasti ikut tersenyum senang. (lbs1/ton)

Baca juga:  Atasi Masalah Siswa selama Pandemi lewat Konseling Virtual

Guru SMP N 1 Ambarawa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya