alexametrics

Keefektifan Puzzle untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa pada Pembelajaran IPS

Oleh : Dra. Arif Mu’tamariyah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) merupakan cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan sosial mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. IPS menjadi salah satu mata pelajaran yang dipelajari di tingkat satuan pendidikan, termasuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keberadaan IPS saat ini dipandang beberapa siswa sebagai suatu pelajaran yang tidak menarik dan membosankan.

Siswa beranggapan jika IPS adalah materi yang penuh hafalan dan menjemukan sehingga menimbulkan ketidaktertarikan siswa. Hasil survei awal peneliti tahun pelajaran 2019/2020 di SMP Negeri 3 Ambarawa menunjukkan rata-rata nilai Ulangan Harian (UH) siswa kelas IXC dengan jumlah 33 siswa untuk mata pelajaran IPS KD.3.1 dengan materi Letak dan luas Benua Asia masih berada dibawah KKM. Rata-rata nilai UH IPS adalah 54. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kendala dalam mempelajari IPS.

Baca juga:  Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui Media Hacaraka Font

Kendala yang dialami siswa yaitu banyak materi hafalan; rendahya motivasi siswa ; rendahnya percaya diri dan berpikir kritis; rendahnya kreativitas siswa; dan IPS dipandang sebagai sebuah mata pelajaran yang tidak begitu menantang.

Cara yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut yaitu: pembelajaran dikemas lebih menarik sehingga siswa tidak cepat bosan; dan menggunakan variasi model pembelajaran. Diperlukan sebuah cara untuk membuat nilai IPS siswa mengalami kenaikan dan menumbuhkan daya tarik siswa.

Model pembelajaran yang tepat sasaran menjadi salah satu solusi mengatasi permasalahan. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan yaitu media Puzzle. Menurut Rahmanelli (2007:24), “Puzzle adalah permainan merangkai potongan-potongan gambar yang berantakan menjadi suatu gambar yang utuh. Melalui puzzle guru dapat meningkatkan kreativitas siswa, menumbuhkan semangat siswa untuk belajar dan melatih kerja sama dalam tim. Pembelajarn berbasis puzzle dilakukan dengan 2 tahap. Tahap 1 yaitu guru membagi siswa menjadi 7 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 5 orang; guru memberikan puzzle peta Asia Tenggara; siswa diberi waktu 20 menit untuk menyelesaikan puzzle peta Asia Tenggara; dan guru melakukan pengecekan terhadap jawaban siswa dan melakukan evaluasi.
Tahap 2, yaitu guru menempelkan peta buta di papan tulis dan membuka diskusi; dan guru menunjuk bagian Asia Tenggara dan siswa diminta menyebutkan bagian yang ditunjuk. Pembelajaran dengan media Puzzle menjadi model pembelajaran baru yang diterapkan.

Baca juga:  Pelayanan Prima dalam Pembelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung terlihat siswa sangat aktif berdiskusi dengan tim dan berlomba-lomba untuk menyelesaikan puzzle secepat mungkin dengan jawaban yang tepat. Hal ini membuat pembelajaran berlangsung lebih aktif dan kreatif. Melalui media puzzle siswa dituntut dapat menyusun jawaban dengan tepat melalui kerja sama tim dan mengembangkan kreatifitas siswa menjawab soal yang diberikan.

Melalui puzzle siswa cenderung lebih aktif, kreatif, dan kolaboratif. Hal ini terlihat dari hasil jawaban yang yang diberikan masing-masing tim, diskusi antartim, dan evaluasi pembelajaran. Media puzzle mampu menyajikan pertanyaan- pertanyaan yang bersifat aplikatif. Pembelajaran berbasis puzzle dapat digunakan di beberapa materi dengan tujuan untuk meningkatkan kreatifitas siswa, collaboration siswa, dan rasa percaya diri siswa. (bw3/lis)

Baca juga:  Belajar Asyik Ciri Khusus Tumbuhan dengan Media Benda Nyata

Guru IPS SMP Negeri 3 Ambarawa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya