alexametrics

Tingkatkan Kemampuan Berpikir Positif Siswa dengan Lakonke

Oleh : Waluyo S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PELAYANAN Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan salah satu pilar penyangga membantu mengoptimalkan perkembangan siswa. UU 20/2003 menyatakan konselor adalah pendidik sejajar dengan kategori pendidik lainnya yang diakui pemerintah. Kedudukan demikian itu konselor sebagai penanggung jawab profesi BK dituntut sepenuhnya menyukseskan upaya pendidikan (Suhertina, 2015).
Layanan BK mampu membantu mengatasi masalah belajar yang dihadapi oleh siswa. Seperti halnya yang dihadapi oleh siswa kelas VIII-G SMPN 1 Patean yang sebagian besar siswanya berasal dari lingkungan pedesaan, tidak terbiasa belajar secara rutin, belajar hanya kalau ada ulangan/tes/ujian, sehingga kurang mampu berpikir positif. Walaupun sudah dilaksanakan layanan bimbingan, namun masih banyak siswa yang belum mampu berpikir positif. Hal ini terlihat masih banyak siswa yang kurang minat dalam belajar, rendahnya pemikiran positif siswa, perkataan siswa seputar hal-hal yang belum positif, adanya siswa merasa paling pintar, siswa masih belum percaya pada kemampuannya, siswa memandang sesuatu dari sisi negatif, siswa belum bisa menggunakan bahasa tubuh dengan positif, siswa belum mampu menyiasati dan menyikapi masalah secara positif.

Baca juga:  Memahami Pendidikan Norma Kesopanan di Lingkungan Keluarga

Terbukti siswa yang perkataannya selalu hal-hal negatif 16 siswa. Siswa yang merasa paling pintar 21 siswa, siswa tidak percaya pada kemampuannya 23 siswa, siswa memandang sesuatu dari sisi negatif 23 siswa, siswa memandang masalah sebagai tantangan yang tidak bisa diatasi 27 siswa, siswa tidak bisa menggunakan bahasa tubuh dengan positif 20 siswa, dan siswa tidak mampu menyiasati dan menyikapi masalah yang dihadapi 15 siswa.

Jika hal ini dibiarkan, semakin banyak siswa yang tidak mampu berpikir positif. Misal perkataan siswa kebiasaan (latah) yang negatif, selalu menyinggung perasaan orang lain. Siswa tidak percaya diri pada kemampuannya sendiri, siswa memandang sesuatu dari sisi negatif, kepada orang lain atau temannya selalu meremehkan, siswa memandang masalah dianggap sebagai tantangan yang tidak dapat diatasi, akhirnya putus asa, siswa kalau lewat di depan orang kurang memperhatikan sopan santun atau menggunakan bahasa tubuh dengan positif, siswa belum mampu mengambil keputusan atau solusi dalam menyiasati dan menyikapi masalah, siswa sering sombong dikarenakan merasa paling pintar.

Baca juga:  Layanan Bimbingan Klasikal dengan Game Edukasi Online Wordwall

Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir positif adalah dengan Lakonke (layanan konseling kelompok). Layanan konseling kelompok merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Masalah yang dibahas itu adalah masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Layanan konseling kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

Pengalaman penulis melaksanakan Lakonke dengan diskusi secara daring. Dimaksudkan agar siswa lebih menguasai materi berpikir positif dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupannya, sehingga meningkatkan kemampuan berpikir positif siswa. Penulis berdiskusi secara daring berkaitan dengan belajar berpikir positif, perbedaan berpikir positif dan berpikir negatif, keuntungan berpikir positif, berhenti berpikir negatif dan berpikirlah positif.

Baca juga:  Pembelajaran Kontekstual Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Setelah penyampaian materi berpikir positif selesai, penulis membagikan kuesioner daring berkaitan dengan berpikir positif siswa. Siswa yang perkataannya selalu hal-hal negatif 6 siswa, siswa merasa paling pintar 2 siswa, siswa tidak percaya pada kemampuannya 3 siswa, siswa memandang sesuatu dari sisi negatif 3 siswa, siswa memandang masalah sebagai tantangan yang tidak bisa diatasi 2 siswa, siswa tidak bisa menggunakan bahasa tubuh dengan positif 2 siswa, dan siswa tidak mampu menyiasati dan menyikapi masalah yang dihadapi 1 siswa. Hal ini menunjukkan Lakonke efektif meningkatkan berpikir positif siswa. (lbs1/ida)

Guru BK SMPN 1 Patean, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya