alexametrics

Mengidentifikasi Unsur Cerita melalui TTW

Oleh : Minarni, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Tayangan televisi yang marak dengan sinetron, cerita fiksi nonfiksi membuat daya tarik tersendiri. Jika kita bijak tentu banyak nilai atau pesan moral yang ada di dalamnya. Nilai, pesan moral juga kita dapatkan di cerita pendek, cerita bersambung atau apapun yang saat ini mudah kita dapatkan, mulai dari majalah, buku maupun bacaan secara online.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia kelas VII kompetensi dasar Mengidentifikasi unsur cerita, hal seperti di atas merupakan sumber belajar yang bisa dimanfaatkan. Penulis mencoba pembelajaran daring di SMP Negeri 2 Ulujami, Kabupaten Pemalang dengan model think-talk-write (TTW).

Model pembelajaran think-talk-write adalah model pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi siswa. Model pembelajaran think-talk-write dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin (Yamin dan Ansari, 2008:84) yang dibangun melalui berpikir, berbicara dan menulis. Secara etimologi think berarti berpikir, talk berarti berbicara dan write adalah menulis.
Kesimpulannya TTW adalah berpikir, berbicara dan menulis. Strateginya adalah pembelajaran yang dimulai dengan berfikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi dan alternatif solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi dan laporan (Hamdayana Jumanta, 2014:217).

Baca juga:  Dengan Inquiry Discovery Pembelajaran Deskripsi Lebih Mengena

Aktifitas think (berpikir) dapat dilihat dari proses membaca teks bacaan, cerpen dll, dalam aktivitas ini siswa secara individu sudah berpikir mandiri untuk menyelesaikan masalah atau mencari solusi dengan bahasanya sendiri. Pada tahap talk yaitu berkomunikasi dengan bahasa yang mereka pahami sehingga berpotensi siswa terampil berbicara dengan lingkungannya.

Tahap write (menulis) adalah tahapan dimana siswa menuliskan hasil diskusi pada lembar kerja. Aktivitas ini adalah mengonstruksi pendapat dari berbagai sumber (hasil berdiskusi dengan teman) kemudian mengungkapkannya pada tulisan.

Tahap terakhir dari menuliskan pendapat adalah dengan mempresentasikan di forum diskusi untuk mendapatkan tanggapan dari teman temannya. Keunggulan TTW yaitu mempertajam seluruh keterampilan berpikir visual, mengembangkan pecahan yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar, dengan memberikan soal open ended. Dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, melibatkan siswa secara aktif, membiasakan siswa berpikir dan berkomunikasi dengan teman.

Baca juga:  Metode Air Melatih Siswa dalam Memahami Materi

HP android adalah persyaratan yang mutlak dalam pembelajaran daring. Sebagian besar siswa mempunyai HP android walaupun belum maksimal karena keterbatasan kuota dan spesifikasi HP android yang dimilki. Secara umum dalam kompetensi dasar mengidentifikasi unsur cerita, langkah awal adalah guru menyajikan sebuah cerita fantasi untuk dibaca dan diberikan pertanyaan terkait unsur unsur cerita, di sini siswa diajak untuk berpikir (think) secara individu, berlanjut dengan berkomunikasi (talk) bersama temannya untuk mencari solusi atas pertanyaan dari guru terhadap bacaan tadi. Menuliskan poin penting dalam bacaan, mencari solusi atas permasalahan adalah langkah berikutnya (write).

Bersambung hasil tulisan tadi untuk dipresentasikan (jika dalam tatap muka). Sedangkan dalam forum daring, jawaban atau presentasi tadi diungkapkan melalui grup WA dengan berbagai cara, seperti melalui tulisan ataupun suara. Teman dalam grup diberikan kesempatan untuk menanggapinya. Demikian seterusnya dengan bimbingan guru. Pada akhirnya guru memberikan penjelasan dan penguatan terhadap pekerjaan siswa. Dalam situasi pandemi ini, hasil maksimal tentu membutuhkan kesabaran karena keterbatasan fasilitas HP dan kuota yang ada. (pg1/lis)

Baca juga:  Asiknya Belajar Spider Web

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Ulujami, Kabupaten Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya