alexametrics

Penerapan Mindfulnes dalam Meningkatkan Student Wellbeing

Oleh: Rina Kusumardhani, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PELAKSANAAN pembelajaran jarak jauh banyak masalah yang harus dihadapi peserta didik, dari perubahan cara belajar, metode pembelajaran/ perubahan interaksi antara guru dengan peserta didik, ketidakmampuan orang tua mendampingi belajar peserta didik serta kurangnya sarana belajar melalui media online (daring).

Hal tersebut dapat menimbulkan beberapa gejala pada peserta didik misalnya peserta didik menjadi malas, frustasi/ sedih/ depresi/ apatis, sulit konsentrasi, kurang sabar, nafsu makan meningkat, motivasi menurun, susah bangun, sering mengantuk, dan lain sebaginya, gejala-gejala semacam itu hampir dialami oleh semua peserta didik termasuk juga peserta didik di SMP Negeri 2 Warungasem, dengan kondisi semacam itu penting bagi pendidik untuk menciptakan student wellbeing.

Menurut Noble dan McGrath (dalam Noble dan McGrath, 2015), student wellbeing merupakan keadaan emosional berkelanjutan yang menunjukkan karakteristik yaitu adanya positivity mood (suasana hati) dan perilaku yang positif, hubungan positif dengan teman sebaya dan guru, resiliensi diri dan sikap yang optimis, serta kepuasan pada pengalaman belajar, student wellbeing ini memiliki 4 aspek yaitu positivity, resilience, self-optimisation, dan satisfaction. Positivity dijelaskan secara sederhana sebagai keadaan atau karakter yang positif; kepositifan yang dapat diterima secara universal di manapun, perilaku optimis yang dapat menyebabkan timbulnya emosi positif, selain emosi dan perilaku positif, positivity juga dilihat dari hubungan positif yang dibangun peserta didik dengan teman sebaya dan guru.

Baca juga:  Belajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Efektif dengan Discovery Learning

Resilience mengarahkan pada pentingnya kemampuan dan dukungan yang dimiliki peserta didik untuk mengembalikan perasaan positif ketika sewaktu-waktu ada kondisi atau situasi yang tidak berjalan dengan baik. resiliensi diartikan sebagai kemampuan peserta didik dalam menghadapi segala hambatan yang mungkin terjadi, kemudian mampu mengembalikan perasaan positifnya meskipun setelah adanya perubahan-perubahan, tantangan, kekecewaan, dan situasi sulit Self-optimisation atau perasaan optimis diartikan sebagai kesadaran realistis individu terhadap kemampuan diri, yaitu mampu menunjukkan keinginan yang kuat untuk menggunakan kemampuan tersebut dalam mengembangkan potensi pribadi yang dimiliki (misalnya kecerdasan, kemampuan sosial, emosional, fisik, dan spiritual). Aspek satisfaction (kepuasan) menjelaskan tentang bagaimana kepuasan yang dirasakan peserta didik tehadap kualitas dan relevansi pengalaman belajarnya di sekolah serta sejauh mana peserta didik merasa ikut berperan dan berpengaruh dalam pengalaman belajar tersebut, peserta didik dengan level wellbeing yang optimal atau tinggi akan memperlihatkan perilaku- perilaku positif terhadap kegiatan sekolah.

Baca juga:  Semangat dan Optimistis dalam Meniti Masa Depan

Dalam menciptakan student wellbeing penting bagi guru pembimbing menerapkan strategi, dalam hal ini ada cara yang bisa dilakukan oleh guru pembimbing, yaitu dengan penerapan mindfulness. Mindfulness merupakan kesadaran dan pemberian perhatian secara pribadi dalam setiap momen. Mindfulness melekat dan merupakan kapasitas natural yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk hidup, serta merupakan teori perhatian dan kesadaran dalam keseharian.

Guru pembimbing menjadi sentral dalam implementasi mindfulness di sekolah, melalui mindfulness guru pembimbing dapat membantu peserta didik untuk belajar memisahkan identitas pribadi dari situasi, emosi atau kejadian. Mindfulness dapat digunakan sebagai strategi pelayanan BK yang efektif. Untuk mengajarkan mindfulness hal pokok yang perlu dimiliki guru pembimbing adalah kemampuan untuk menerapkan praktik dalam kehidupan pribadi, sehingga akan nampak pada kehidupan sehari-hari. Peserta didik akan lebih mudah belajar mindfulness dari model yang ada, mindfulness berhubungan juga dengan empati, selain itu mindfulness dapat diterapkan melalui program yang disusun menjadi sebuah topik dalam layanan klasikal secara daring.

Baca juga:  PBL sebagai Alternatif Metode Pembelajaran pada Masa Pandemi

Penerapan mindfulness dalam layanan BK merupakan sarana untuk mencapai perkembangan optimal, mindfulness berkontribusi untuk mengembangkan kognitif dan ketrampilan performa peserta didik untuk lebih fokus, siap sedia di segala situasi dengan perspektif jernih, menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dengan efektif, dan memberikan perhatian. Kontribusi ini berdampak pada pencapaian student wellbeing. (ti1/zal)

Guru SMPN 2 Warungasem, Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya