alexametrics

Mudah Belajar PKn dengan Penerapan Model Scramble di SD

Oleh: Kumala Sari, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kegiatan belajar mengajar pembelajaran PKn kurang optimal. Permasalahan yang sering muncul di kelas seperti kurangnya motivasi peserta didik dalam proses belajar mengajar, kurangnya keaktifan siswa. Peserta didik cenderung diam bahkan pasif. Kurangnya aktivitas peserta didik dalam berdiskusi dalam kelompok sehingga kurang kerterlibatan siswa dalam sebuah kelompok.

Permasalahan tersebut berdampak pada nilai peserta didik di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75. Maka, guru harus menemukan teknik dan strategi pembelajaran agar tujuan pembelajaran PKn dapat tercapai. Guru menerapkan dan menggunakan model scramble dalam pembelajaran PKn di kelas. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 bahwa Pendidikan Kewarganegaran (PKn) adalah mata pelajaran yang menfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Salah satu model yang menyenangkan dalam pembelajaran PKn yaitu model pembelajaran scramble. Model pembelajaran kooperatif scramble menurut Shoimin (Patty, 2015:1) istilah scramble berasal dari bahasa Inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti pertarungan dan perjuangan. Scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahan dengan cara membagikan lembar soal dan lembar jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban yang tersedia.

Baca juga:  Mempelajari IPA Lebih Mudah dengan Menonton Video

Scramble digunakan untuk permainan anak-anak yang merupakan latihan pengembangan dan peningkatan wawasan pemikiran kosakata. Hal ini sependapat dengan Fadmawati (2009) bahwa model pembelajaran kooperatif scramble adalah pembelajaran secara berkelompok dengan mencocokkan kartu pertanyaan dan kartu jawaban yang telah disediakan sesuai dengan soal.

Scramble adalah model pembelajaran secara berkelompok yang menggunakan lembar atau kartu soal dan lembar atau kartu jawaban agar peserta didik dapat menemukan jawaban dan permasalahan yang ada. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe scramble menurut Shoimin (Patty, 2015:3) sebagai berikut: pertama, persiapan, pada tahap ini guru menyiapkan bahan media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Media yang digunakan berupa kartu soal dan kartu jawaban, yang sebelumnya jawaban telah diacak sedemikian rupa. Kedua, kegiatan inti. Kegiatan dalam tahap ini adalah setiap masing- masing kelompok melakukan diskusi untuk mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

Baca juga:  Perlunya Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris bagi Siswa SMK

Ketiga, tindak lanjut kegiatan ini tergantung dari hasil belajar siswa contoh kegiatan tindak lanjut antara lain pengayaan berupa pemberian tugas serupa dengan bahan yang berbeda.

Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli jika terdapat yang tidak memperlihatkan kelogisan. Kegiatan mengubah materi bacaan (memparafrase atau menyederhanakan bacaan). Mencari makna kosakata baru didalam kamus dan mengaplikasikan dalam pemakaian kalimat. Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan dalam teks wacana latihan. Satu hal yang penting dalam model ini, siswa tidak sekadar berlatih memahami dan menemukan susunan teks yang baik dan logis, tetapi juga untuk berfikir kritis analitis.

Penerapan model scramble di kelas VI SD Negeri 02 Wonorejo Wonopringgo Kabupaten Pekalongan, suasana belajar di kelas menjadi menyenangkan, peserta didik tampak aktif dalam berdiskusi kelompok tentang materi penerapan sila ke satu, sila ke dua Pancasila dalam kehidupan sehari hari.

Baca juga:  Metode Inkuiri Terbimbing dengan Video Mudahkan Pembelajaran

Peserta didik lebih antusias setelah guru memberikan kartu soal berupa penerapan sila-sila Pancasila dan kartu jawaban berupa contoh sikap yang terkandung dalam sila pancasila.

Dengan tersedianya kartu soal dan kartu jawaban, peserta didik menjadi tertarik sehingga antara satu siswa dengan siswa lain mampu berinteraksi dan bekerja sama dalam sebuah kelompok belajar. Peserta didik mampu berpikir kritis dan akhirnya dapat tercapai tujuan pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai ulangan harian yang lebih baik daripada sebelumnya. (pg1/lis)

Guru PKn SD Negeri 02 Wonorejo, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya