alexametrics

Mengenalkan Bahaya Penggunaan Zat Aditif Sintetis melalui Proses Pembelajaran

Oleh: Yenni Kusumawati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BERKEMBANGNYA ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghasilkan produk-produk industry yang dapat memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari. Bahan kimia yang telah diketahui manfaatnya dikembangkan dengan cara membuat produk-produk yang berguna untuk kepentingan manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui jenis, sifat, kegunaan dan efek samping dari setiap produk yang kita gunakan.

Zat aditif adalah bahan yang ditambahkan pada makanan atau minuman dengan tujuan tertentu,diantaranya adalah untuk memaniskan, mengawetkan, menyedapkan, menambah rasa atau memberi warna pada makanan atau minuman. Pada zaman sekarang zat aditif mempunyai peran yang lebih luas. Zat aditf dapat meningkatkan nilai gizi menjaga kestabilan rasa dan tekstur makanan, mengembangkan volume makanan, memperkaya rasa warna dan penampilan makanan.

Berdasarkan hasil penelitian sebagian zat aditif dinilai berbahaya jika dikonsumsi secara terus menerus atau berlebihan. Beberapa contoh zat aditif yang sering digunakan dalam pembuatan makanan dan bahayanya adalah monosodium glutamate (MSG) yang biasanya digunakan sebagai penyedap dapat merusak ujung saraf, aspartame (pemanis sintetis) mengakibatkan migraine, kanker otak dan gangguan saraf, sodium nitrit sebagai pengawet dapat memicu kanker.

Baca juga:  Belajar Program Linear dengan Geogebra

Dalam proses pembelajaran di SMP materi zat aditif dipelajari pada pelajaran IPA kelas 8 yaitu pada KD 3.6 : menjelaskan berbagai zat aditif dalam makanan dan minuman,zat adiktif serta dampaknya terhadap kesehatan. Untuk mempelajari materi zat aditif sintetis, siswa ditugaskan untuk membawa kemasan/bungkus berbagi jenis makanan ringan dan minuman dalam kemasan minimal 10 untuk tiap kelompok. Dengan panduan lembar kerja siswa masing-masing kelompok mengidentifikasi zat aditif yang ada pada makanan atau minuman dan mencari fungsi dari zat aditif tersebut. Setelah selesai mengisi LKS kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelas. Pada tahap ini guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk memahami bahwa tidak semua zat aditif yang digunakan pada makanan atau minuman aman jika sering dikonsumsi. Siswa diminta untuk mencari litaratur yang berkaitan dengan dampak negatif zat aditif sintetis untuk digunakan pada pertemuan yang berikutnya

Baca juga:  Mudah Pahami Operasi Bilang Bulat dengan Kartu dan Koin Kotif

Pada pertemuan yang selanjutnya siswa SMPN 1 Sukorejo, Kendal, kembali diajak berdiskusi tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh zat aditif sintetis dari hasil pencarian dari berbagai literatur yang sudah dilakukannya kemudian bersama guru mendata zat aditif apa saja yang berdampak buruk bagi kesehatan. Kemudian guru mengajak siswa untuk mengamati kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat yang menggunakan zat aditif sintetis non pangan dalam membuat makanan. Zat aditif jenis ini seharusnya tidak boleh digunakan baik dalam jumlah kecil maupun besar karena berbahaya bagi kesehatan tubuh. Akan tetapi di lingkungan masyarakat masih banyak yang menggunakannya karena harganya yang murah. Contoh dari zat aditif non pangan yang sering digunakan adalah borax yang seharusnya adalah bahan kimia dalam industry kertas, pengawet kayu, keramik dan gelas. Akan tetapi oleh orang yang tidak bertanggungjawab borax ditambahakan dalam makan agar manjadi lebih kenyal, tidak mudah putus dan lengket. Jika borax terakumulasi dalam tubuh akan berakibat diare, muntah, pusing hingga kanker. Zat aditif non pangan yang ke dua adalah formalin yang seharusnya merupakan bahan pesisida, pengawet tekstil, pembersih lantai dan pengawet mayat. Tetapi masih banyak masyarakat yang menggunakan formalin untuk mengawetkan makanan sehingga dapat bertahan tidak membusuk dalam waktu yang lama. Sama halnya dengan borax formalin juga akan berakibat buruk bagi kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Zat aditif non pangan yang ke tiga adalah pewarna tektis yang biasanya disalahgunakan untuk mewarnai kerupuk, sambal botol dan sirup. Hal tersebut sangat berbahaya karena pewarna tekstil mengandung zat kimia berbahaya dan memicu kanker.

Baca juga:  WhatsApp Mempermudah Pembelajaran Gaya dan Gerak pada Peristiwa di Lingkungan Sekitar

Di akhir proses pembelajaran guru kembali menekankan bahwa sebelum mengkonsumsi makanan atau minuman kita harus membaca komposisi bahannya terlebih dahulu termasuk zat aditif yang digunakan. Dan sebaiknyakita batasi konsumsi makanan olahan yang banyak mengandung zat aditif dan lebih memilih makanan dengan bahan alami untuk sajian sehari-hari. (pg1/zal)

Guru IPA SMPN 1 Sukorejo, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya