alexametrics

Penilaian Hafalan Yang Efektif di Masa Pandemi

Oleh : Indah Tri Nursanti, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DI tengah kondisi Covid-19 ini menuntut lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah hingga universitas untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran melalui daring (dalam jaringan) sebagai pengganti pembelajaran di dalam kelas.

Dalam pelaksanaannya pembelajaran melalui darng ini tentu saja menemui berbagai kendala terutama pada bagian mengumpulkan data seperti hafalan akan suatu materi.
Terutama pada pelajaran PADBP terdapat materi hafalan. Bagaimanakah menilai hafalan siswa ? ini tentu saja menjadi dilema bagi seorang guru, bahkan dalam situasi normal saja (di luar situasi pandemi Covid-19) pemberian nilai yang berujung ke raport siswa yang sebagai bentuk akuntabilitas program pembelajaran yang di selenggarakan oleh guru maupun sekolah kepada pemangku kepentingan pendidikan (sebut saja orang tua siswa dan pemerintah) adalah merupakan permasalahan yang rumit bagi seorang guru.

Baca juga:  Strategi Kepala Sekolah dalam Membentuk Sikap Kepedulian Lingkungan di SD

Dalam pembelajaran PADBP menggunakan metode hafalan mempunyai kendala ketika hafalan yang di ucapkan oleh siswa dan di rekam menggunakan audio maupun video yang kemudian di kirim melalui WA, hasil kiriman tersebut kadang tidak jelas baik dari suara maupun gambar yang di hasilkan, selain itu siswa belum tentu hasil dari hafalannya sendiri, bisa saja dengan cara membaca, dalam hal ini nilai kejujuran lebih di tekankan.

Apabila pada masa pandemi sekarang ini yang tentu saja memiliki banyak hambatan ketika pembelajaran daring berlangsung baik itu dari segi ekonomi, jaringan dan lain sebaginya. Penilaian tentu saja tidak akan bisa menyelasaikan persoalan keadilan tersebut apalagi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas belajar siswa.

Namun penilaian akan dapat membantu menyelasaikan hambatan dan keterbatasan yang di alami siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu melalui penyediaan instrumen penilaian yang berkualitas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran saat ini.

Baca juga:  Penanaman Perilaku Santun pada Anak Usia Dini Berbasis Media Visual

Terkadang guru di sekolah hanya melakukan penilaian secara sumatif yaitu berdasarkan data / hasil/ video/rekaman yang di peroleh guru dari siswa kemudian di nilai secara murni, yang tentu saja mereka dapatkan video tersebut dari proses ketidak jujuran, sehingga kualitas data dan informasi belajar yang di peroleh menjadi kurang baik.

Dalam ilmu pengukuran hal ini di sebut threat to validity, yang berarti ancaman terhadap validitas yang berakibat keputusan perihal kenaikan maupun kelulusan seorang siswa juga tentu akan ikut terpengaruh.

Thomas R Guskey dalam Assesment and Grading in the Midst of Pandemic ( Ed Week, 13 April 2020 ) menyatakan “ Jika fokus kami adalah pada umpam balik, maka semua penilaian bersifat formatif sampai siswa mendapatkannya “.

Baca juga:  Mudah Pahami Materi Mengenal Negara-Negara ASEAN dengan TTS

Ketika hasil menunjukkan mereka mendapatkannuya, maka penilaian menjadi sumatuf, dengan kata lain, penilaian, terutama hafalan sebaiknya di fokuskan pada penilaian formatif, menitikberatkan pada umpan balik atau feedback yaitu bagaimana membantu siswa memahami konsep dan materi dengan baik dan benar sehingga mereka mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan.

Apabila penilaian formatif di selenggarakan dengan semangat untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran, maka siswa pasti akan menghindari tindakan tidak jujur tersebut, namun perlu di tekankan bahwa peran umpan balik/ feedback dari seorang guru dan bagaimana teknis mendiskusikannya bersama, setiap siswa yang di ajar dengan beragam kondisi yang mereka miliki akan sangat penting dan menentukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Seperti di SDN Mlatiharjo 1, Demak. (pg1/zal)

Guru SDN Mlatiharjo 1, Demak

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya