alexametrics

Belajar Ecoprint dengan Memanfaatkan Potensi Alam Sekitar

Oleh : Nur Prapti Widyaningrum S.Pd.T

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, ECOPRINT mungkin terdengar belum begitu familiar, terutama bagi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Kaliwungu, Kabupaten Semarang. Pada kompetensi dasar memilih jenis bahan dan teknik pengolahan serat dan tekstil yang disesuaikan dengan potensi daerah setempat. Penulis memilih teknik ecoprint untuk diajarkan kepada siswa, mengingat teknik ini sangat mudah dipelajari dengan memanfaat potensi alam sekitar, sekaligus ramah lingkungan karena teknik ini menggunakan bahan-bahan yang alami.

Menurut Flint (2008), teknik ecoprint diartikan sebagai proses mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung antara kain dan daun. Flint mengaplikasikan teknik ini dengan cara menempelkan tanaman yang memiliki pigmen warna pada kain berserat alami yang kemudian direbus atau dikukus dalam kuali besar. Teknik ini telah berkembang sejak lama, dan dipopulerkan sejak tahun 2006. Ecoprint biasa diaplikasikan pada bahan berserat alami seperti kain kanvas, katun, sutra dan linen. Akan tetapi tidak semua kain serat alami menghasilkan hasil yang sama, satu sama lain berbeda dalam menghasilkan warna dan printing yang tercetak dalam kain.

Baca juga:  Metode Drill Tingkatkan Hasil Belajar Materi Jurnal Umum

Potensi alam yang ada di SMPN 2 Kaliwungu sangat mendukung untuk kegiatan ecoprint. Di sekitar sekolah banyak tumbuh hutan jati, sehingga daun inilah nanti yang digunakan pada proses pembuatan ecoprint. Selain daun jati, ada juga daun pepaya Jepang, daun jarak kepyar, daun singkong yang juga dapat digunakan untuk bahan ecoprint. Teknik ecoprint dapat dilakukan dengan tiga cara, 1) teknik pounding yaitu dengan cara memukul daun ke atas kain. 2) Teknik steaming yaitu dengan cara menata daun pada kain, menggulung di sekeliling batang kayu kemudian dikukus. 3) Teknik fermentasi yaitu dengan membuat ekstrak pigmen warna yang ada dalam tanaman.

Untuk kegiatan praktikum pembuatan ecoprint pada kain katun ini, penulis menggunakan teknik pounding. Adapun alat dan bahan yang digunakan antara lain, kertas koran untuk alas, palu, kain mori, tawas, daun jati, daun pepaya Jepang, daun singkong dan daun jarak kepyar. Cara pembuatannya, a) siapkan alat dan bahan; b) gunakan kertas koran sebagai alas agar lantai tidak kotor, kemudian bentangkan kain di atasnya dan ratakan; c) letakkan daun yang sudah disiapkan sebagai cetakan motif di atas kain posisikan agar tulang daun atau bagian bawah daun bersentuhan dengan kain. Jika ingin memunculkan efek cermin, lipat kain menutupi daun, sehingga pola akan tampak pada bagian kain di bawah dan di atas daun, jika ingin membuat motif di satu sisi gunakan potongan kain lain untuk menutupi daun sebelum dipukul agar pola terbentuk dengan baik; d) pukul-pukul daun sampai getah daun keluar dan membentuk pola serupa bnetuk daun; e) diamkan daun selama 15 menit kemudian lepaskan daun dan diamkan kain selama 1 sampai 3 hari supaya warna daun menyatu dengan kain; f) bilas kain dengan air yang sudah dicampur tawas tanpa diperas kemudian diangin-anginkan; g) setelah kering kain direndam lagi dengan tawas untuk fiksasi selama 1 jam lalu jemur agar warna daun tidak luntur saat dicuci; h) kain ecoprint siap digunakan.

Baca juga:  Peran Guru dalam Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa di Masa Pandemi

Dengan menerapkan teknik ecoprint, penulis berharap seluruh siswa lebih mengembangkan kreasi dan berinovasi menciptakan motif ecoprint yang baru. Selain itu, mampu mengungkapkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa atas potensi alam yang bisa diamnafaatkan dengan bijak. (pg1/ida)

Guru Prakarya SMPN 2 Kaliwungu, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya