alexametrics

Pembelajaran Lempar Tangkap Bola dengan Model Timbal Balik

Oleh : Mohamad Sigit Budiaji S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dalam permainan lempar tangkap bola, banyak siswa yang masih kurang tertarik. Pembelajaran PJOK pada Kompetensi Dasar (KD) lempar tangkap bola di SDN 02 Werdi belum bisa berjalan secara maksimal. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran yang diberikan ke siswa masih kurang bervariasi. Oleh sebab itu, diperlukan model pembelajaran yang diharapkan menambah ketertarikan siswa dalam melakukan lempar tangkap bola dan meningkatkan kemampuan siswa.

Model pembelajaran ini adalah suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Didang:2005). Model pembelajaran yang bervariasi akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, serta hasil belajar yang dapat memberikan makna dan berguna bagi siswa. Selain itu, dapat memotivasi guru untuk meningkatkan profesinalisme dalam pembelajaran.

Baca juga:  Penerapan Multi Aplikasi dalam Pembelajaran IPS di Masa Pandemi Covid-19

Model pembelajaran yang terbaik adalah yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik, tujuan, materi ajar, alat/media, waktu yang tersedia, situasi dan kondisi. Salah satunya, metode timbal balik atau reciprocal. Adalah salah satu model pembelajaran khusus untuk pendidikan jasmani, dimana anak terlibat langsung dalam pengamatan gerak teman yang melakukan suatu latihan, selanjutnya memberikan komentar tentang apa, dan bagaimana gerak itu dilakukan, sehingga peserta didik tidak hanya sebagai pelaku, tetapi berperan juga sebagai pengamat.

Menurut Fajarwati (2010:17), reciprocal teaching adalah model pembelajaran berupa kegiatan mengajarkan materi kepada teman. Model pembelajaran ini, siswa berperan sebagai guru untuk menyampaikan materi kepada teman-temannya. Sementara, guru lebih berperan sebagai fasilitator dan pembimbing yang melakukan scaffolding. Scaffolding adalah bimbingan yang diberikan oleh orang yang lebih tahu kepada orang yang kurang tahu atau belum tahu.

Baca juga:  WhatsApp Group Sarana Komunikasi Siswa di Masa Pandemi

Ciri model pembelajaran timbal balik adalah kelas diorganisasikan atau dibuat formasi dalam bentuk berpasang-pasangan, setiap anggota pasangan memiliki peran khusus dalam proses umpan balik,seorang dirancang sebagai pelaku (doer) dan yang lain sebagai pengamat (observer).

Peran pelaku adalah menampilkan tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi ajar saat itu. Peran pengamat atau observer adalah memberikan umpan balik kepada pelaku berdasarkan kriteria yang telah disiapkan oleh guru. Umpan balik ini terjadi, selama pelaku melakukan unjuk kerja atau selesai menampilkan keseluruhan tugas yang diberikan, bila sudah selesai bergantian peran. Peran guru dalam pembelajaran ini adalah membuat keputusan pada awal pertemuan tentang hal-hal yang akan dilaksanakan, membuat dan menyampaikan kartu tugas dan kriteria pengamat kepada peserta didik, mengamati penampilan pelaku dan pengamat, dan menyediakan kesempatan bertanya untuk pengamat.

Baca juga:  Fenomena Pembelajaran Daring antara Ekspektasi dan Realita

Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran lempar tangkap bola dengan model timbal balik di SD Negeri 02 Werdi para siswa ternyata merasa lebih tertarik, bersemangat, dan lebih mudah dalam memahami dan mempraktikkan gerak lempar tangkap bola serta mempunyai pengalaman baru dalam memahami cara melakukan gerakan lempar tangkap bola, sehingga banyak siswa yang bisa mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Penulis mengharapkan agar guru dapat menggunakan dan mempraktikkan pembelajaran lempar tangkap bola dengan metode timbal balik ini untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan efektif bagi para siswa. (pg1/ida)

Guru PJOK SDN 02 Werdi, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya