alexametrics

Kolaborasi Crossover Learning dengan Modul pada Materi Daya Hantar Listrik Larutan

Oleh : Drs Aris Haryono

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, AGAR peserta didik memperoleh kompetensi yang diinginkan pada Kompetensi Dasar (KD) “Membedakan daya hantar listrik berbagai larutan melalui perancangan dan pelaksanaan percobaan,” menuntut percobaan secara formal di dalam laboratorium kimia sekolah. Namun permasalahan yang dihadapi penulis dalam masa pandemi Covid-19 ini, kebijakan pemerintah belum memperbolehkan pembelajaran tatap muka (PTM) dan peserta didik masih harus belajar dari rumah (BDR). Karena itulah, untuk mengajarkan materi daya hantar listrik larutan, penulis menggunakan kolaborasi pendekatan crossover learning dengan bantuan modul.

Menurut Uwes Anis Chaeruman, pendekatan crossover learning ide dasarnya adalah mengombinasikan pembelajaran yang terjadi secara formal di dalam kelas dengan pembelajaran informal di luar kelas. Connecting formal and informal learning. (https://www.youtube.com/watch?v=XCqNeHFQ2bk&t, 9 April 2020).

Sedangkan dalam Innovating Pedagogy 2015, “Finding space to bring informal learning to formaleducation has the potential to enrich knowledge with experience.” Ada satu potensi, kalau menghubungkan antara membawa peserta didik dari formal learning di dalam kelas ke situasi informal learning di luar kelas, akan memberikan potensi memperkaya pengetahuan dengan pengalaman nyata.

Baca juga:  Pentingnya Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran IPS

Sedangkan Supriyadi menyatakan pendekatan crossover learning terdiri atas 1) propose question, 2) explore question, dan 3) share findings, (https://www.youtube.com/watch?v=1niRdwVS6ak&t, 14 Mei 2020).

Langkah-langkah yang penulis lakukan, pertama, menginstruksikan kepada peserta didik kelas X MIPA 1-2-3-4-5 SMAN 1 Cepu untuk bergabung di WhatsApp Group mapel kimia dan bergabung di Aplikasi Google Classroom mapel kimia. Kedua aplikasi ini sebagai communication tools. Kedua, penulis mengunggah materi berupa modul pembelajaran SMA mapel kimia daya hantar listrik larutan dari Direktorat SMA Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada Google Classroom sebagai sumber belajar. Ketiga, penulis menggunggah tugas di Google Classroom berupa petunjuk untuk kegiatan mempelajari materi daya hantar listrik larutan seperti mengisi daftar hadir; meminta untuk mengunduh, mempelajari modul; melaksanakan percobaan di rumah dengan memberikan pertanyaan manakah yang termasuk larutan elektrolit dan non elektrolit dari larutan air garam; air sirup; air gula; air sabun; air jeruk; alkohol; minuman isotonik.

Baca juga:  PJJ Menyenangkan Menggunakan Elektronik LKPD Berbasis Liveworksheets

Petunjuk kegiatan ini juga penulis unggah di WhatsApp Group (WAG) sebagai sarana komunikasi dan interaksi dengan peserta didik. Pada langkah kedua dan ketiga ini dalam pendekatan crossover learning yang dinamakan propose question, yaitu pendidik memberikan sumber belajar dan pertanyaan. Keempat, peserta didik mengunduh modul; mempelajari modul; memahami tugas mandiri berupa percobaan uji daya hantar listrik larutan di sekitarmu; melaksanakan percobaan di rumah dengan membuat dokumentasi berupa foto atau video, sebagai jawaban dari pertanyaan pendidik. Pada langkah keempat ini, disebut explore question. Kelima, peserta didik membuat laporan hasil percobaan, disertai bukti dokumentasi berupa foto atau video, kemudian mengirimkan ke google classroom dan di WAG untuk didiskusikan. Pada langkah kelima ini yang disebut share findings. Keenam, pendidik melaksanakan penilaian.

Baca juga:  Praktikum Sel Volta dengan Mudah dari Rumah

Melalui kolaborasi crossover learning dengan modul pada materi daya hantar listrik larutan penulis menyimpulkan, pertama, proses belajar mengajar tidak melulu terjadi secara formal di dalam kelas tetapi bisa terjadi secara informal di luar kelas dan harus dikombinasikan. Kedua, membantu peserta didik mengaitkan pengalaman yang diperoleh secara informal dari luar kelas dengan apa yang dipelajari secara formal di dalam kelas, juga sebaliknya mengaitkan pengetahuan yang diperoleh secara formal dari dalam kelas dengan pengalaman yang terjadi secara informal di luar kelas. Ketiga, membantu siswa mentrasfer informasi dan pengalamannya terhadap berbagai situasi yang lain dan berbeda. Keempat, pendekatan croossover learning salah satu contoh pembelajaran kontekstual. (ti2/ida)

Guru Kimia SMAN 1 Cepu, Kabupaten Blora

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya