alexametrics

Belajar Sistem Peredaran Darah Lebih Asyik dengan Replika Sederhana

Oleh : Yohan Arisanto S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SELAMA ini, pembelajaran tentang sistem peredaran darah pada siswa kelas V SD Negeri 02 Tegalsari masih belum optimal. Dibuktikan dengan ketuntasan belajar yang rendah. Penyebabnya, siswa mengalami kebingungan dalam memahami alur jalannya peredaran darah. Materi yang tidak dikuasai tersebut, disebabkan guru menggunakan media pembelajaran yang tidak sesuai yaitu hanya gambar yang terdapat pada buku siswa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan media pembelajaran yang membuat siswa lebih memahami materi sistem peredaran darah dan dapat meningkatkan hasil belajar. Media yang cocok untuk digunakan adalah dengan membuat replika sistem peredaran darah.

Media pembelajaran sistem replika peredaran darah dirancang untuk mengonkretkan materi sistem peredaran yang masih abstrak bagi siswa. Hal ini sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dari Piaget dalam Anita (207:15), bahwa usia siswa kelas 5 SD atau 10-12 tahun berada pada tahap dari operasional konkret menuju operasional formal. Artinya, sistem peredaran darah merupakan materi yang masih abstrak. Untuk membantu siswa dalam mengonkretkan materi tersebut dibutuhkanlah media pembelajaran secara visual. Replika sistem peredaran darah dapat memudahkan siswa untuk memvisualisasikan urutan sistem peredaran darah manusia. Siswa dapat melihat secara konkret urutan jalannya aliran peredaran darah.

Baca juga:  Pemahaman Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia melalui Model Numbered Head Together

Bahan yang digunakan untuk membuat replika peredaran darah cukup sederhana, antara lain 6 botol plastik bekas, 3 meter selang kecil (diameter 8 mm), 2 bekas ballpoint pegas (ballpoint yang digunakan adalah jenis gelpen), papan triplek 40×60 sentimeter, pewarna merah (tinta printer) secukupnya, 2 buah gotri kecil dan busa karet. Sedangkan alat yang digunakan antara lain pisau, cutter, solder, lem silicon rubber, dan lem alteco. Adapun langkah-langkah untuk membuat replika yang pertama botol dilubangi bagian atas dan bawah menggunakan solder sesuai diameter selang. Kedua, siapkan triplek, lalu atur posisi 6 buah botol tersebut sesuai alur sistem peredaran darah sesungguhnya. Selanjutnya, potong busa karet sebanyak 6 bagian sesuai ukuran. Rekatkan semua busa karet pada triplek menggunakan lem kastol, lalu rekatkan semua botol pada busa karet (sebagai tumpuan).

Baca juga:  Asyik Belajar Tekanan dengan Roket Air

Untuk membuat katub, potong ballpoint dan ambil isinya, sisakan pegas dan dudukannya. Masukan gotri hingga gotri terkunci oleh per dan ujung ulir ballpoint sehingga gotri dan per, akan selalu bergerak untuk membuka dan menutup ketika mendapat tekanan. Sambungkan botol satu dengan botol yang lain dengan selang. Alur penyambungan selang sesuaikan dengan alur peredaran darah. Tambahkan lem alteco di penyambungan selang jika terasa longgar. Pasang katub dari ballpoint di antara bilik dan serambi. Pastikan setiap sambungan benar-benar kedap udara dengan menambahkan lem silicon rubber di sekitar sambungan selang. Terakhir, rekatkan selang (pembuluh darah) pada triplek. Campurkan air dengan pewarna merah, lalu masukan air (darah) tersebut ke alat melalui bagian paru-paru atau tubuh. Diamkan replika yang sudah dibuat sampai lem benar-benar kering dan siap digunakan.

Baca juga:  Upaya Pembelajaran pada saat New Normal

Cara kerja replika sistem peredaran darah ini sangat mudah, yaitu siswa dapat menekan katup yang dimulai dari serambi kiri maka secara otomatis katup yang berisi cairan merah (yang diibaratkan darah) akan mengalir ke katup bilik kiri dan dari bilik kiri akan ke seluruh tubuh. Urutan seperti ini disebut peredaran darah besar. Jika dari bilik kiri menuju seluruh tubuh kemudian menuju serambi kanan dilanjutkan ke bilik kanan dilanjutkan ke paru-paru dan diteruskan ke serambi kiri maka ini yang disebut peredaran darah kecil. Guru juga bisa meminta siswa untuk mempraktikkan cara kerja replika sistem peredaran darah dan melakukan konfirmasi terhadap kegiatan yang dilakukan. Dengan simulasi langsung menggunakan replika tersebut, siswa akan mampu memahami materi dan menemukan konsep secara konkrit dan lebih mendalam. (pg1/ida)

Guru SDN 02 Tegalsari

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya