alexametrics

Serunya Pembelajaran Tokoh-Tokoh Sejarah di Indonesia dengan Metode Lomba

Oleh : Siti Nisrokhah, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada umumnya pembelajaran materi sejarah di sekolah dasar, siswa hanya diberikan teks bacaan kemudian disuruh membaca lalu menjawab pertanyaan tertulis selesai. Hal yang demikian itu kurang menarik dan bermakna bagi siswa. Untuk itu penulis mencoba teknik atau metode lain yaitu dengan menggunakan metode kompetisi atau lomba. Pembelajaran IPS kelas lima di SD Negeri 02 Sijeruk tersebut sangat seru dan menarik perhatian semua siswa.

Menurut Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang antara dua individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek yang sama. Metode kompetisi atau lomba adalah metode pembelajaran yang menggunakan cara kompetisi atau perlombaan untuk memotivasi semangat belajar sekaligus mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan siswa.

Metode kompetisi menekankan unsur sportivitas dan semangat pantang menyerah untuk mencapai kemenangan. Kemenangan yang dituju dalam konteks pembelajaran adalah tercapainya target dan tujuan utama dari pendidikan, yaitu peningkatan kecerdasan. Kecerdasan tersebut baik kecerdasan kognitif, kecerdasan motorik, kecerdasan afektif (psiko-emosional), maupun kecerdasan spiritual siswa.
Prinsip dan cara kerja pada dasarnya sederhana. Guru mengadakan lomba/kompetisi untuk materi tokoh-tokoh sejarah pada masa kerajaan di Indonesia yang telah diajarkan pada siswa. Kemudian, siswa mengikuti lomba/kompetisi tersebut. Tujuannya untuk memperoleh kemenangan dan hadiah dari guru.

Baca juga:  Melatih Kepedulian Sosial di Tengah Pandemi dengan Aqiqah dan Kurban

Dari pengadaan lomba ini diharapkan apa yang telah diperoleh siswa selama dalam proses pembelajaran dapat diterapkan dalam dunia nyata. Pengetahuan yang diperoleh juga tidak mudah hilang karena sering diulang dan digunakan. Selain itu, siswa juga dilatih untuk memiliki kemandirian dan rasa percaya diri yang tinggi. Sebab, di samping mampu mengasah semangat sportivitas dan jiwa semangat pantang menyerah dalam diri siswa, model kompetisi juga melatih siswa untuk memiliki sifat sabar, tabah, pemaaf, dan berjiwa besar. Terutama, bagi pihak yang menerima kekalahan.

Pada hakikatnya kekalahan bukan akhir dari segalanya. Bahkan, terkadang dengan kekalahan dapat menumbuhkan semangat juang yang jauh lebih besar dibandingkan memperoleh kemenangan itu sendiri. Sebab, terkadang kemenangan mungkin hanya bersifat sementara dan sesaat. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada seorang pemenang yang selalu menang dalam setiap kompetisi sepanjang sejarah hidupnya. Pasti akan pernah ada saat ketika ia juga memperoleh kekalahan. Setidaknya, seiring berjalannya waktu, pasti akan ada perubahan Perubahan yang menjadi tanda, saat kemenangan menjadi sebuah bukti nyata dari kekalahan yang sesungguhnya. Kesepian dan kesendirian, tanpa rivalitas (pesaing) dan tanpa kebersamaan.

Baca juga:  Metode Example Non-Example Tingkatkan Belajar Perilaku Terpuji

Adapun langkah-langkahnya adalah pertama, guru menyiapkan materi pelajaran tokoh-tokoh sejarah yang akan dilombakan termasuk hadiah bagi pemenang lomba. Siswa mempelajari seluruh materi pelajaran. Kedua, guru membuat aturan dan tata cara lomba. Misalnya siswa yang menang adalah yang berhasil menjawab pertanyaan paling dulu. Ketiga, siswa berkompetisi sesuai aturan dan tata cara lomba yang dibuat guru.

Keempat, kompetisi dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu dalam suasana yang menyenangkan. Kelima, guru memberi hadiah dan penghargaan bagi pemenang kompetisi dan memberi dorongan semangat bagi siswa atau kelompok lain yang belum menang.

Dengan metode lomba ini pembelajaran bersifat menyenangkan karena ada unsur permainan. Pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diujicobakan dan diterapkan dalam dunia nyata. Pengetahuan yang diperoleh juga tidak mudah hilang karena sering diulang dan digunakan. Siswa dilatih untuk memiliki kemandirian dan rasa percaya diri yang tinggi. Mampu mengasah semangat sportivitas dan jiwa pantang menyerah. Melatih siswa untuk memiliki sifat sabar, tabah, pemaaf, dan berjiwa besar terutama bagi pihak yang menderita kekalahan. Melibatkan banyak unsur pendidikan mulai dari kognitif, afeksi, motorik, spiritual, dan keseimbangan lahir batin. (ce3/lis)

Baca juga:  Belajar Mandiri dengan Membuat Kliping IPS

Guru SD Negeri 02 Sijeruk, Sragi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya