alexametrics

Cooperatif Learning Tingkatkan Aktivitas Belajar Peserta Didik

Oleh : Ety Listiyani, SPd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Aspek mendasar dalam dalam pembangunan suatu bangsa adalah pendidikan. Dalam penyelenggaraannya pendidikan di sekolah itu melibatkan guru sebagai pendidik dan anak anak sebagai peserta didik. Dalam proses pembelajaran diperlukan suatu upaya supaya terjadi interaksi belajar mengajar yang mengasyikkan dan tidak membosankan. Beberapa hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yaitu perlunya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Untuk mewujudkannya hal yang penting bagi guru adalah memahami serta memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya sehingga guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi peserta didiknya.

Pemilihan strategi belajar yang tepat dapat meningkatkan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Di sisi lain mampu membawa peserta didik pada situasi yang aktif, menarik, dan tidak membosankan sehingga peserta didik dapat mengembangkan segala kemampuan belajarnya. Proses belajar mengajar dapat bermakna dan berguna bila kita dapat menciptakan suasana belajar yang merangsang aktivitas dan minat belajar peserta didik. Proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar (Sardiman, 2006: 96).

Baca juga:  Aktivitas Pembelajaran IPS Meningkat dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match

Pada pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Pringsurat, Temanggung kelas IX peserta didik merasa kesulitan terutama dalam memahami materi menyajikan teks diskusi. Mereka juga terlihat kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Dan ketika mengikuti pelajaran peserta didik cenderung pasif bahkan mengantuk. Hal ini berdampak pada rendahnya nilai mata pelajaran bahasa Indonesia.

Melihat keadaan tersebut perlu model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik lebih aktif yaitu menggunakan model pembelajaran cooperatif learning. Menurut Etin Solihatin (2007: 4), cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil secara heterogen dengan anggota 4-6 orang. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menekankan aktivitas siswa secara berkelompok. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif akan mendorong terjadinya interaksi secara terbuka antarpeserta didik dalam kelompok belajar tersebut. Dengan model ini peserta didik akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.

Baca juga:  Asyik Belajar IPS Sejarah dengan Model Group Investigation

Pada dasarnya peserta didik selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. Tahap yang kedua menyajikan informasi serta mengorganisasikan siswa ke dalam beberapa kelompok belajar. Tahap ketiga membimbing siswa untuk belajar kelompok. Tahap ke empat melakukan evaluasi dan terakhir memberikan penghargaan.

Dengan menggunakan model pembelajaran cooperatif learning pada pelajaran bahasa Indonesia kelas IX ternyata menunjukkan peningkatan aktivitas belajar peserta didik. Kondisi ini terlihat pada perhatian, aktivitas, komunikasi dan sikap proaktif peserta didik yang dilakukan pada saat pembelajaran. Peserta didik juga menjadi lebih terampil dan percaya diri dalam menyampaikan pendapat dalam berdiskusi. Pada akhirnya peningkatan aktivitas belajar ini juga berdampak pada peningkatan hasil belajar.

Baca juga:  Model Home Visit Lebih Efektif pada Pembelajaran di Masa Pandemi

Hal itu sesuai pendapat Jarolimek & Parker (dalam Isjoni, 2009: 24) bahwa kelebihan pembelajaran dengan menggunakan model cooperatif learning adanya saling ketergantungan yang positif, adanya kemampuan dalam merespon perbedaan individu, peserta didik dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, suasana yang rileks dan menyenangkan. Terjadinya hubungan yang hangat dan bersahabat antarpeserta didik dan guru. Serta memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan. (dm/lis)

Guru SMPN 2 Pringsurat, Kabupaten Temanggung

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya